Hubungi Kami
halo@naffaah.com
Penulis & Penerjemah: Ustadz Idzki Arrusman حفظه الله

Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti petunjuknya. Amma ba’du:
Telah berulang kali diajukan pertanyaan dari banyak orang mengenai hukum merayakan Maulid Nabi ﷺ, berdiri untuknya saat perayaan tersebut, mengucapkan salam kepadanya, dan hal-hal lain yang dilakukan dalam perayaan maulid.
Maka jawabannya adalah: Tidak diperbolehkan merayakan Maulid Rasul ﷺ maupun selainnya, karena hal itu termasuk bid’ah yang diada-adakan dalam agama. Sebab Rasul ﷺ tidak melakukannya, begitu pula para khalifahnya yang mendapat petunjuk, para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum, dan para tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik di abad-abad utama. Mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui tentang sunnah, paling sempurna cintanya kepada Rasulullah ﷺ, dan paling taat dalam mengikuti syariatnya dibandingkan orang-orang setelah mereka.
Telah tetap dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
مَن أَحْدَثَ في أَمْرِنَا هذا ما ليسَ فِيهِ، فَهو رَدٌّ
“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.”
Dalam hadits lain beliau bersabda:
فعليكم بسُنَّتي وسُنَّةِ الخُلَفاءِ الرَّاشِدينَ المَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عليها بالنَّواجِذِ، وإيَّاكم ومُحدَثاتِ الأُمورِ؛ فإنَّ كُلَّ بِدعةٍ ضَلالةٌ
“Hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk setelahku. Peganglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham. Waspadalah terhadap perkara-perkara baru (dalam agama), karena setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”
Dalam dua hadits ini terdapat peringatan keras dari mengada-adakan bid’ah dan mengamalkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.” [Al-Hasyr: 7]
Dan firman-Nya:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih.” [An-Nur: 63]
Dan firman-Nya:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [Al-Ahzab: 21]
Dan firman-Nya:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” [At-Taubah: 100]
Dan firman-Nya:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” [Al-Ma’idah: 3]
Ayat-ayat dalam makna ini sangat banyak. Mengadakan perayaan maulid seperti ini mengandung pengertian bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala belum menyempurnakan agama ini untuk umat ini, dan bahwa Rasul ﷺ belum menyampaikan apa yang seharusnya diamalkan oleh umat, hingga datang orang-orang belakangan dan mengada-adakan dalam syariat Allah sesuatu yang tidak diizinkan-Nya, dengan anggapan bahwa hal itu mendekatkan mereka kepada Allah. Ini jelas merupakan bahaya besar dan bentuk keberatan terhadap Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Padahal Allah telah menyempurnakan agama-Nya bagi hamba-hamba-Nya dan menyempurnakan nikmat-Nya atas mereka.
Rasul ﷺ telah menyampaikan risalah dengan jelas, tidak meninggalkan jalan yang mengantarkan ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah beliau jelaskan kepada umatnya. Sebagaimana telah tetap dalam hadits shahih dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
ما بعثَ اللَّهُ من نبيٍّ إلَّا كانَ حقًّا عليْهِ أن يدلَّ أمَّتَهُ على خيرِ ما يعلمُهُ لَهم وينْهاهُم عن شرِّ ما يعلمُهُ لَهم
“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun melainkan menjadi kewajiban atasnya untuk menunjukkan kepada umatnya kebaikan yang diketahuinya bagi mereka, dan memperingatkan mereka dari keburukan yang diketahuinya bagi mereka.” (HR. Muslim)
Sudah diketahui bahwa Nabi kita ﷺ adalah sebaik-baik nabi, penutup para nabi, dan paling sempurna dalam menyampaikan risalah dan menasihati. Maka seandainya perayaan maulid termasuk agama yang diridhai Allah, niscaya Rasul ﷺ akan menjelaskannya kepada umat, atau melakukannya semasa hidupnya, atau dilakukan oleh para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Karena tidak terjadi hal tersebut, maka diketahui bahwa itu bukan bagian dari Islam, melainkan termasuk perkara yang diada-adakan yang telah diperingatkan oleh Rasul ﷺ kepada umatnya, sebagaimana telah disebutkan dalam dua hadits sebelumnya.
Terdapat pula hadits-hadits lain yang semakna, seperti sabda beliau ﷺ dalam khutbah Jumat:
أما بعدُ، فإن خيرَ الحديثِ كتابُ اللهِ وخيرَ الهديِ هديُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ وشرَّ الأمورِ محدثاتُها وكلَّ بدعةٍ ضلالةٌ[ورد بزيادةٍ]: وكلَّ ضلالةٍ في النارِ
“Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim)
Ayat-ayat dan hadits-hadits dalam bab ini sangat banyak. Sekelompok ulama telah secara tegas mengingkari perayaan maulid dan memperingatkan darinya, berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan dan lainnya. Namun sebagian ulama belakangan membolehkannya jika tidak mengandung kemungkaran, seperti berlebihan dalam memuji Rasulullah ﷺ, percampuran laki-laki dan perempuan, penggunaan alat musik, dan lain-lain yang ditolak oleh syariat yang suci. Mereka mengira bahwa itu termasuk bid’ah hasanah.
Padahal kaidah syar’i menyatakan: Mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya Muhammad ﷺ, sebagaimana firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri di antara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [An-Nisa: 59]
Dan firman-Nya:
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ
“Tentang apa pun yang kalian perselisihkan, maka keputusannya (dikembalikan) kepada Allah.” [Asy-Syura: 10]
Kami telah mengembalikan masalah ini, yaitu perayaan maulid kepada Kitab Allah, dan kami dapati bahwa Allah memerintahkan kita untuk mengikuti Rasul ﷺ dalam apa yang beliau bawa, dan memperingatkan kita dari apa yang beliau larang, serta memberitahu bahwa Allah telah menyempurnakan agama ini untuk umat ini. Dan perayaan ini bukanlah termasuk apa yang dibawa oleh Rasul ﷺ, maka itu bukan bagian dari agama yang telah disempurnakan oleh Allah untuk kita, dan yang diperintahkan kepada kita untuk mengikuti Rasul di dalamnya.
Kami juga telah mengembalikannya kepada Sunnah Rasul ﷺ, dan kami tidak mendapati bahwa beliau melakukannya, tidak pula memerintahkannya, dan tidak pula dilakukan oleh para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Maka kami mengetahui bahwa itu bukan bagian dari agama, melainkan termasuk bid’ah yang diada-adakan, dan termasuk bentuk penyerupaan dengan Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani dalam hari-hari raya mereka.
Dengan demikian, menjadi jelas bagi siapa saja yang memiliki sedikit saja bashirah (ketajaman hati), keinginan terhadap kebenaran, dan keadilan dalam mencarinya, bahwa perayaan maulid bukanlah bagian dari agama Islam, melainkan termasuk bid’ah yang diada-adakan, yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ untuk ditinggalkan dan dijauhi.
Dan tidak sepantasnya bagi orang yang berakal untuk tertipu dengan banyaknya orang yang melakukannya di berbagai negeri, karena kebenaran tidak diukur dengan banyaknya pelaku, tetapi dikenal melalui dalil-dalil syar’i. Sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani:
وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Dan mereka berkata: ‘Tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang beragama Yahudi atau Nasrani.’ Itu hanyalah angan-angan mereka. Katakanlah: ‘Tunjukkan bukti kalian jika kalian orang-orang yang benar.’” [Al-Baqarah: 111].
Dan firman-Nya:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” [Al-An’am: 116].
Kemudian, kebanyakan perayaan maulid ini, selain merupakan bid’ah, tidak lepas dari mengandung kemungkaran-kemungkaran lain, seperti percampuran antara laki-laki dan perempuan, penggunaan lagu dan alat musik, minuman keras dan narkotika, serta berbagai keburukan lainnya. Bahkan bisa terjadi sesuatu yang lebih besar dari itu, yaitu syirik akbar, seperti berlebihan dalam memuliakan Rasulullah ﷺ atau wali lainnya, berdoa dan meminta pertolongan kepadanya, memohon bantuan darinya, meyakini bahwa ia mengetahui hal gaib, dan semacamnya dari perkara-perkara kekufuran yang dilakukan banyak orang saat merayakan maulid Nabi ﷺ atau maulid orang-orang yang mereka sebut sebagai wali.
Telah sahih dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda:
إياكم والغلوَّ في الدينِ فإنما أهلَك مَن كان قبلَكم الغلوُّ في الدينِ
“Jauhilah sikap berlebihan dalam agama, karena sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah sikap berlebihan dalam agama.”
Dan beliau bersabda:
لا تطرُوني كما أطرتِ النصارَى ابنَ مريمَ إنما أنا عبدٌ فقولوا عبدُ اللهِ ورسولُه
“Janganlah kalian memujiku secara berlebihan sebagaimana orang-orang Nasrani memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dari Umar radhiyallahu ‘anhu).
Termasuk hal yang mengherankan dan aneh adalah banyak orang yang bersemangat dan bersungguh-sungguh menghadiri perayaan-perayaan bid’ah ini, membelanya, namun mereka justru meninggalkan kewajiban yang Allah tetapkan atas mereka berupa menghadiri salat Jumat dan salat berjamaah. Mereka tidak merasa bersalah, bahkan tidak menganggap itu sebagai kemungkaran besar. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini menunjukkan lemahnya iman, kurangnya pemahaman, dan banyaknya dosa dan maksiat yang menutupi hati. Kita memohon keselamatan kepada Allah bagi kita dan seluruh kaum muslimin.
Di antara hal itu juga: sebagian orang menyangka bahwa Rasulullah ﷺ hadir dalam perayaan maulid, oleh karena itu mereka berdiri menyambut dan memuliakannya. Ini adalah kebatilan yang besar dan kebodohan yang sangat buruk. Sesungguhnya Rasul ﷺ tidak keluar dari kuburnya sebelum hari kiamat, tidak berhubungan dengan siapa pun dari manusia, dan tidak menghadiri pertemuan mereka. Beliau tetap berada di kuburnya hingga hari kiamat, sementara ruh beliau berada di tempat tertinggi di sisi Rabb-nya di negeri kemuliaan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surah Al-Mu’minun:
ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ * ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ
“Kemudian sesungguhnya kamu sesudah itu benar-benar akan mati. Kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan dibangkitkan.” [Al-Mu’minun: 15–16].
Dan sabda Nabi ﷺ:
أنا سيدُ ولدِ آدمَ ولا فخر وأنا أولُ من تنشقُّ الأرضُ عنه يومَ القيامةِ ولا فخر وأنا أولُ شافعٍ وأولُ مشفَّعٍ
“Aku adalah orang pertama yang dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat, dan aku adalah orang pertama yang memberi syafaat dan yang diterima syafaatnya.”
Semoga shalawat dan salam terbaik dari Rabb-nya tercurah kepada beliau.
Maka ayat mulia ini, hadits yang mulia, dan ayat-ayat serta hadits-hadits lain yang semakna menunjukkan bahwa Nabi ﷺ dan orang-orang yang telah wafat lainnya hanya akan keluar dari kubur mereka pada hari kiamat. Ini adalah perkara yang telah disepakati oleh para ulama kaum muslimin, tidak ada perselisihan di antara mereka. Maka setiap muslim hendaknya memperhatikan hal ini dan berhati-hati dari apa yang diada-adakan oleh orang-orang bodoh dan semisal mereka berupa bid’ah dan khurafat yang tidak pernah Allah turunkan keterangan tentangnya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan, kepada-Nya kita bersandar, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya.
Adapun bershalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ, maka itu termasuk amalan yang paling utama dan termasuk amal saleh. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” [Al-Ahzab: 56].
Dan sabda Nabi ﷺ:
مَن صلى عَلَيَّ واحدةً ، صلى اللهُ عليه بها عَشْرًا
“Barang siapa bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.”
Shalawat ini disyariatkan di semua waktu, dan sangat dianjurkan di akhir setiap salat. Bahkan menurut sebagian ulama, hukumnya wajib dalam tasyahud akhir setiap salat. Ia juga merupakan sunnah muakkadah di banyak tempat, seperti setelah adzan, ketika menyebut nama beliau ﷺ, dan pada hari Jumat serta malamnya, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak hadits.
Kita memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin untuk memahami agama-Nya, menetapi kebenaran, menganugerahkan kepada kita semua untuk berpegang teguh kepada sunnah, dan menjauhkan kita dari bid’ah. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.1
في حكم الاحتفال بالموالد النبوية وغيرها – موقع الشيخ ابن باز