Hubungi Kami
halo@naffaah.com

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah bin Baaz رحمه الله
Penulis & Penerjemah: Ustadz Idzki Arrusman حفظه الله
Dari Abdulaziz bin Abdullah bin Baz
Kepada yang terhormat saudara yang mulia, Dr. M. A. H. سلمه الله.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, amma ba’du:
Saya merujuk kepada surat Anda yang di dalamnya disebutkan:
Kami mohon dari Fadhilatusy Syaikh untuk menjelaskan makna ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ
“Dan Dia-lah Allah (yang disembah) di langit dan di bumi. Dia mengetahui rahasia kalian dan yang kalian tampakkan, dan Dia mengetahui apa yang kalian usahakan.”(QS. Al-An‘am: 3)
وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung.” (QS. Al-Baqarah: 255)
وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَٰهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَٰهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ
“Dan Dia-lah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi. Dan Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Az-Zukhruf: 84)
مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ …َةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidaklah ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tidak (pula) antara lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tidak (pula) kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Mujadilah: 7)
Dan hadits jariyah yang diriwayatkan oleh Muslim, ketika Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya:
أين الله؟
“Di mana Allah?”
فقالت: “في السماء”
Ia menjawab: “Di langit.”
وقال لها: “من أنا؟”
Beliau bertanya: “Siapa aku?”
قالت: “رسول الله”
Ia menjawab: “Rasulullah.”
قال الرسول ﷺ: “أعتقها فإنها مؤمنة
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Merdekakan dia, karena dia seorang mukminah.”
Kami mohon penjelasan makna ayat-ayat Al-Qur’an yang mulia ini, dan penjelasan makna hadits Rasulullah ﷺ kepada jariyah tersebut.
Saya sampaikan kepada Anda bahwa makna umum dari ayat-ayat Al-Qur’an yang mulia dan hadits Nabi ﷺ yang agung adalah menunjukkan keagungan Allah Subhanahu wa Ta‘ala, ketinggian-Nya di atas makhluk-Nya, keesaan-Nya sebagai Tuhan bagi seluruh makhluk, serta keluasan ilmu-Nya yang mencakup segala sesuatu, baik besar maupun kecil, rahasia maupun terang-terangan. Ayat-ayat ini juga menunjukkan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu dan menafikan segala bentuk kelemahan dari-Nya Subhanahu wa Ta‘ala.
Adapun makna khususnya, maka firman Allah Ta‘ala:
وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
“Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.” (QS. Al-Baqarah: 255)
Di dalamnya terdapat penegasan tentang kebesaran kursi dan keluasan cakupannya, yang juga menunjukkan keagungan Penciptanya Subḥānahu dan kesempurnaan kekuasaan-Nya.
Dan firman-Nya:
وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung.” (QS. Al-Baqarah: 255)
Maknanya: menjaga langit dan bumi serta seluruh makhluk yang ada di dalamnya dan di antara keduanya tidak memberatkan dan tidak menyusahkan-Nya. Bahkan hal itu mudah dan ringan bagi-Nya. Dia-lah yang mengurus setiap jiwa atas apa yang diperbuatnya, Maha Mengawasi segala sesuatu, tidak ada satu pun yang luput dari pengawasan-Nya, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Segala sesuatu di hadapan-Nya adalah kecil, tunduk, hina, dan sangat bergantung kepada-Nya. Dia Maha Kaya, Maha Terpuji, berbuat sesuai kehendak-Nya, tidak ditanya atas apa yang Dia lakukan, sedangkan mereka akan ditanya. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Menghitung segala sesuatu, Maha Mengawasi, Maha Tinggi, Maha Agung. Tidak ada Tuhan selain Dia dan tidak ada Rabb selain-Nya.
Firman-Nya:
وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ
“Dan Dia-lah Allah (yang disembah) di langit dan di bumi. Dia mengetahui rahasia kalian dan yang kalian tampakkan, dan Dia mengetahui apa yang kalian usahakan.” (QS. Al-An‘am: 3)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah adalah Tuhan yang diseru dan disembah di langit dan di bumi. Penduduk langit dan bumi menyembah-Nya, mengesakan-Nya, dan mengakui keilahian-Nya. Mereka menyebut-Nya Allah dan berdoa kepada-Nya dengan penuh harap dan takut, kecuali mereka yang kafir dari kalangan jin dan manusia. Ayat ini juga menunjukkan keluasan ilmu Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan pengawasan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, serta pengetahuan-Nya terhadap apa yang mereka kerjakan, baik secara rahasia maupun terang-terangan. Maka rahasia dan terang itu sama saja bagi-Nya. Dia menghitung semua amal perbuatan hamba-hamba-Nya, baik yang baik maupun yang buruk.
Firman-Nya:
وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَٰهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَٰهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ
“Dan Dia-lah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi. Dan Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Az-Zukhruf: 84)
Maknanya: bahwa Dia Subḥānahu adalah Tuhan bagi siapa yang di langit dan Tuhan bagi siapa yang di bumi. Penduduk langit dan bumi menyembah-Nya, semuanya tunduk kepada-Nya, hina di hadapan-Nya, kecuali orang yang dikuasai oleh kesengsaraan sehingga ia kafir kepada Allah dan tidak beriman kepada-Nya. Dia-lah Yang Maha Bijaksana dalam syariat dan takdir-Nya, Maha Mengetahui seluruh amal perbuatan hamba-hamba-Nya Subḥānahu.
Firman-Nya:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidaklah ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tidak pula antara lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tidak pula kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Mujadilah: 7)
Maknanya: bahwa Dia Subhanahu mengetahui seluruh hamba-Nya di mana pun mereka berada. Dia mendengar ucapan mereka, rahasia mereka, dan bisikan mereka. Dia mengetahui amal perbuatan mereka. Para malaikat-Nya yang mulia, para pencatat yang menjaga, juga mencatat apa yang mereka bisikkan, di samping ilmu dan pendengaran Allah terhadap semuanya.
Adapun makna “ma‘iyyah” (kebersamaan) yang disebutkan dalam ayat ini menurut Ahlus Sunnah wal Jama‘ah adalah: kebersamaan dalam ilmu-Nya Subhanahu wa Ta‘ala. Dia bersama mereka dengan ilmu-Nya, meliputi mereka, penglihatan-Nya menembus mereka. Dia Subhanahu wa Ta‘ala mengetahui makhluk-Nya, tidak ada sesuatu pun dari urusan mereka yang tersembunyi dari-Nya, meskipun Dia Subḥānahu berada di atas seluruh makhluk, beristiwa di atas ‘Arsy-Nya dengan istiwa’ yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Dia tidak menyerupai makhluk-Nya dalam satu pun dari sifat-sifat-Nya, sebagaimana firman-Nya:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syara: 11)
Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat seluruh amal yang mereka lakukan di dunia, karena Dia Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Meliputi segala sesuatu, Maha Mengetahui yang gaib. Tidak ada yang tersembunyi dari ilmu-Nya seberat zarrah pun di langit maupun di bumi, tidak pula yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar, melainkan semuanya tercatat dalam Kitab yang nyata.
Adapun hadits tentang jariyah (budak perempuan) yang tuannya ingin memerdekakannya sebagai kafarat atas perbuatannya yang memukulnya, lalu Nabi ﷺ bertanya kepadanya: “Di mana Allah?” Ia menjawab: “Di langit.” Beliau bertanya: “Siapa aku?” Ia menjawab: “Rasulullah.” Maka beliau bersabda: “Merdekakan dia, karena dia seorang mukminah.” Hadits ini menunjukkan bahwa keyakinan akan ketinggian Allah di atas makhluk-Nya dan pengakuan terhadap kerasulan Nabi ﷺ adalah tanda keimanan.
Inilah ringkasan makna dari apa yang Anda tanyakan. Seorang muslim wajib mengikuti jalan Ahlus Sunnah wal Jama‘ah dalam memahami ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan nama dan sifat Allah, yaitu dengan mengimaninya, meyakini kebenarannya, dan menetapkannya bagi Allah sebagaimana layaknya bagi-Nya, tanpa menyimpangkan makna, tanpa menolak, tanpa membayangkan bentuknya, dan tanpa menyerupakan dengan makhluk.
Inilah jalan yang benar yang ditempuh oleh para salafus shalih dan mereka sepakat atasnya. Seorang muslim yang ingin selamat hendaknya menjauhi hal-hal yang mendatangkan murka Allah dan tidak mengikuti jalan orang-orang sesat yang menakwilkan atau menolak sifat-sifat Allah. Mahasuci Allah dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zalim dan bodoh.
Kami lampirkan untuk Anda salinan dari kitab al-‘Aqidah al-Washitiyyah karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah dan penjelasannya oleh Syaikh Muhammad Khalil al-Harras, karena di dalamnya terdapat pembahasan yang luas tentang topik yang Anda tanyakan.
Kami memohon kepada Allah agar menganugerahkan kepada kita semua ilmu yang bermanfaat dan kemampuan untuk mengamalkannya, serta memberikan taufik kepada kita semua untuk meraih keridhaan-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.1
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.