Hubungi Kami
halo@naffaah.com

Pertanyaan tertulis yang diajukan kepada saya oleh salah seorang syaikh dari luar Kerajaan, lalu saya menjawabnya dengan mengatakan:
Dari Abdulaziz bin Abdullah bin Baz kepada saudara yang mulia—semoga Allah memberinya taufik untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya, آمين.
Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah tercurah kepada Anda.
Amma ba’du:
Telah sampai kepada saya surat Anda tertanggal 2/3/1394 H. Semoga Allah menghubungkan Anda dengan tali petunjuk dan taufik. Isi surat tersebut berupa tiga pertanyaan tentang Wahabiyah, dan saya telah memahaminya. Berikut saya sampaikan jawabannya:
Ucapan Anda: Apakah yang dimaksud dengan Wahabiyah? Apakah ia merupakan mazhab kelima, ataukah ia mengikuti salah satu dari empat mazhab?
Jawaban: Kata ini banyak digunakan oleh sebagian orang untuk menyebut dakwah Syaikh Imam Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman at-Tamimi al-Hanbali رحمه الله, lalu mereka menamai beliau dan para pengikutnya dengan sebutan Wahabi.
Padahal, setiap orang yang memiliki sedikit saja kejelian terhadap gerakan dan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab رحمه الله pasti mengetahui bahwa beliau bangkit untuk menyebarkan dakwah tauhid yang murni, serta memperingatkan dari kesyirikan dalam seluruh bentuknya, seperti bergantung kepada orang-orang yang telah meninggal dan selain mereka, seperti pohon-pohon, batu-batu, dan semisalnya.
Beliau رحمه الله dalam masalah akidah berada di atas manhaj salafus shalih, dan dalam masalah furu‘ (fiqih) mengikuti mazhab Imam Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani رحمه الله, sebagaimana hal itu ditunjukkan oleh kitab-kitab, fatwa-fatwa beliau, serta karya-karya para pengikutnya dari kalangan anak-anak, cucu-cucu beliau, dan selain mereka. Seluruhnya telah dicetak dan tersebar luas di tengah masyarakat.
Imam Muhammad رحمه الله bangkit pada suatu masa ketika keterasingan Islam telah sangat kuat, dan kabut kebodohan menyelimuti Jazirah Arab dan wilayah lainnya—kecuali yang Allah kehendaki. Pada masa itu tersebar luas penyembahan tandingan-tandingan dan berhala-berhala. Maka tidak ada yang dilakukan oleh beliau رحمه الله selain menggulung lengan kesungguhan, berjuang dan bersungguh-sungguh, serta mencurahkan seluruh upayanya untuk memberantas jalan-jalan kesesatan, dengan menggunakan berbagai sarana yang dapat mengantarkan kepada penyebaran tauhid yang murni dan bersih dari khurafat di tengah manusia.
Dan termasuk nikmat Allah سبحانه وتعالى adalah bahwa Allah memberikan taufik kepada Imam Muhammad bin Saud, Amir Dir‘iyyah pada waktu itu, untuk menerima dakwah ini. Maka beliau pun berdiri bersama Syaikh Muhammad di jalan ini, demikian pula anak-anaknya, orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya, dan siapa saja yang mengikutinya dalam kebaikan ini. Semoga Allah membalas mereka semua dengan sebaik-baik balasan, mengampuni mereka, dan memberikan taufik kepada seluruh keturunan mereka untuk segala hal yang diridhai-Nya dan membawa kebaikan bagi hamba-hamba-Nya.
Dan seluruh penjuru Jazirah Arab terus hidup dalam naungan dakwah yang penuh kebaikan ini hingga hari ini. Dakwah beliau رحمه الله berjalan sesuai dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ. Wahabiyah bukanlah mazhab kelima, sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang bodoh dan orang-orang yang memiliki tujuan buruk, melainkan sebuah dakwah kepada akidah salafiyah dan pembaruan terhadap ajaran Islam dan tauhid yang telah pudar di Jazirah Arab, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.1