Kewajiban bertaubat kepada Allah dan merendahkan diri kepada‑Nya ketika musibah turun

Dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, kepada siapa saja dari kaum muslimin yang membaca surat ini.

Semoga Allah memberiku dan mereka taufik untuk mengambil pelajaran, merenung, dan mendapatkan nasihat dari apa yang ditakdirkan-Nya, serta bersegera bertaubat dengan taubat nasuha dari seluruh dosa dan kesalahan. Amin. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Amma ba’du:

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla, dengan hikmah-Nya yang sempurna, hujjah-Nya yang kuat, dan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu, menguji hamba-hamba-Nya dengan kesenangan dan kesusahan, dengan kesempitan dan kelapangan, dengan nikmat dan musibah, untuk menguji kesabaran dan rasa syukur mereka. Maka siapa yang bersabar ketika ditimpa ujian, bersyukur ketika mendapat kelapangan, dan merendahkan diri kepada Allah ketika tertimpa musibah—mengadukan dosa dan kekurangannya kepada-Nya serta memohon rahmat dan ampunan-Nya—maka ia akan meraih keberuntungan yang sempurna dan memperoleh akhir yang terpuji.

Allah Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang agung:

الم أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata: ‘Kami beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui siapa yang benar dan pasti mengetahui siapa yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabūt: 1–3)

Yang dimaksud dengan fitnah dalam ayat ini adalah ujian dan cobaan, agar tampak siapa yang jujur dan siapa yang dusta, siapa yang sabar dan siapa yang bersyukur. Sebagaimana firman-Nya:

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

“Dan Kami jadikan sebagian kalian sebagai ujian bagi sebagian yang lain. Maukah kalian bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat.” (QS. Al-Furqān: 20)

Dan firman-Nya:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (QS. Al-Anbiyā’: 35)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan Kami telah menguji mereka dengan kebaikan dan keburukan agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A‘rāf: 168)

Yang dimaksud kebaikan di sini adalah nikmat‑nikmat seperti kesuburan, kelapangan hidup, kesehatan, kemuliaan, kemenangan atas musuh, dan semisalnya. Sedangkan keburukan adalah musibah seperti penyakit, dikuasai musuh, gempa bumi, angin kencang, badai, banjir besar yang merusak, dan semacamnya.

Allah Ta’ala juga berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rūm: 41)

Maksudnya: Allah menakdirkan berbagai kebaikan dan keburukan, serta apa yang tampak dari kerusakan, agar manusia kembali kepada kebenaran, segera bertaubat dari apa yang Allah haramkan, dan bersegera menaati Allah dan Rasul‑Nya. Sebab kekufuran dan maksiat adalah penyebab setiap bencana dan keburukan di dunia dan akhirat. Adapun tauhid kepada Allah, beriman kepada-Nya dan kepada para rasul-Nya, menaati-Nya dan menaati para rasul-Nya, berpegang teguh pada syariat-Nya, berdakwah kepadanya, serta mengingkari siapa pun yang menyelisihinya—itulah sebab segala kebaikan di dunia dan akhirat. Dengan istiqamah di atasnya, saling menasihati, dan saling tolong-menolong dalam kebaikan, akan terwujud kemuliaan dunia dan akhirat, keselamatan dari segala keburukan, dan perlindungan dari segala fitnah.

Sebagaimana firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad: 7)

Dan firman-Nya:

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ.

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“Sungguh Allah pasti menolong siapa yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, memerintahkan yang makruf, dan mencegah yang mungkar. Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj: 40–41)

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman di antara kalian dan yang beramal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai bagi mereka, serta mengganti rasa takut mereka menjadi aman. Mereka beribadah kepada-Ku dan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun. Barang siapa kafir setelah itu, maka mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. An-Nūr: 55)

Dan firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Seandainya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan bukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan, maka Kami siksa mereka karena perbuatan mereka.” (QS. Al-A‘rāf: 96)

Allah telah menjelaskan dalam banyak ayat bahwa azab yang menimpa umat-umat terdahulu—seperti banjir besar, angin yang membinasakan, suara keras yang mengguntur, gempa bumi, dan lainnya—semuanya disebabkan kekufuran dan dosa-dosa mereka. Sebagaimana firman-Nya:

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Maka masing-masing Kami azab karena dosa-dosanya. Di antara mereka ada yang Kami timpakan angin kencang berbatu, ada yang disambar suara keras, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada yang Kami tenggelamkan. Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (QS. Al-‘Ankabūt: 40)

Dan firman-Nya:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahan).” (QS. Asy-Syūrā: 30)

Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertaubat dan merendahkan diri kepada-Nya ketika musibah terjadi. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Mudah-mudahan Tuhan kalian menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At-Tahrīm: 8)

Dan firman-Nya:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nūr: 31)

Dan firman-Nya:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

لَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sungguh Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, lalu Kami timpakan kepada mereka kesengsaraan dan penderitaan agar mereka merendahkan diri. Maka mengapa ketika azab Kami datang kepada mereka, mereka tidak merendahkan diri? Tetapi hati mereka telah mengeras, dan setan memperindah bagi mereka apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An‘ām: 42–43)

Dalam ayat yang mulia ini terdapat dorongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba‑hamba‑Nya, serta ajakan agar ketika musibah menimpa mereka—baik berupa penyakit, luka, peperangan, gempa bumi, angin kencang, badai, dan berbagai bentuk bencana lainnya—mereka segera merendahkan diri kepada-Nya, merasa sangat membutuhkan-Nya, dan memohon pertolongan-Nya. Inilah makna firman-Nya:

فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا

“Maka mengapa ketika azab Kami datang kepada mereka, mereka tidak merendahkan diri?” (QS. Al-An‘ām: 43)

Maknanya: Mengapa ketika azab Kami datang, mereka tidak merendahkan diri kepada Allah? Kemudian Allah menjelaskan bahwa kekerasan hati mereka dan godaan setan yang memperindah perbuatan buruk mereka telah menghalangi mereka dari bertaubat, merendahkan diri, dan memohon ampun. Allah berfirman:

وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Tetapi hati mereka telah mengeras, dan setan memperindah bagi mereka apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An‘ām: 43)

Telah diriwayatkan bahwa khalifah yang lurus—rahimahullah—Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz, ketika terjadi gempa bumi pada masa pemerintahannya, beliau menulis surat kepada para gubernurnya di berbagai wilayah, memerintahkan mereka agar menyuruh kaum muslimin untuk bertaubat kepada Allah, merendahkan diri kepada-Nya, dan memohon ampun atas dosa-dosa mereka.

Wahai kaum muslimin, kalian telah mengetahui apa yang terjadi pada zaman kita ini berupa berbagai macam fitnah dan musibah. Di antaranya adalah dikuasainya kaum muslimin oleh orang-orang kafir di Afghanistan, Filipina, India, Palestina, Lebanon, Ethiopia, dan tempat-tempat lainnya. Di antaranya pula gempa bumi yang terjadi di Yaman dan banyak negeri lain, banjir besar yang merusak, angin topan yang menghancurkan harta, pepohonan, kapal, dan lainnya. Termasuk juga salju tebal yang menimbulkan kerusakan yang tak terhitung, serta kelaparan, kekeringan, dan paceklik di banyak negeri.

Semua ini dan yang semisalnya merupakan bentuk hukuman dan ujian yang Allah timpakan kepada hamba-hamba-Nya akibat kekufuran, kemaksiatan, dan penyimpangan dari ketaatan kepada-Nya, serta karena kecenderungan mereka kepada dunia dan syahwatnya yang cepat berlalu, serta berpaling dari akhirat dan tidak mempersiapkan diri untuknya—kecuali bagi orang-orang yang dirahmati Allah.

Tidak diragukan bahwa musibah-musibah ini mewajibkan hamba-hamba Allah untuk segera bertaubat dari segala yang Allah haramkan, bersegera menaati-Nya, menegakkan syariat-Nya, saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Apabila hamba-hamba Allah bertaubat kepada-Nya, merendahkan diri kepada-Nya, dan bersegera melakukan apa yang diridhai-Nya, serta saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar, maka Allah akan memperbaiki keadaan mereka, melindungi mereka dari kejahatan musuh-musuh mereka, memberikan kekuasaan kepada mereka di bumi, menolong mereka atas musuh-musuh mereka, melimpahkan nikmat-Nya kepada mereka, dan menjauhkan azab-Nya dari mereka.

Sebagaimana firman Allah—dan Dia adalah sejujur‑jujur Dzat yang berfirman:

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan adalah menjadi kewajiban Kami untuk menolong orang‑orang yang beriman.” (QS. Ar‑Rūm: 47)

Dan Allah Yang Mahamulia berfirman:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang‑orang yang melampaui batas. Dan janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang‑orang yang berbuat baik.” (QS. Al‑A‘rāf: 55–56)

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

“Dan hendaklah kalian memohon ampun kepada Tuhan kalian, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Niscaya Dia akan memberi kalian kenikmatan yang baik sampai waktu yang ditentukan, dan Dia akan memberikan kepada setiap orang yang memiliki keutamaan balasan atas keutamaannya. Jika kalian berpaling, maka sungguh aku takut kalian akan ditimpa azab pada hari yang besar.” (QS. Hūd: 3)

Dan firman-Nya:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا

“Allah telah berjanji kepada orang‑orang beriman di antara kalian dan yang beramal saleh bahwa Dia sungguh‑sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang‑orang sebelum mereka berkuasa. Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai bagi mereka, dan mengganti rasa takut mereka menjadi aman.” (QS. An‑Nūr: 55)

Allah juga berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Laki‑laki yang beriman dan perempuan yang beriman, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan yang makruf, mencegah yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul‑Nya. Mereka itulah yang akan dirahmati Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. At‑Taubah: 71)

Dalam ayat‑ayat ini, Allah menjelaskan bahwa rahmat‑Nya, kebaikan‑Nya, keamanan, dan berbagai nikmat lainnya akan diberikan secara sempurna—dan disempurnakan lagi dengan kenikmatan akhirat—bagi siapa saja yang bertakwa kepada-Nya, beriman kepada-Nya, menaati para rasul-Nya, istiqamah di atas syariat-Nya, dan bertaubat dari dosa-dosanya.

Adapun orang yang berpaling dari ketaatan kepada-Nya, sombong dari menunaikan hak-Nya, dan terus-menerus berada dalam kekufuran dan kemaksiatan, maka Allah mengancamnya dengan berbagai macam hukuman di dunia dan akhirat. Allah mempercepat sebagian hukuman itu sesuai hikmah-Nya, agar menjadi pelajaran bagi orang lain.

Sebagaimana firman-Nya:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami bukakan untuk mereka pintu segala sesuatu. Hingga ketika mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba‑tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa. Maka terputuslah akar (kehancuran) kaum yang zalim itu. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al‑An‘ām: 44–45)

Wahai kaum muslimin, hisablah diri kalian, bertaubatlah kepada Tuhan kalian, dan mohonlah ampun kepada-Nya. Bersegeralah menaati-Nya dan berhati‑hatilah dari bermaksiat kepada-Nya. Saling tolong‑menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan. Berbuat baiklah, karena Allah mencintai orang‑orang yang berbuat baik. Berlaku adillah, karena Allah mencintai orang‑orang yang berlaku adil.

Persiapkanlah bekal yang baik sebelum datangnya kematian. Sayangilah orang‑orang lemah di antara kalian, bantulah orang‑orang fakir, perbanyaklah mengingat Allah dan memohon ampun kepada-Nya. Saling memerintahkan kepada yang makruf dan saling mencegah dari yang mungkar agar kalian dirahmati. Ambillah pelajaran dari musibah yang menimpa orang lain akibat dosa dan maksiat.

Allah menerima taubat orang‑orang yang bertaubat, merahmati orang‑orang yang berbuat baik, dan memperbaiki akhir kehidupan bagi orang‑orang yang bertakwa. Sebagaimana firman-Nya:

فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ

“Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang‑orang yang bertakwa.” (QS. Hūd: 49)

Dan firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

“Sesungguhnya Allah bersama orang‑orang yang bertakwa dan orang‑orang yang berbuat baik.” (QS. An‑Nahl: 128)

Allah-lah yang dimohon dengan nama‑nama-Nya yang indah dan sifat‑sifat-Nya yang tinggi agar Dia merahmati hamba‑hamba-Nya yang muslim, memberikan mereka pemahaman dalam agama, menolong mereka atas musuh-musuh Allah dan musuh-musuh mereka dari kalangan orang kafir dan munafik, serta menurunkan azab-Nya kepada mereka yang tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa. Sesungguhnya Dia-lah Pelindung dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Semoga Allah melimpahkan salawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau, para sahabatnya, dan orang‑orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.1

  1. Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah karya Syaikh Ibn Baz (2/126) ↩︎

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *