Aqidah Ahlus Sunnah dalam Masalah ‘Uluw: Jawaban Syaikh Bin Baz

Jawaban atas pertanyaan tentang ketinggian Allah Ta‘ala

Dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz kepada saudara yang mulia, Muhammad bin Ahmad Sindi — semoga Allah memberinya taufik dan menambahnya ilmu serta iman. Amin.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Amma ba‘du.

Surat panjang Anda yang bertanggal tanpa disebutkan harinya telah saya terima — semoga Allah membimbing Anda dengan hidayah-Nya — dan di dalamnya terdapat beberapa hal berikut:

Ucapan Anda di awal surat: “Allah Maha Suci dari arah, dan tidak ada tempat yang meliputi-Nya.”

Ucapan Anda: “Perhatianku tertarik ketika saya membaca buku ‘Pertarungan antara Kebenaran dan Kebatilan’ karya Ustadz Sa‘d Shadiq. Kemudian Anda menyebutkan dalil-dalil yang beliau gunakan tentang ketinggian Allah dari ayat-ayat dan hadis… hingga Anda berkata: ‘Saya tidak tahu apa yang ingin dicapai oleh penulis dan orang-orang semisalnya dengan keyakinan seperti ini, yang pada umumnya menjadi sebab fitnah, kekacauan, dan perpecahan barisan…’ hingga Anda berkata: ‘Terutama karena masyarakat awam berpegang pada isi buku ini dan meyakini bahwa Allah berada di langit.’”

Dan seterusnya.

Kemudian Anda menyebutkan di akhir surat bahwa Anda menukil perkataan ar-Razi, al-Qurthubi, dan ash-Shawi sebagai informasi, dan aku mungkin akan memberikan bantahan terhadapnya.

Jawaban

Yang tampak bagiku dari suratmu ini adalah bahwa engkau belum memahami dengan benar masalah akidah dalam bab nama-nama dan sifat-sifat Allah, dan bahwa engkau membutuhkan kajian khusus serta perhatian terhadap hal-hal yang dapat menjelaskan akidah yang benar. Karena itu, ketahuilah —semoga Allah memberkahimu— bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah dari kalangan para sahabat Rasul ﷺ dan para tabi‘in yang mengikuti mereka dengan baik telah sepakat bahwa Allah berada di atas langit, dan bahwa Dia berada di atas ‘Arsy, serta bahwa tangan-tangan diangkat kepada-Nya, sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis sahih.

Mereka juga sepakat bahwa Allah Mahakaya dari ‘Arsy dan selainnya, dan bahwa seluruh makhluk sangat membutuhkan-Nya. Mereka juga sepakat bahwa Allah berada di arah ketinggian, di atas ‘Arsy, dan di atas seluruh makhluk; bukan berada di dalam langit —Mahatinggi Allah dari hal itu setinggi-tingginya— tetapi Dia berada di atas seluruh makhluk, dan Dia beristiwa’ di atas ‘Arsy dengan istiwa’ yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, tanpa menyerupai makhluk dalam hal itu atau dalam sifat apa pun.

Sebagaimana Imam Malik rahimahullah ketika ditanya tentang istiwa’, beliau berkata: “Istiwa’ itu maknanya diketahui, caranya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentang caranya adalah bid‘ah.” Maksudnya adalah bertanya tentang bagaimana istiwa’ itu terjadi.

Demikian pula Ahlus Sunnah berkata tentang seluruh sifat Allah: maknanya diketahui sesuai bahasa Arab yang digunakan Allah untuk berbicara kepada hamba-hamba-Nya, sedangkan caranya tidak diketahui. Makna-makna itu adalah makna yang sempurna, tetap, dan merupakan sifat bagi Tuhan kita, tanpa menyerupai makhluk.

Pembahasan ini membutuhkan penjelasan yang lebih luas, dan insya Allah kami akan melakukannya setelah kami tiba di Madinah. Kami akan membaca suratmu, menunjukkan kesalahan-kesalahan yang ada, dan menasihatimu untuk mentadabburi Al-Qur’an serta meyakini bahwa seluruh yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an adalah benar dan layak bagi Allah dalam bab nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Sebagaimana seluruh dalil tentang sifat-sifat Allah dalam bab-bab lainnya juga benar, maka tidak boleh menakwilkan sifat-sifat Allah, tidak boleh memalingkannya dari makna lahiriah yang layak bagi Allah, dan tidak boleh pula melakukan tafwidh (menyerahkan makna tanpa memahaminya). Semua itu termasuk keyakinan Ahlul Bid‘ah.

Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah, mereka tidak menakwil ayat-ayat sifat dan hadis-hadisnya, tidak memalingkannya dari makna lahiriahnya, dan tidak melakukan tafwidh. Mereka meyakini bahwa seluruh makna yang ditunjukkan oleh ayat dan hadis tentang sifat-sifat Allah adalah benar, tetap, dan merupakan sifat bagi Allah yang Maha Suci, dengan cara yang layak bagi-Nya, tanpa menyerupai makhluk.

Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ * اللَّهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash: 1–4)

Dan firman-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

Maka Allah menafikan keserupaan dengan makhluk, dan menetapkan bagi diri-Nya sifat mendengar dan melihat dengan cara yang layak bagi-Nya. Demikian pula sifat-sifat lainnya.

Kami juga menasihatimu untuk membaca jawaban Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kepada penduduk Hama dan jawabannya kepada penduduk Tadmur. Kedua jawaban tersebut mengandung kebaikan yang besar, penjelasan rinci tentang ucapan Ahlus Sunnah, serta nukilan dari sebagian perkataan mereka — terutama al-Hamawiyyah. Di dalamnya juga terdapat bantahan yang mencukupi terhadap Ahlul Bid‘ah.

Kami juga menasihatimu untuk membaca Qashidah Nuniyah dan Mukhtashar ash-Shawa‘iq al-Mursalah, keduanya karya al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah. Di dalam keduanya terdapat penjelasan dan keterangan yang sangat jelas tentang ucapan-ucapan Ahlus Sunnah, serta bantahan terhadap Ahlul Bid‘ah — sesuatu yang mungkin tidak engkau temukan pada kitab lainnya — disertai penelitian yang kuat dan perhatian besar dalam menjelaskan dalil-dalil dari Al-Qur’an, Sunnah, dan perkataan para ulama Salaf.

Kepada Allah-lah kami memohon agar Dia memberi taufik kepada kami dan kepadamu menuju ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh, serta menganugerahkan kepada kita semua pemahaman yang benar dalam agama-Nya dan keteguhan di atasnya. Kami juga memohon agar Dia melindungi kita semua dari penyimpangan hati dan fitnah-fitnah yang menyesatkan. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh1

  1. Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah karya Syaikh Ibn Baz (2/105). ↩︎

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *