Hubungi Kami
halo@naffaah.com
Penulis & Penerjemah: Ustadz Idzki Arrusman حفظه الله

Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, beserta keluarga dan para sahabatnya.
أما بعد:
Tidak diragukan lagi bahwa peristiwa Isra dan Mi‘raj termasuk tanda-tanda kebesaran Allah yang agung, yang menunjukkan kebenaran risalah Rasul-Nya Muhammad ﷺ dan menunjukkan tingginya kedudukan beliau di sisi Allah ﷻ. Peristiwa ini juga merupakan dalil atas kekuasaan Allah yang luar biasa serta ketinggian-Nya ﷻ di atas seluruh makhluk-Nya.
Allah ﷻ berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1)
Telah diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau dinaikkan ke langit, lalu dibukakan baginya pintu-pintu langit hingga beliau melampaui langit ketujuh. Kemudian Rabb-nya ﷻ berbicara kepadanya sesuai dengan kehendak-Nya dan mewajibkan atas beliau shalat lima waktu.
Pada awalnya Allah ﷻ mewajibkan lima puluh shalat, namun Nabi kita Muhammad ﷺ terus kembali menghadap dan memohon keringanan, hingga akhirnya dijadikan lima waktu shalat. Maka shalat itu lima dalam kewajiban, namun bernilai lima puluh dalam pahala, karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.
Maka segala puji dan syukur bagi Allah atas seluruh nikmat-Nya.
Malam terjadinya peristiwa Isra dan Mi‘raj tidak disebutkan penentuannya dalam hadis-hadis sahih, baik di bulan Rajab maupun selainnya. Semua riwayat yang menyebutkan penentuan malam tersebut tidaklah sahih dari Nabi ﷺ menurut para ulama ahli hadis.
Dan pada perkara ini terdapat hikmah Allah yang sangat besar, yaitu Allah menjadikan manusia tidak mengetahui secara pasti malam tersebut. Seandainya penentuan malam itu benar-benar sahih, niscaya tidak dibolehkan bagi kaum Muslimin untuk mengkhususkannya dengan bentuk ibadah tertentu, dan tidak pula dibolehkan bagi mereka untuk merayakannya. Hal ini karena Nabi ﷺ dan para sahabatnya رضي الله عنهم tidak pernah merayakannya dan tidak pula mengkhususkannya dengan suatu amalan apa pun.
Seandainya perayaan malam tersebut merupakan perkara yang disyariatkan, tentu Rasulullah ﷺ telah menjelaskannya kepada umat, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Dan jika hal itu pernah terjadi, pasti akan diketahui dan masyhur, serta akan diriwayatkan kepada kita oleh para sahabat رضي الله عنهم. Karena para sahabat telah meriwayatkan dari Nabi ﷺ segala sesuatu yang dibutuhkan oleh umat, dan mereka tidak menyia-nyiakan sedikit pun dari agama. Bahkan merekalah orang-orang yang paling dahulu dalam setiap kebaikan.
Maka jika perayaan malam ini disyariatkan, niscaya merekalah manusia yang paling dahulu melaksanakannya. Dan Nabi ﷺ adalah manusia yang paling tulus menasihati umatnya. Para rasul telah menyampaikan risalah dengan sempurna dan menunaikan amanah. Seandainya mengagungkan malam ini dan merayakannya termasuk bagian dari agama Allah, tentu Nabi ﷺ tidak akan melupakannya dan tidak pula menyembunyikannya.
Ketika tidak terdapat sedikit pun hal tersebut, maka dapat diketahui bahwa merayakan dan mengagungkan malam Isra dan Mi‘raj sama sekali bukan bagian dari Islam. Allah telah menyempurnakan agama ini bagi umat-Nya dan telah mencukupkan nikmat-Nya atas mereka. Allah juga mengingkari orang-orang yang mengada-adakan dalam agama sesuatu yang tidak diizinkan oleh-Nya.
Allah ﷻ berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia, dalam surah Al-Ma’idah:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Dan Allah ﷻ berfirman dalam surah Asy-Syura:
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang mensyariatkan bagi mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah), niscaya telah diputuskan perkara di antara mereka. Dan sungguh orang-orang zalim itu akan mendapatkan azab yang pedih.” (QS. Asy-Syura: 21)
Telah ditetapkan dari Rasulullah ﷺ dalam hadis-hadis sahih adanya peringatan keras terhadap bid‘ah serta penegasan bahwa bid‘ah itu adalah kesesatan. Hal ini sebagai peringatan bagi umat tentang besarnya bahayanya dan agar mereka menjauhkan diri dari perbuatan tersebut.
Di antaranya adalah hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah رضي الله عنها, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka amalan itu tertolak.”
Dan dalam riwayat Muslim:
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.”
Dalam Shahih Muslim dari Jabir رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ biasa bersabda dalam khutbah Jumatnya:
أما بعد فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد ﷺ وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة
“Amma ba‘du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan. Setiap bid‘ah adalah kesesatan.”
An-Nasa’i menambahkan dengan sanad yang baik:
وكل ضلالة في النار
“Dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”
Dalam kitab-kitab Sunan, dari Al-‘Irbadh bin Sariyah رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ pernah menasihati kami dengan nasihat yang sangat menyentuh, hingga hati kami bergetar dan mata kami meneteskan air mata. Kami pun berkata, “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasihat perpisahan.” Maka beliau berwasiat kepada kami seraya bersabda:
أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat, meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang masih hidup, ia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus lagi mendapat petunjuk sepeninggalku. Peganglah ia dengan kuat dan gigitlah dengan gigi geraham. Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid‘ah, dan setiap bid‘ah adalah kesesatan.”
Hadis-hadis dengan makna seperti ini sangat banyak.
Dan telah tetap pula dari para sahabat Rasulullah ﷺ serta dari generasi salaf setelah mereka adanya peringatan keras terhadap bid‘ah dan ancaman darinya. Hal itu tidak lain karena bid‘ah merupakan penambahan dalam agama, syariat yang tidak diizinkan oleh Allah, serta bentuk penyerupaan terhadap musuh-musuh Allah dari kalangan Yahudi dan Nasrani dalam penambahan mereka terhadap agama mereka dan pengadaan hal-hal yang tidak diizinkan Allah.
Selain itu, bid‘ah mengandung konsekuensi merendahkan agama Islam dan menuduhnya tidak sempurna. Dan telah diketahui betapa besar kerusakan dan keingkaran dalam hal ini, serta betapa bertentangannya hal tersebut dengan firman Allah ﷻ:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian.” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Dan juga bertentangan secara nyata dengan hadis-hadis Rasulullah ﷺ yang memperingatkan dari bid‘ah dan menjauhkan umat darinya.
Aku berharap bahwa dalil-dalil yang telah kami sebutkan sudah cukup dan meyakinkan bagi pencari kebenaran untuk mengingkari bid‘ah ini, yaitu bid‘ah perayaan malam Isra dan Mi‘raj, serta untuk memperingatkan darinya, dan bahwa perayaan tersebut sama sekali bukan bagian dari agama Islam.
Dan karena kewajiban yang Allah tetapkan berupa menasihati kaum Muslimin, menjelaskan apa yang Allah syariatkan kepada mereka dalam urusan agama, serta haramnya menyembunyikan ilmu, maka aku memandang perlu untuk mengingatkan saudara-saudara Muslimku terhadap bid‘ah ini, yang telah tersebar di banyak negeri, hingga sebagian orang mengira bahwa hal itu termasuk bagian dari agama.
Kepada Allah-lah kita memohon agar Dia memperbaiki keadaan seluruh kaum Muslimin, menganugerahkan kepada mereka pemahaman yang benar terhadap agama, serta memberikan taufik kepada kami dan kepada mereka untuk berpegang teguh pada kebenaran dan istiqamah di atasnya, serta meninggalkan segala sesuatu yang menyelisihinya. Sesungguhnya Dia-lah Pelindung semua itu dan Mahakuasa atasnya.
Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.1