Fatwa Syaikh Ibn Baz rahimahullāh, tentang Makna “Lā ilāha illallāh”

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على من بعثه الله رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وبعد:

Aku telah membaca tulisan yang ditulis oleh saudara kita seiman, al-‘allāmah Syaikh ‘Umar bin Ahmad al-Malībārī, tentang makna Lā ilāha illallāh. Aku telah merenungkan apa yang beliau jelaskan tentang pendapat tiga golongan mengenai maknanya, dan berikut penjelasannya:

الأول: لا معبود بحق إلا الله.
الثاني: لا مطاع بحق إلا الله.
الثالث: لا رب إلا الله.

  1. Tidak ada sesembahan yang berhak (disembah) selain Allah.
  2. Tidak ada yang ditaati dengan benar selain Allah.
  3. Tidak ada Rabb selain Allah.

Yang benar adalah pendapat pertama, sebagaimana telah dijelaskan oleh beliau. Inilah makna yang ditunjukkan oleh Kitab Allah سبحانه di banyak tempat dalam Al-Qur’an, seperti firman-Nya سبحانه:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan.” (QS. al-Fatihah: 5)

Dan firman-Nya عز وجل:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia.” (QS. al-Isra’: 23)

Dan firman-Nya سبحانه:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنََّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)

Dan firman-Nya سبحانه وتعالى:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ

“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Benar, dan apa saja yang mereka seru selain Dia adalah batil.” (QS. al-Hajj: 62)

Ayat-ayat dalam makna ini sangat banyak. Inilah pula yang dipahami oleh orang-orang musyrik dari kalimat ini ketika Nabi ﷺ menyeru mereka kepadanya dan bersabda:

يا قومي قولوا: لا إله إلا الله تفلحوا

“Wahai kaumku, ucapkanlah: Lā ilāha illallāh, niscaya kalian beruntung.”

Mereka pun mengingkari hal itu dan menyombongkan diri untuk menerimanya, karena mereka memahami bahwa kalimat tersebut bertentangan dengan apa yang dianut oleh nenek moyang mereka berupa penyembahan kepada berhala, pepohonan, dan batu-batuan, serta pengultusan mereka terhadapnya.

Sebagaimana disebutkan oleh Allah عز وجل dalam firman-Nya di surah Ṣād:

وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ ۝ أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Dan mereka heran bahwa telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri. Dan orang-orang kafir berkata: ‘Ini adalah seorang penyihir lagi pendusta. Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.’” (QS. Shad: 4–5)

Dan Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam surah aṣ-Ṣāffāt tentang orang-orang musyrik:

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ ۝ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘Lā ilāha illallāh,’ mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata: ‘Apakah kami benar-benar akan meninggalkan tuhan-tuhan kami karena seorang penyair yang gila?’” (QS. as-Shaffat: 35–36)

Maka dari hal itu diketahui bahwa mereka memahami makna kalimat tersebut bahwa ia membatalkan sesembahan-sesembahan mereka dan mewajibkan pengkhususan ibadah hanya kepada Allah semata. Oleh karena itu, ketika sebagian dari mereka masuk Islam, mereka pun meninggalkan apa yang sebelumnya mereka lakukan dari kesyirikan dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah وحده.

Seandainya makna kalimat itu adalah: “Tidak ada Rabb selain Allah,” atau “Tidak ada yang ditaati selain Allah,” niscaya mereka tidak akan mengingkari kalimat tersebut. Karena sesungguhnya mereka mengetahui bahwa Allah adalah Rabb mereka dan Pencipta mereka, dan bahwa ketaatan kepada-Nya wajib atas mereka dalam perkara yang mereka ketahui berasal dari-Nya سبحانه. Akan tetapi mereka meyakini bahwa penyembahan kepada berhala, para nabi, para malaikat, orang-orang saleh, pepohonan, dan semisalnya adalah dalam rangka menjadikan semuanya sebagai perantara (untuk mendekatkan diri) kepada Allah dan berharap agar semuanya itu mendekatkan mereka kepada-Nya dengan sedekat-dekatnya.

Sebagaimana Allah سبحانه menyebutkan tentang mereka dalam firman-Nya yang mulia:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

“Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat dan tidak (pula) memberi manfaat kepada mereka, dan mereka berkata: ‘Mereka itu adalah para pemberi syafaat kami di sisi Allah.’” (QS. Yunus: 18)

Maka Allah membatalkan anggapan itu dan menolaknya atas mereka dengan firman-Nya سبحانه:

قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّاا يُشْرِكُونَ

“Katakanlah: ‘Apakah kalian hendak memberitahukan kepada Allah sesuatu yang tidak Dia ketahui di langit dan tidak (pula) di bumi?’ Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.”(Yunus: 18)

Dan dalam firman-Nya عز وجل:

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ ۝ إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينََ ۝ أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Turunnya Kitab (Al-Qur’an) ini dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu Kitab ini dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni. Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.’” (QS. az-Zumar: 1–3)

Maknanya, bahwa mereka berkata: “Kami tidak menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.”

Maka Allah membantah mereka dengan firman-Nya سبحانه:

إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang pendusta lagi sangat kafir.”
(QS. az-Zumar: 3)

Dengan demikian, Allah سبحانه menjelaskan bahwa mereka berdusta dalam anggapan mereka bahwa sesembahan-sembahan mereka dapat mendekatkan mereka kepada Allah sedekat-dekatnya, dan mereka kafir terhadap perbuatan itu. Ayat-ayat yang menjelaskan makna ini sangat banyak.1

والحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وآله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

  1. Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah karya Syaikh Ibn Baz (2/5). ↩︎

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *