Hubungi Kami
halo@naffaah.com

Alih Bahasa: Ustadz Idzki Arrusman حفظه الله
Segala puji hanya milik Allah semata, dan semoga salawat serta salam tercurah kepada penghulu para nabi dan rasul, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Amma ba‘du: Telah tersebar di tengah banyak orang bahwa ada sebagian yang mendatangi para dukun, peramal, tukang sihir, dan orang-orang semacam mereka untuk mengetahui masa depan, peruntungan, mencari jodoh, keberhasilan ujian, dan hal-hal lain yang sebenarnya merupakan perkara gaib yang hanya Allah semata mengetahuinya. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا
“(Dialah) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menampakkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai‑Nya; maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga‑penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya.”(Al-Jinn: 26–27)
Dan firman-Nya:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib selain Allah, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)
Para dukun, peramal, tukang sihir, dan semisal mereka telah dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ tentang kesesatan mereka dan buruknya akibat yang akan mereka dapatkan di akhirat. Mereka tidak mengetahui perkara gaib; mereka hanya berdusta kepada manusia dan mengatakan sesuatu atas nama Allah tanpa hak, padahal mereka mengetahuinya.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan Sulaiman tidak kafir, tetapi setan‑setan itulah yang kafir; mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di Babil, yaitu Harut dan Marut. Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada siapa pun sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanyalah cobaan, maka janganlah kamu kafir.’ Maka mereka mempelajari dari keduanya apa yang dapat memisahkan antara seseorang dan istrinya. Mereka tidak akan dapat memberi mudarat kepada siapa pun dengan sihir itu kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang membahayakan mereka dan tidak memberi manfaat. Sungguh, mereka telah mengetahui bahwa siapa yang membeli (memilih) sihir itu, tidak akan memperoleh bagian apa pun di akhirat. Sungguh buruk perbuatan mereka menjual diri mereka dengan sihir itu, jika saja mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 102)
Allah juga berfirman:
إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى
“Sesungguhnya apa yang mereka lakukan itu adalah tipu daya tukang sihir, dan tukang sihir itu tidak akan beruntung dari mana pun ia datang.” (Thaha: 69)
Dan firman-Nya:
وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Kami wahyukan kepada Musa: ‘Lemparkanlah tongkatmu!’ Maka tiba-tiba tongkat itu menelan apa yang mereka ada-adakan. Maka tampaklah kebenaran dan batallah apa yang mereka kerjakan.” (Al-A‘raf: 117–118)
Ayat-ayat ini dan yang semisalnya menjelaskan kerugian tukang sihir dan kesudahan buruk mereka di dunia dan akhirat. Mereka tidak membawa kebaikan; apa yang mereka pelajari atau ajarkan hanya membahayakan dan tidak memberi manfaat. Allah juga menegaskan bahwa perbuatan mereka batil.
Diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda:
اجتنبوا السبع الموبقات قالوا وما هن يا رسول الله قال الشرك بالله والسحر وقتل النفس التي حرم الله إلا بالحق وأكل الربا وأكل مال اليتيم والتولي يوم الزحف وقذف المحصنات الغافلات المؤمنات
“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan.”
Para sahabat bertanya: “Apakah itu, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh zina wanita-wanita mukminah yang terjaga kehormatannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hal ini menunjukkan betapa besarnya kejahatan sihir, karena Allah menyebutkannya bersama kesyirikan, dan memberitahukan bahwa sihir termasuk al-mubiqāt yaitu dosa-dosa yang membinasakan. Sihir adalah kekufuran, karena tidak mungkin seseorang mempelajarinya kecuali dengan melakukan kekufuran. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ
“Dan keduanya (malaikat di Babil) tidak mengajarkan kepada siapa pun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanyalah cobaan, maka janganlah engkau kafir.’” (Al-Baqarah: 102)
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
حد الساحر ضربه بالسيف
“Hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal dengan pedang.”
Dan sahih dari Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau memerintahkan untuk membunuh para tukang sihir, baik laki-laki maupun perempuan.
Demikian pula sahih dari Jundub Al-Khair Al-Azdi radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Nabi ﷺ, bahwa ia membunuh beberapa tukang sihir. Dan sahih dari Hafshah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha bahwa ia memerintahkan untuk membunuh seorang budak perempuan miliknya yang melakukan sihir, lalu budak itu dibunuh.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang para dukun. Beliau bersabda:
ليس بشيء
“Mereka itu bukan apa-apa.”
Mereka berkata:
يا رسول الله، إنهم يحدثونا أحيانا بشيء فيكون حقا
“Wahai Rasulullah, terkadang mereka memberitahu kami sesuatu dan ternyata benar.”
Beliau ﷺ bersabda:
تلك الكلمة من الحق، يخطفها من الجني، فيقرها في أذن وليه، فيخلطون معها مائة كذبة
“Itu adalah satu kata dari kebenaran yang dicuri oleh jin, lalu dibisikkan ke telinga walinya (dukun), kemudian mereka mencampurnya dengan seratus kedustaan.” (HR. Bukhari)
Nabi ﷺ juga bersabda dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
من اقتبس شعبة من النجوم فقد اقتبس شعبة من السحر زاد ما زاد
“Barang siapa mempelajari sebagian ilmu perbintangan, maka ia telah mempelajari sebagian dari sihir; semakin banyak ia mempelajarinya, semakin besar bagian sihir yang ia ambil.” (HR. Abu Dawud, sanadnya sahih)
Dalam riwayat An-Nasa’i dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
من عقد عقدة ثم نفث فيها فقد سحر ومن سحرر فقد أشرك ومن تعلق شيئا وكل إليه
“Barang siapa membuat simpul lalu meniupnya, maka ia telah melakukan sihir. Barang siapa melakukan sihir, maka ia telah berbuat syirik. Dan barang siapa menggantungkan sesuatu (untuk jimat), maka ia diserahkan kepada apa yang ia gantungkan itu.”
Ini semua menunjukkan bahwa sihir adalah kesyirikan kepada Allah Ta‘ala, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Hal itu karena sihir tidak dapat dilakukan kecuali dengan cara beribadah kepada jin dan mendekatkan diri kepada mereka dengan apa yang mereka minta, seperti sembelihan dan bentuk-bentuk ibadah lainnya. Sedangkan beribadah kepada jin adalah syirik kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Seorang kāhin (dukun/peramal) adalah orang yang mengaku mengetahui sebagian perkara gaib. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang melihat pergerakan bintang untuk mengetahui kejadian-kejadian, atau menggunakan jin yang mencuri berita dari langit, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang telah lewat. Termasuk dalam golongan ini adalah orang yang menggambar garis-garis di pasir, membaca cangkir kopi, melihat telapak tangan, dan semacamnya. Demikian pula orang yang membuka buku tertentu dengan anggapan bahwa mereka dapat mengetahui perkara gaib melalui cara tersebut.
Mereka adalah orang-orang kafir dengan keyakinan seperti itu, karena mereka mengklaim berbagi sifat khusus Allah, yaitu ilmu tentang perkara gaib. Mereka juga mendustakan firman Allah Ta‘ala:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib selain Allah.” (An-Naml: 65)
Dan firman-Nya:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ
“Dan pada sisi-Nya kunci-kunci perkara gaib; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia.” (Al-An‘am: 59)
Serta firman-Nya kepada Nabi ﷺ:
قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ
“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa aku memiliki perbendaharaan Allah, dan aku tidak mengetahui perkara gaib, dan aku tidak mengatakan bahwa aku adalah malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.” (Al-An‘am: 50)
Barang siapa mendatangi mereka dan membenarkan apa yang mereka klaim tentang perkara gaib, maka ia telah kafir. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan para penulis Sunan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
من أتى عرافا أو كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد ﷺ
“Barang siapa mendatangi seorang ‘arrāf (dukun) atau kāhin (peramal), lalu membenarkan ucapannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.”
Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari salah satu istri Nabi ﷺ bahwa beliau ﷺ bersabda:
من أتى عرافا فسأله عن شيء لم تقبل له صلاة أربعين ليلة
“Barang siapa mendatangi seorang ‘arrāf lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka salatnya tidak diterima selama empat puluh malam.”
Dan dari Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
ليس منا من تطير أو تطير له أو تكهن أو تكهن له أو سحر أو سحر له ومن أتى كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد ﷺ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang melakukan tathayyur (percaya pertanda buruk), atau dibuatkan tathayyur untuknya, atau melakukan perdukunan, atau dibuatkan perdukunan untuknya, atau melakukan sihir, atau dibuatkan sihir untuknya. Dan barang siapa mendatangi seorang kāhin lalu membenarkan ucapannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dengan sanad yang baik)
Dengan hadis-hadis yang telah disebutkan, menjadi jelas bagi pencari kebenaran bahwa ilmu perbintangan, apa yang disebut ramalan zodiak, membaca telapak tangan, membaca cangkir kopi, membaca garis-garis (ramalan), dan hal-hal serupa yang diklaim oleh para dukun, peramal, dan tukang sihir — semuanya merupakan ilmu jahiliah yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Islam datang untuk membatalkan praktik-praktik tersebut dan memperingatkan dari melakukannya, mendatangi pelakunya, bertanya kepada mereka, atau membenarkan apa yang mereka beritakan; karena semua itu termasuk perkara gaib yang hanya Allah semata mengetahuinya.
Nasihatku bagi siapa pun yang masih terikat dengan hal-hal tersebut adalah: hendaklah ia bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya. Hendaklah ia bergantung hanya kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya dalam segala urusan, sambil tetap mengambil sebab-sebab yang syar’i dan sebab-sebab duniawi yang dibolehkan. Hendaklah ia meninggalkan perkara-perkara jahiliah ini, menjauhinya, dan berhati-hati dari bertanya kepada para pelakunya atau membenarkan mereka — sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ, penjagaan terhadap agama dan akidahnya, serta kehati-hatian dari kemurkaan Allah. Juga sebagai bentuk menjauhi sebab-sebab kesyirikan dan kekufuran, yang jika seseorang mati dalam keadaan tersebut, ia akan merugi di dunia dan akhirat.
Kita memohon keselamatan kepada Allah dari hal-hal tersebut, dan kita berlindung kepada-Nya dari segala sesuatu yang menyelisihi syariat-Nya atau mendatangkan kemurkaan-Nya. Kita juga memohon kepada-Nya agar memberi taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin untuk memahami agama-Nya dan tetap teguh di atasnya, serta melindungi kita semua dari fitnah-fitnah yang menyesatkan, dari kejahatan diri-diri kita, dan dari keburukan amal perbuatan kita. Sesungguhnya Dia-lah Pelindung dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Semoga salawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.1