“Aqidah yang benar dan hal-hal yang menentangnya”

Dimuat dalam Majalah al-Buhuts al-Islamiyyah, edisi ketujuh, terbit pada bulan Rajab, Sya’ban, Ramadhan, dan Syawwal tahun 1403 H. (Majmu‘ Fatawa wa Maqalat Syaikh Ibn Baz, 1/13).

Penulis & Penerjemah: Idzki Arrusman حفظه الله

Amma ba’du. Sesungguhnya karena akidah yang benar adalah pokok agama Islam dan dasar dari seluruh ajaran, maka saya memandang bahwa akidah inilah yang layak dijadikan tema dalam ceramah ini. Telah diketahui berdasarkan dalil-dalil syar’i dari Al-Qur’an dan Sunnah bahwa amal perbuatan dan ucapan hanya sah dan diterima apabila bersumber dari akidah yang benar. Jika akidahnya tidak benar, maka batal pula segala amal dan ucapan yang bersumber darinya.

﴿وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾

“Barang siapa yang kafir kepada iman, maka sungguh amalnya menjadi sia-sia dan di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Ma’idah: 5)

﴿وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu: Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan sia-sia amalmu dan kamu pasti termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Ayat-ayat dalam makna ini sangat banyak. Kitab Allah yang terang dan Sunnah Rasul-Nya yang terpercaya, semoga shalawat dan salam terbaik dari Rabb-Nya tercurah kepadanya, telah menunjukkan bahwa akidah yang benar itu terwujud dalam:

  1. Iman kepada Allah
  2. Malaikat-Nya
  3. Kitab-kitab-Nya
  4. Rasul-rasul-Nya
  5. Hari Akhir
  6. Takdir baik dan buruknya

Inilah enam pokok akidah yang benar yang diturunkan dalam Kitab Allah yang mulia dan diutus dengannya Rasul-Nya Muhammad ﷺ. Dari enam pokok ini bercabang seluruh hal yang wajib diimani dari perkara-perkara gaib dan semua yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Dalil-dalil tentang enam pokok ini dalam Al-Qur’an dan Sunnah sangat banyak. Di antaranya firman Allah:

﴿لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ﴾

“Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu adalah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi.” (QS. Al-Baqarah: 177)

﴿آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ﴾

“Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Mereka mengatakan: ‘Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.’” (QS. Al-Baqarah: 285)

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya serta kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, maka sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’: 136)

﴿أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ﴾

“Tidakkah kamu tahu bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70)

Adapun hadits-hadits shahih yang menunjukkan enam pokok ini sangat banyak. Di antaranya hadits yang masyhur dan shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa Jibril radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi ﷺ tentang iman, maka beliau menjawab:

الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره

“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir baik dan buruknya.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dengan sedikit perbedaan redaksi.

Dari enam pokok ini bercabang seluruh hal yang wajib diyakini oleh seorang muslim tentang hak Allah Ta’ala, tentang perkara akhirat, dan seluruh perkara gaib lainnya.

Termasuk dari keimanan kepada Allah Subhanahu wa Taʿala adalah meyakini bahwa Dia adalah Tuhan yang benar, satu-satunya yang berhak disembah selain segala sesuatu selain-Nya. Karena Dialah yang menciptakan hamba-hamba-Nya, berbuat baik kepada mereka, mencukupi rezeki mereka, mengetahui rahasia dan yang tampak dari mereka, serta berkuasa memberi pahala kepada yang taat dan menghukum yang durhaka. Untuk tujuan ibadah inilah Allah menciptakan jin dan manusia serta memerintahkan mereka untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ۝ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ ۝ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ﴾

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki yang memiliki kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56–58)

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ۝ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ﴾

“Wahai manusia! Sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air dari langit lalu dengan itu Dia mengeluarkan buah-buahan sebagai rezeki bagi kalian. Maka janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21–22)

Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk menjelaskan kebenaran ini, menyeru kepadanya, serta memperingatkan dari segala yang menyelisihinya, sebagaimana firman-Nya:

﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ﴾

“Dan sungguh Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Naḥl: 36)

﴿وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ﴾

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25)

﴿كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ ۝ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ﴾

“Sebuah kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan sempurna, kemudian dijelaskan secara rinci dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. (Yaitu) agar kalian tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira dari-Nya untuk kalian.” (QS. Hud: 1–2)

Hakikat ibadah adalah mengesakan Allah Subhananahu wa Taʿala dalam seluruh bentuk ibadah yang dilakukan oleh hamba, seperti doa, rasa takut, harapan, salat, puasa, penyembelihan, nadzar, dan selainnya, dengan penuh ketundukan, harapan, dan rasa takut, disertai kecintaan yang sempurna kepada-Nya dan kerendahan diri terhadap keagungan-Nya. Sebagian besar Al-Qur’an diturunkan untuk menjelaskan pokok agung ini, seperti firman-Nya:

﴿فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ ۝ أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ﴾

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni.” (QS. Az-Zumar: 2–3)

﴿وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ﴾

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia.” (QS. Al-Isra’: 23)

﴿فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ﴾

“Maka berdoalah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ghafir: 14)

Dalam Shahihain dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا»

“Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”

Termasuk dari keimanan kepada Allah juga adalah beriman kepada seluruh kewajiban yang telah Allah tetapkan atas hamba-hamba-Nya, berupa rukun Islam yang lima, yaitu:

  1. Bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah
  2. Mendirikan salat
  3. Menunaikan zakat
  4. Berpuasa di bulan Ramadan
  5. Menunaikan haji ke Baitullah bagi yang mampu menempuh jalannya

Serta kewajiban-kewajiban lainnya yang datang dalam syariat yang suci. Dan rukun yang paling utama dan agung adalah dua kalimat syahadat: “La ilaha illallah, Muḥammadur Rasulullah.”

Syahadat “La ilaha illallah” mengandung makna: mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata dan menafikan ibadah dari selain-Nya. Inilah makna dari kalimat “La ilaha illallah”, yaitu: tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Maka segala sesuatu yang disembah selain Allah, baik manusia, malaikat, jin, atau selainnya, semuanya adalah sesembahan yang batil. Adapun sesembahan yang benar hanyalah Allah semata, sebagaimana firman-Nya.

﴿ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ﴾

“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah, Dialah yang benar, dan sesungguhnya apa yang mereka sembah selain-Nya adalah batil.” (QS. Al-Hajj: 62)

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Allah Subhanahu wa Taʿala menciptakan jin dan manusia untuk tujuan agung ini, yaitu mentauhidkan-Nya dalam ibadah, dan memerintahkan mereka untuk itu. Dia mengutus para rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya untuk menyampaikan ajaran ini. Maka renungkanlah hal ini dengan sungguh-sungguh dan pikirkanlah dengan dalam, agar engkau memahami betapa banyak kaum muslimin yang terjatuh dalam kebodohan besar terhadap pokok yang agung ini. Mereka justru menyembah selain Allah bersama-Nya, dan mempersembahkan hak eksklusif Allah kepada selain-Nya. Maka hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Termasuk dari keimanan kepada Allah Subhanahu wa Taʿala adalah meyakini bahwa Dia adalah Pencipta alam semesta, Pengatur segala urusan mereka, dan yang mengatur mereka dengan ilmu dan kekuasaan-Nya sesuai kehendak-Nya. Dia adalah Pemilik dunia dan akhirat, Rabb seluruh alam. Tidak ada pencipta selain Dia, dan tidak ada Rabb selain-Nya. Dia mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk memperbaiki keadaan hamba-hamba-Nya dan menyeru mereka kepada keselamatan dan kebaikan di dunia dan akhirat. Dan Dia Subhanahu wa Taʿala tidak memiliki sekutu dalam semua itu.

﴿اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ﴾

“Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar: 62)

﴿إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ﴾

“Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb seluruh alam.” (QS. Al-A’raf: 54)

Termasuk dari keimanan kepada Allah juga adalah beriman kepada nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, sebagaimana yang disebutkan dalam Kitab-Nya yang mulia dan yang sahih dari Rasul-Nya yang terpercaya, tanpa tahrif (penyimpangan makna), ta’thil (penolakan makna), takyif (menanyakan bagaimana), atau tamtsil (penyerupaan). Bahkan wajib menerima sebagaimana datangnya, tanpa menanyakan “bagaimana”, disertai dengan keimanan terhadap makna-makna agung yang terkandung di dalamnya, yang merupakan sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla, yang wajib ditetapkan bagi-Nya dengan cara yang layak bagi-Nya, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya dalam sifat-sifat-Nya.

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

﴿فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾

“Maka janganlah kalian mengadakan perumpamaan-perumpamaan bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Naḥl: 74)

Inilah akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari kalangan para sahabat Rasulullah ﷺ dan para pengikut mereka dengan baik. Inilah pula yang dinukil oleh Imam Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah dalam kitabnya Al-Maqalat dari kalangan Ahlul Hadits dan Ahlus Sunnah, dan juga dinukil oleh selain beliau dari kalangan ulama dan orang-orang beriman.

Al-Awzaʿi rahimahullah berkata: “Az-Zuhri dan Makhuul pernah ditanya tentang ayat-ayat sifat, maka mereka menjawab: ‘Biarkan sebagaimana datangnya.’”

Al-Walid bin Muslim rahimahullah berkata: “Aku bertanya kepada Malik, Al-Awzaʿi, Al-Layth bin Saʿd, dan Sufyan Ats-Tsauri raḥimahumullah tentang hadits-hadits yang berkaitan dengan sifat-sifat (Allah), maka mereka semua menjawab: ‘Biarkan sebagaimana datangnya tanpa menanyakan bagaimana.’”

Al-Awzaʿi juga berkata: “Kami dan para tabiʿin masih banyak mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Taʿala berada di atas ‘Arsy-Nya, dan kami beriman terhadap apa yang datang dalam sunnah tentang sifat-sifat-Nya.”

Ketika Rabiʿah bin Abi ʿAbdir-Rahman, guru dari Imam Malik rahimahullah, ditanya tentang istiwa’, beliau menjawab:

«الاستواء غير مجهول، والكيف غير معقول، ومن الله الرسالة، وعلى الرسول البلاغ المبين، وعلينا التصديق»

“Istiwā’ itu tidaklah asing (maknanya), dan bagaimana caranya tidak dapat dijangkau akal. Dari Allah risalah, atas Rasul menyampaikannya dengan jelas, dan atas kita untuk membenarkannya.”

Ketika Imam Mālik raḥimahullāh ditanya tentang hal itu, beliau menjawab:

«الاستواء معلوم، والكيف مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة»

“Istiwa’ itu maknanya diketahui, bagaimana caranya tidak diketahui, beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.”

Kemudian beliau berkata kepada penanya: “Aku tidak melihatmu kecuali orang yang buruk,” lalu beliau memerintahkan agar orang itu dikeluarkan.

Makna ini juga diriwayatkan dari Ummul Mu’minin, Ummu Salamah radhiyallahu ʿanha.

Imam Abu ʿAbdir-Rahman ʿAbdullah bin Al-Mubarak rahimahullah berkata:

«نعرف ربنا سبحانه بأنه فوق سماواته على عرشه بائن من خلقه»

“Kami mengenal Rabb kami Subhanahu wa Taʿala bahwa Dia berada di atas langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.”

Perkataan para imam dalam bab ini sangat banyak dan tidak mungkin disebutkan seluruhnya dalam ceramah ini. Barang siapa yang ingin mengetahui lebih banyak, hendaknya ia merujuk kepada karya-karya para ulama Ahlus Sunnah dalam bab ini, seperti:

  1. Kitab As-Sunnah karya ʿAbdullah bin Imam Aḥmad
  2. Kitab At-Tawḥid karya Imam besar Muhammad bin Khuzaymah
  3. Kitab As-Sunnah karya Abu Al-Qasim Al-Lalika’i Ath-Ṭabari
  4. Kitab As-Sunnah karya Abu Bakr bin Abi ʿAṣim

Jawaban Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah kepada penduduk Ḥamah, yang merupakan jawaban agung dan penuh manfaat. Dalam jawaban itu beliau menjelaskan akidah Ahlus Sunnah, menukil banyak perkataan mereka, serta menyebutkan dalil-dalil naqli dan aqli atas kebenaran keyakinan Ahlus Sunnah dan batilnya pendapat lawan-lawan mereka.

Demikian pula risalah beliau yang berjudul At-Tadmuriyyah, yang menjelaskan secara rinci akidah Ahlus Sunnah dengan dalil-dalil naqli dan aqli, serta membantah para penentang dengan penjelasan yang menampakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan, bagi siapa saja dari kalangan ahli ilmu yang menelaahnya dengan niat yang baik dan keinginan untuk mengetahui kebenaran.

Barang siapa yang menyelisihi Ahlus Sunnah dalam keyakinan mereka tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, niscaya ia akan terjatuh dalam penyelisihan terhadap dalil-dalil naqli dan aqli, serta akan terjerumus dalam kontradiksi.

Adapun Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka menetapkan bagi Allah Subhanahu wa Taʿala segala yang telah Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam Kitab-Nya yang mulia, atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya Muḥammad ﷺ dalam sunnahnya, dengan penetapan tanpa tamtsil (menyerupakan),dan mereka menyucikan-Nya dari keserupaan dengan makhluk-Nya, dengan penyucian yang bersih dari taʿṭil (penolakan). Maka mereka pun selamat dari kontradiksi dan bertindak berdasarkan seluruh dalil. Inilah sunnah Allah terhadap siapa saja yang berpegang teguh pada kebenaran yang dibawa oleh para rasul-Nya, bersungguh-sungguh dalam mencarinya, dan ikhlas kepada Allah dalam mencarinya, niscaya Allah akan memberinya taufik kepada kebenaran dan menampakkan hujjahnya.

﴿بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ﴾

“Sebenarnya Kami melontarkan kebenaran kepada yang batil, lalu kebenaran itu menghancurkannya, maka dengan serta-merta yang batil itu lenyap.” (QS. Al-Anbiya’: 18)

﴿وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا﴾

“Dan mereka tidak datang kepadamu dengan suatu perumpamaan pun, melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik.” (QS. Al-Furqān: 33)

Al-Hafidz Ibn Katsir rahimahullah menyebutkan dalam tafsir terkenalnya, ketika menafsirkan firman Allah:

﴿إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ﴾

“Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Al-Aʿraf: 54)

Beliau berkata: “Dalam masalah ini terdapat banyak pendapat, namun ini bukan tempat untuk merincinya. Yang kami tempuh dalam hal ini adalah manhaj salaf as-Shalih seperti Malik, Al-Awzaʿi, Ats-Tsauri, Al-Layts bin Saʿd, Asy-Syafiʿi, Ahmad, Ishaq bin Rahawiyah, dan selain mereka dari para imam kaum muslimin dahulu dan sekarang, yaitu: menerima sebagaimana datangnya tanpa takyif, tanpa tasybih (penyerupaan), dan tanpa taʿthil. Makna lahiriah yang terlintas di benak para penyerupa makhluk adalah tertolak dari Allah, karena tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Sebagaimana firman-Nya: ‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.’”

Kemudian beliau (imam Ibnu Katsir) mengutip perkataan para imam, di antaranya Naʿim bin Hammad Al-Khuzaʿi, guru dari Al-Bukhara, yang berkata:

“Barang siapa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia telah kafir. Dan barang siapa menolak sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, maka ia telah kafir. Tidak ada dalam sifat-sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya unsur penyerupaan. Maka barang siapa menetapkan bagi Allah apa yang datang dalam ayat-ayat yang jelas dan hadits-hadits yang sahih, dengan cara yang sesuai dengan keagungan Allah, serta menafikan dari-Nya segala kekurangan, maka sungguh ia telah menempuh jalan petunjuk.”, selesai kutipan dari Ibnu Katsir rahimahullah.

Adapun iman kepada malaikat mencakup: beriman kepada mereka secara global dan terperinci. Seorang muslim meyakini bahwa Allah memiliki malaikat yang diciptakan untuk taat kepada-Nya. Mereka digambarkan sebagai:

﴿عِبَادٌ مُّكْرَمُونَ ۝ لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُم بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ ۝ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ﴾

“Mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak mendahului-Nya dalam perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaat kecuali kepada orang yang diridhai-Nya, dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS. Al-Anbiya’: 26–28)

Mereka terdiri dari berbagai jenis: ada yang ditugaskan membawa ‘Arsy, ada penjaga surga dan neraka, ada pula yang mencatat amal perbuatan manusia. Kita beriman secara terperinci kepada siapa saja yang disebutkan namanya oleh Allah dan Rasul-Nya, seperti Jibril, Mika’il, Malik penjaga neraka, dan Israfil yang bertugas meniup sangkakala.

Dalam hadits sahih dari ʿA’isyah radhiyallahu ʿanha disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ»

“Para malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepada kalian.” (HR. Muslim)

Demikian pula iman kepada kitab-kitab Allah. Wajib diyakini secara global bahwa Allah menurunkan kitab-kitab kepada para nabi dan rasul-Nya untuk menjelaskan kebenaran dan menyeru kepadanya.

﴿لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ﴾

“Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat menegakkan keadilan.” (QS. Al-Hadid: 25)

﴿كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ﴾

“Manusia itu adalah umat yang satu. Maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, dan Dia menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. Al-Baqarah: 213)

Kita beriman secara terperinci kepada kitab-kitab yang disebutkan namanya oleh Allah, seperti: Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kitab yang paling utama dan terakhir, yang menjadi pengawas dan pembenar kitab-kitab sebelumnya. Wajib bagi seluruh umat untuk mengikutinya dan menjadikannya sebagai hukum, bersama dengan sunnah yang sahih dari Rasulullah ﷺ. Karena Allah Subḥānahu.

karena Allah Subhanahu wa Taʿala mengutus Rasul-Nya Muḥammad ﷺ sebagai rasul untuk seluruh jin dan manusia, dan menurunkan Al-Qur’an kepadanya agar dijadikan hukum di antara mereka. Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai penyembuh bagi penyakit hati, penjelas segala sesuatu, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

﴿وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴾

“Dan ini adalah Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan, penuh berkah. Maka ikutilah ia dan bertakwalah agar kalian mendapat rahmat.” (QS. Al-Anʿam: 155)

﴿وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ﴾

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang muslim.” (QS. An-Naḥl: 89

)﴿قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ﴾

“Katakanlah: Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua, (yaitu Allah) yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Tidak ada tuhan selain Dia. Dia menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi, yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya, dan ikutilah dia agar kalian mendapat petunjuk.” (QS. Al-Aʿraf: 158)

Ayat-ayat dalam makna ini sangat banyak.

Demikian pula, wajib beriman kepada para rasul secara global dan terperinci. Kita meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Taʿala mengutus kepada hamba-hamba-Nya para rasul dari kalangan mereka sendiri, sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan, serta penyeru kepada kebenaran. Barang siapa yang menjawab seruan mereka, maka ia beruntung dan bahagia. Dan barang siapa yang menolak mereka, maka ia celaka dan menyesal.

Rasul yang terakhir dan paling utama adalah Nabi kita, Muḥammad bin ʿAbdillah ﷺ.

﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ﴾

“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (yang menyerukan): Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36)

﴿رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ﴾

“(Kami telah mengutus) para rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah diutusnya para rasul.” (QS. An-Nisa’: 165)

﴿مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ﴾

“Muḥammad itu bukanlah bapak dari salah seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Kita beriman secara terperinci kepada siapa saja yang disebutkan namanya oleh Allah atau yang disebutkan secara sahih oleh Rasulullah ﷺ, seperti: Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, dan lainnya  – صلى الله وسلم عليهم وعلى آلهم وأتباعهم –

Adapun iman kepada hari akhir mencakup keimanan terhadap semua yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ tentang apa yang terjadi setelah kematian, seperti fitnah kubur, azab dan nikmatnya, serta peristiwa-peristiwa pada hari kiamat berupa kedahsyatan dan kesulitan, shirat (jembatan), mizan (timbangan), hisab (perhitungan), pembalasan, dan pembagian catatan amal kepada manusia, ada yang menerima dengan tangan kanan, ada yang dengan tangan kiri, dan ada pula dari belakang punggungnya. Termasuk pula keimanan terhadap telaga (haud) yang dijanjikan untuk Nabi kita Muhammad ﷺ, keimanan terhadap surga dan neraka, melihat Allah oleh orang-orang beriman, dan Allah berbicara kepada mereka, serta hal-hal lain yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunnah yang sahih dari Rasulullah ﷺ. Maka wajib mengimani semuanya dan membenarkannya sebagaimana dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Adapun iman kepada takdir (qadar), mencakup empat perkara:

Pertama: Bahwa Allah Subhanahu wa Taʿala mengetahui segala sesuatu yang telah dan akan terjadi. Dia mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya, rezeki mereka, ajal mereka, amal perbuatan mereka, dan seluruh urusan mereka. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.

﴿إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾

“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Anfal: 75)

﴿لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا﴾

“Agar kalian mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan bahwa Allah benar-benar Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Thalaq: 12)

Kedua: Allah telah menuliskan segala sesuatu yang telah ditakdirkan dan ditetapkan-Nya.

﴿قَدْ عَلِمْنَا مَا تَنقُصُ الْأَرْضُ مِنْهُمْ وَعِندَنَا كِتَابٌ حَفِيظٌ﴾

“Sungguh Kami mengetahui apa yang dikurangi oleh bumi dari mereka, dan di sisi Kami ada kitab yang terpelihara.” (QS. Qaf: 4)

﴿وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ﴾

“Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam kitab induk yang jelas.” (QS. Yasin: 12)

﴿أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ﴾

“Tidakkah kamu tahu bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70)

Ketiga: Beriman kepada kehendak Allah yang pasti terlaksana. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.

﴿إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ﴾

“Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj: 18)

﴿إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ﴾

“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka jadilah ia.” (QS. Yasin: 82)

﴿وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ﴾

“Dan kalian tidak dapat menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)

Keempat: Allah menciptakan seluruh makhluk. Tidak ada pencipta selain-Nya dan tidak ada Rabb selain-Nya.

﴿اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ﴾ [الزمر: 62]

“Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar: 62)

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ﴾

“Wahai manusia! Ingatlah nikmat Allah atas kalian. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Tidak ada tuhan selain Dia. Maka mengapa kalian berpaling?” (QS. Faṭhir: 3)

Maka iman kepada takdir mencakup keempat perkara ini menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, berbeda dengan kelompok-kelompok bid’ah yang mengingkari sebagian darinya.

Termasuk dalam iman kepada Allah adalah keyakinan bahwa iman itu adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Tidak boleh mengkafirkan seorang muslim hanya karena melakukan dosa besar selain syirik dan kekufuran, seperti zina, mencuri, memakan riba, meminum minuman keras, durhaka kepada orang tua, dan dosa besar lainnya, selama ia tidak menghalalkannya.

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ﴾

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa’: 48)

Telah sahih dalam hadits-hadits mutawatir dari Rasulullah ﷺ bahwa Allah akan mengeluarkan dari neraka orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari iman.

Termasuk dalam iman kepada Allah adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, loyal karena Allah dan memusuhi karena Allah. Maka seorang mukmin mencintai sesama mukmin dan loyal kepada mereka, serta membenci orang-orang kafir dan memusuhi mereka.

Yang paling utama dari kalangan kaum mukminin umat ini adalah para sahabat Rasulullah ﷺ. Ahlus Sunnah wal Jama’ah mencintai mereka, loyal kepada mereka, dan meyakini bahwa mereka adalah sebaik-baik manusia setelah para nabi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelah mereka, kemudian yang setelah mereka.” (Muttafaqun ‘alaih)

Mereka meyakini bahwa yang paling utama dari para sahabat adalah Abū Bakr Aṣ-Ṣiddīq, kemudian ʿUmar Al-Faruq, kemudian ʿUtsmsn Dzun-Nurain, kemudian ʿAli Al-Murtaḍha rhaḍiyallahu ʿanhum ajmaʿin, kemudian sisa dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, lalu seluruh sahabat lainnya Radhiyallahu ʿanhum ajmaʿin.

Mereka tidak membicarakan perselisihan yang terjadi di antara para sahabat, dan mereka meyakini bahwa para sahabat dalam hal itu adalah orang-orang yang berijtihad. Maka siapa yang benar, ia mendapat dua pahala, dan siapa yang keliru, ia tetap mendapat satu pahala.

Mereka mencintai Ahlul Bait (keluarga Nabi) yang beriman kepada beliau, dan mereka loyal kepada mereka. Mereka juga mencintai istri-istri Rasulullah ﷺ yang merupakan Ummahatul Mu’minin (ibu-ibu kaum mukminin), dan mereka mendoakan keridhaan untuk seluruhnya.

Mereka berlepas diri dari jalan kaum Rafidhah (Syi’ah) yang membenci para sahabat Rasulullah ﷺ, mencaci mereka, dan berlebihan terhadap Ahlul Bait hingga mengangkat mereka melebihi kedudukan yang telah Allah tetapkan. Demikian pula mereka berlepas diri dari jalan kaum Nawasib, yaitu orang-orang yang menyakiti Ahlul Bait dengan ucapan atau perbuatan.

Segala yang telah kami sebutkan dalam uraian ringkas ini termasuk dalam akidah yang benar, yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya, Muḥammad ﷺ. Inilah akidah al-firqah an-najiyah (golongan yang selamat), yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaʿah, yang Nabi ﷺ bersabda tentang mereka:

«لا تزال طائفة من أمتي على الحق منصورة لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله»

“Selalu ada sekelompok dari umatku yang senantiasa berada di atas kebenaran dan mendapatkan pertolongan. Tidak akan membahayakan mereka orang yang mengabaikan mereka, hingga datang ketetapan Allah.” (HR. Muslim)

Dan beliau ﷺ bersabda:

«افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة، وافترقت النصارى على اثنتين وسبعين فرقة، وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة، كلها في النار إلا واحدة»

“Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan, Nasrani menjadi 72 golongan, dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka kecuali satu.”

Para sahabat bertanya: “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:

«من كان على مثل ما أنا عليه وأصحابي»

“Yaitu orang-orang yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.”

Inilah akidah yang wajib dipegang teguh, dijalani dengan istiqamah, dan dijauhi segala yang menyelisihinya.

Adapun orang-orang yang menyimpang dari akidah ini dan menempuh jalan yang berlawanan dengannya, mereka terdiri dari berbagai golongan. Di antaranya adalah para penyembah berhala, patung, malaikat, wali, jin, pohon, batu, dan selainnya. Mereka tidak menerima seruan para rasul, bahkan menentang dan membangkang, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Quraisy dan berbagai kabilah Arab terhadap Nabi kita Muḥammad ﷺ. Mereka meminta kepada sesembahan mereka untuk memenuhi hajat, menyembuhkan penyakit, memberi kemenangan atas musuh, menyembelih dan bernazar untuk mereka.

Ketika Rasulullah ﷺ mengingkari perbuatan mereka dan memerintahkan mereka untuk mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata, mereka merasa heran dan mengingkarinya.

﴿أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ﴾

“Apakah dia hendak menjadikan tuhan-tuhan itu menjadi Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang mengherankan.” (QS. Shad: 5)

Rasulullah ﷺ terus-menerus menyeru mereka kepada Allah, memperingatkan mereka dari syirik, dan menjelaskan hakikat dakwahnya, hingga Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki. Setelah itu mereka masuk Islam secara berbondong-bondong. Maka agama Allah pun menang atas seluruh agama, setelah dakwah yang terus-menerus dan jihad yang panjang dari Rasulullah ﷺ, para sahabatnya radhiyallahu ʿanhum dan para pengikut mereka yang berbuat ihsan.

Namun kemudian keadaan berubah. Kebodohan menguasai mayoritas manusia, hingga kebanyakan dari mereka kembali kepada agama jahiliah, dengan berlebih-lebihan terhadap para nabi dan wali, berdoa dan meminta pertolongan kepada mereka, serta melakukan berbagai bentuk kesyirikan lainnya. Mereka tidak memahami makna “La ilaha illallah” sebagaimana orang-orang kafir Arab dahulu memahaminya. Maka kita hanya bisa memohon pertolongan kepada Allah.

Kesyirikan ini terus menyebar di tengah manusia hingga zaman kita sekarang, karena dominasi kebodohan dan jauhnya masa dari zaman kenabian.

Syubhat orang-orang belakangan ini sama seperti syubhat orang-orang terdahulu, yaitu ucapan mereka:

﴿هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللَّهِ﴾

“Mereka adalah pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18)

﴿مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ﴾

“Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3)

Allah telah membatalkan syubhat ini dan menjelaskan bahwa siapa pun yang menyembah selain-Nya, maka ia telah berbuat syirik dan kufur.

﴿وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللَّهِ﴾

“Mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan mudarat dan tidak pula manfaat bagi mereka, dan mereka berkata: ‘Mereka adalah pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah.’” (QS. Yunus: 18)

﴿قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾

“Katakanlah: Apakah kalian hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan di bumi? Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Yunus: 18)

﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ﴾

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain-Nya (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’” (QS. Az-Zumar: 3)

﴿إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾ [الزمر: 3]

“Sesungguhnya Allah akan memberi keputusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3)

Dengan ayat-ayat ini, Allah menjelaskan bahwa menyembah selain-Nya dengan doa, rasa takut, harapan, dan semisalnya adalah kekufuran kepada-Nya. Allah mendustakan klaim mereka bahwa sesembahan mereka dapat mendekatkan mereka kepada-Nya.

Termasuk dalam akidah-akidah kufur yang bertentangan dengan akidah yang benar dan menyelisihi ajaran para rasul adalah keyakinan para ateis di zaman ini dari kalangan pengikut Marx, Lenin, dan selain mereka, dari para penyeru ateisme dan kekufuran. Baik mereka menamainya sosialisme, komunisme, ba’tsisme, atau nama lainnya, pokok ajaran mereka adalah: tidak ada Tuhan, hidup hanyalah materi. Mereka juga mengingkari hari kebangkitan, surga dan neraka, serta mengingkari seluruh agama. Siapa yang membaca buku-buku mereka dan mempelajari ajaran mereka akan mengetahuinya dengan pasti.

Tidak diragukan lagi bahwa akidah ini bertentangan dengan seluruh agama samawi dan akan menyeret penganutnya kepada akibat paling buruk di dunia dan akhirat.

Termasuk pula dalam akidah yang menyimpang adalah keyakinan sebagian kaum sufi bahwa sebagian orang yang mereka sebut sebagai wali memiliki andil dalam pengaturan alam semesta, dan ikut campur dalam urusan dunia. Mereka menyebut mereka dengan istilah seperti: al-aqthab (kutub), al-awtad (tiang-tiang bumi), al-aghwaṯs (penolong), dan nama-nama lain yang mereka ciptakan untuk sesembahan mereka. Ini adalah bentuk syirik dalam rubūbiyyah yang paling buruk, bahkan lebih parah dari syiriknya orang-orang Arab jahiliah. Karena orang-orang Arab dahulu tidak menyekutukan Allah dalam rububiyyah (pengaturan dan penciptaan), melainkan mereka menyekutukan-Nya dalam ibadah. Bahkan kesyirikan mereka hanya terjadi dalam keadaan lapang, sedangkan dalam keadaan genting mereka mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah.

﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾

“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Namun ketika Dia menyelamatkan mereka ke daratan, mereka kembali menyekutukan-Nya.” (QS. Al-ʿAnkabut: 65)

Adapun dalam hal rububiyyah, mereka mengakuinya hanya untuk Allah semata.

﴿وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ﴾

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapa yang menciptakan mereka?’ Niscaya mereka akan menjawab: ‘Allah.’” (QS. Az-Zukhruf: 87)

﴿قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾

“Katakanlah: ‘Siapa yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapa yang memiliki pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Katakanlah: ‘Maka mengapa kalian tidak bertakwa?’” (QS. Yunus: 31)

Ayat-ayat dalam makna ini sangat banyak.

Adapun kaum musyrik belakangan, mereka menambah kesyirikan atas kaum musyrik terdahulu dari dua sisi:

Pertama, sebagian mereka melakukan syirik dalam rububiyyah (pengaturan dan penciptaan).

Kedua, mereka berbuat syirik baik dalam keadaan lapang maupun sempit.

Hal ini diketahui oleh siapa saja yang bergaul dengan mereka, meneliti keadaan mereka, dan melihat apa yang mereka lakukan di makam Al-Husain dan Al-Badawi di Mesir, makam Al-ʿAidarus di Aden, Al-Hadi di Yaman, Ibn ʿAraba di Syam, dan Syaikh ʿAbdul Qadir Al-Jailani di Irak, serta makam-makam terkenal lainnya yang diagungkan oleh orang awam, hingga mereka mempersembahkan banyak hak Allah kepada selain-Nya.

Sedikit sekali orang yang mengingkari perbuatan mereka dan menjelaskan kepada mereka hakikat tauhid yang dengannya Allah mengutus Nabi-Nya Muḥammad ﷺ dan para rasul sebelumnyaʿalayhim as-Shalatu wassalam. Maka kita hanya bisa berkata: Inna lillahi wa inna ilayhi rajiʿun.

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Taʿala agar mengembalikan mereka kepada jalan yang benar, memperbanyak di tengah mereka para penyeru kepada petunjuk, dan memberi taufik kepada para pemimpin dan ulama kaum muslimin untuk memerangi kesyirikan ini dan memberantas sebab-sebabnya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat.

Termasuk dalam akidah-akidah yang bertentangan dengan akidah yang benar dalam bab nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah akidah para ahli bid’ah seperti Jahmiyyah, Muʿtazilah, dan siapa saja yang mengikuti jalan mereka dalam menolak sifat-sifat Allah dan menafikan dari-Nya sifat-sifat kesempurnaan. Mereka justru menyifati Allah dengan sifat benda mati, hal yang mustahil, dan hal yang tidak ada. Mahatinggi Allah dari ucapan mereka dengan ketinggian yang agung.

Termasuk pula dalam hal ini adalah siapa saja yang menolak sebagian sifat dan menetapkan sebagian lainnya, seperti kelompok Asyaʿirah. Karena mereka terjerumus dalam kontradiksi: apa yang mereka tetapkan dari sifat-sifat Allah menuntut mereka untuk menetapkan pula sifat-sifat yang mereka tolak. Mereka menakwilkan dalil-dalilnya, sehingga menyelisihi dalil-dalil samʿiyyah (wahyu) dan ʿaqliyyah (akal), dan jatuh dalam kontradiksi yang nyata.

Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaʿah, mereka menetapkan bagi Allah segala yang telah Dia tetapkan bagi diri-Nya atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya Muhammad ﷺ dari nama-nama dan sifat-sifat dengan kesempurnaan, serta menyucikan-Nya dari keserupaan dengan makhluk-Nya, dengan penyucian yang bersih dari unsur penolakan. Mereka berpegang pada seluruh dalil, tidak menyimpangkan dan tidak menolak, sehingga mereka selamat dari kontradiksi yang menimpa selain mereka, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Inilah jalan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Inilah jalan lurus yang ditempuh oleh salaf umat ini dan para imamnya. Dan tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah membuat generasi awalnya menjadi baik, yaitu: mengikuti Kitab (Qur’an) dan Sunnah serta meninggalkan segala yang menyelisihinya.

والله ولي التوفيق، وهو سبحانه حسبنا ونعم الوكيل، ولا حول ولا قوة إلا به، وصلى الله وسلم على عبده ورسوله نبينا محمد وآله وصحبه

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *