Hubungi Kami
halo@naffaah.com

Penulis & Penerjemah: Ustadz Idzki Arrusman حفظه الله
Dari ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz kepada saudara yang mulia -semoga Allah menjaganya dan melimpahkan taufik-Nya kepadanya.
Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Amma ba‘d:
Surat Anda yang mulia, tertanggal 23/3/1386 H, telah sampai -semoga Allah mendatangkanmu kepada hidayah-Nya. Apa yang Anda sampaikan tentang pertanyaan mengenai sebagian khatib Jumat yang menganjurkan untuk “bersifat dengan sifat-sifat Allah” dan “berakhlak dengan akhlak-Nya”, apakah ada maknanya dan apakah ada ulama yang pernah mengatakannya… dan seterusnya, semuanya telah diketahui.;
Jawabannya:
secara redaksi, ungkapan tersebut memang kurang tepat, namun secara makna masih bisa dimaklumi. Maksudnya adalah mendorong kita untuk meneladani sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya yang mulia, sesuai dengan kadar yang layak bagi manusia. Tentu saja, ini hanya berlaku untuk sifat-sifat yang memang pantas diteladani oleh makhluk, seperti ilmu, kekuatan dalam menegakkan kebenaran, kasih sayang, kesabaran, kemurahan hati, kedermawanan, dan pemaaf.
Adapun sifat-sifat yang khusus bagi Allah, seperti Al-Khaliq (Maha Pencipta), Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki), Al-Ilah (Tuhan), dan semisalnya, maka itu tidak mungkin dimiliki oleh makhluk dan tidak boleh diaku-aku.
Allah ﷻ berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syura: 11)
Maka, sifat-sifat Allah jauh lebih sempurna dan agung dibandingkan dengan sifat makhluk. Tidak ada perbandingan antara keduanya. Manusia hanya bisa memiliki bagian dari makna sifat-sifat tersebut dalam kadar yang sesuai dengan batasan syariat. Misalnya, jika seseorang terlalu dermawan hingga melampaui batas, ia bisa jatuh pada sikap boros. Jika terlalu penyayang hingga mengabaikan hukum dan sanksi syar’i, itu pun tidak benar. Begitu juga dengan sifat pemaaf, jika tidak pada tempatnya, bisa menjadi kelemahan.
Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa meneladani sifat-sifat Allah harus dalam batas yang dibenarkan syariat.
Al-‘Allamah Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan hal ini dalam beberapa kitabnya, seperti ‘Uddatus Sabirin, al-Wabil as-Sayyib, dan kemungkinan juga dalam Madarijus Salikan serta Zadul Ma‘ad. Berikut kutipan dari dua kitab tersebut:
Dalam ‘Uddatush Shabirin halaman 310, beliau berkata:
“ولما كان سبحانه هو الشكور على الحقيقة، كان أحب خلقه إليه من اتصف بصفة الشكر، كما أن أبغض خلقه إليه من عطلها، أو اتصف بضدها، وهذا شأن أسمائه الحسنى، أحب خلقه إليه من اتصف بموجبها، وأبغضهم إليه من اتصف بأضدادها، ولهذا يبغض الكافر والظالم والجاهل، والقاسي القلب والبخيل والجبان، والمهين واللئيم، وهو سبحانه جميل يحب الجمال، عليم يحب العلماء، رحيم يحب الراحمين، محسن يحب المحسنين، ستير يحب أهل الستر، قادر يلوم على العجز، والمؤمن القوي أحب إليه من المؤمن الضعيف، فهو عفو يحب العفو، وتر يحب الوتر، وكلما يحبه فهو من آثار أسمائه وصفته وموجبها، وكلما يبغضه فهو مما يضادها وينافيها.”
“Karena Allah adalah Asy-Syakur (Maha Mensyukuri) yang sejati, maka makhluk yang paling dicintai-Nya adalah yang memiliki sifat syukur. Sebaliknya, yang paling dibenci-Nya adalah mereka yang tidak memiliki sifat itu atau justru memiliki lawannya. Demikian pula dengan nama-nama-Nya yang indah (asma’ul husna), makhluk yang paling dicintai-Nya adalah yang memiliki konsekuensi dari nama-nama itu, dan yang paling dibenci-Nya adalah yang memiliki sifat-sifat yang bertentangan dengannya. Karena itu, Dia membenci orang kafir, zalim, bodoh, keras hati, kikir, pengecut, hina, dan rendah. Dia Maha Indah dan mencintai keindahan, Maha Mengetahui dan mencintai orang berilmu, Maha Penyayang dan mencintai orang penyayang, Maha Dermawan dan mencintai orang dermawan, Maha Menutupi aib dan mencintai orang yang menutupi aib, Maha Kuasa dan mencela kelemahan. Mukmin yang kuat lebih dicintai-Nya daripada mukmin yang lemah. Dia Maha Pemaaf dan mencintai pemaaf, Maha Tunggal dan mencintai yang ganjil. Segala yang dicintai-Nya adalah buah dari nama dan sifat-Nya, dan segala yang dibenci-Nya adalah lawan dari sifat-sifat itu.”
Dalam Al-Wabil aṣh-Ṣhayyib halaman 43, beliau juga berkata:
“والجود من صفات الرب جل جلاله، فإنه يعطي ولا يأخذ، ويطعم ولا يطعم، وهو أجود الأجودين، وأكرم الأكرمين، وأحب الخلق إليه من اتصف بمقتضيات صفاته، فإنه كريم يحب الكرماء من عباده، وعالم يحب العلماء، وقادر يحب الشجعان، وجميل يحب الجمال.”
“Kedermawanan adalah salah satu sifat Allah Jalla Jalaluh. Dia memberi tanpa meminta balasan, memberi makan tanpa diberi makan. Dia adalah yang paling dermawan dan paling mulia. Makhluk yang paling dicintai-Nya adalah yang mencerminkan sifat-sifat-Nya. Dia mencintai hamba-hamba-Nya yang dermawan, mencintai orang-orang berilmu (ulama), mencintai orang-orang pemberani, dan mencintai keindahan.”
Saya berharap penjelasan ini cukup dan bermanfaat. Semoga Allah memberikan kita semua pemahaman dalam agama-Nya dan kekuatan untuk menunaikan hak-hak-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. 1
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.