“Batalnya wasiat yang dinisbatkan kepada Syekh Ahmad, penjaga kunci Masjid Nabawi.”

Pertanyaan:

​Syaikh Abdul Aziz, dari waktu ke waktu dan dari masa ke masa, wasiat palsu ini kembali muncul kepada kami, yang selalu diterbitkan atas nama Syaikh Ahmad, pemegang kunci makam Rasulullah ﷺ. Wasiat ini menyebar sebagaimana yang saya katakan, dan setiap kali menghilang, ia kembali lagi. Kali ini di bagian awalnya disebutkan: Bahwa pada suatu malam ia sedang membaca Al-Qur’an di Masjid Nabawi, dan pada malam itu ia tertidur lalu bermimpi melihat Rasulullah ﷺ datang kepadanya dan bersabda: Bahwa dalam minggu ini telah wafat empat puluh ribu orang dari golongan manusia, mereka mati dalam keadaan jahiliyah… dan ia terus berlanjut dengan gaya bahasa seperti ini.

​Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa gaya bahasanya mendekati bahasa awam (dialek lokal). Saya berharap Yang Mulia Syaikh berkenan memberikan peringatan kepada orang-orang mengenai wasiat ini secara khusus, dan mengenai hal-hal yang serupa dengannya, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan?

Jawaban:

بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله، وصلى الله وسلم على رسول الله، وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه.

Amma ba’du: Wasiat ini telah kami ketahui sejak lama. Sebagaimana yang Anda sebutkan dalam pertanyaan, setiap kali ia menghilang ia kembali lagi, dan setiap kali dilupakan ia muncul kembali. Ada orang-orang yang mempromosikannya di berbagai belahan dunia atas nama pelayan kamar Nabi (Hujrah Nabawiyyah), terkadang atas nama pemegang kunci kamar Nabi atau Masjid Nabawi. Di dalamnya terdapat ungkapan dan lafaz yang beragam. Ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ mendatanginya dan berkata kepadanya begini dan begitu, bahwa empat puluh ribu orang mati dalam keadaan jahiliyah.” Ia juga berkata: “Akan muncul bintang di sekitar matahari, dan kapan pun bintang ini muncul kalian akan melihatnya, dan setelah itu salat serta ibadah tidak akan diterima lagi.” Ia juga berkata: “Barang siapa yang menerima wasiat ini lalu mengabaikan dan menyia-nyiakannya, maka ia berdosa besar, dan barang siapa yang sampai kepadanya namun tidak menyebarkannya, maka ia keluar dari rahmat Allah.” Ia juga berkata: “Barang siapa yang membagikan dua puluh lima salinan darinya, maka ia akan mendapatkan begini dan begitu…” serta khurafat-khurafat lainnya.

​Ini adalah wasiat batil yang tidak ada dasarnya. Tidak ada orang bernama Ahmad yang menjadi pelayan kamar Nabi ﷺ. Semua ini bohong. Tidak ada sosok yang disebut Ahmad dan tidak ada wasiat tersebut. Ini hanyalah kedustaan para pendusta; orang-orang yang mengada-adakan kebohongan dan menulis wasiat-wasiat batil semacam ini lalu menyandarkannya kepada siapa pun yang mereka kehendaki, padahal semua itu tidak ada asalnya. Kami telah menulis bantahan untuk membatalkan wasiat ini lebih dari sepuluh tahun yang lalu dan telah kami sebarkan di dalam maupun luar negeri dalam berbagai bahasa agar umat Islam memahami kebatilannya dan tahu bahwa itu tidak ada dasarnya. Kewajiban bagi siapa pun yang mendapati wasiat ini di tangannya adalah merobeknya, memusnahkannya, dan memperingatkan orang-orang akan kebatilannya.

​Mushaf yang merupakan kalam Allah Azza wa Jalla saja, jika seseorang tidak menyalin/menulisnya, ia tidak menanggung dosa apa pun dan tidak mengapa. Sedangkan orang ini berkata: “Barang siapa yang sampai kepadanya namun tidak menyebarkannya, maka ia keluar dari rahmat Allah!!” Ini adalah termasuk sebatil-batilnya kebatilan.

Dan ia berkata: Barang siapa menulis darinya (wasiat itu) sebanyak dua puluh lima lembar lalu membagikannya, maka ia akan mendapatkan ini dan itu… berbagai manfaat, dan ini dan itu. Dan barang siapa berpaling darinya, ia akan kehilangan manfaat, anaknya akan mati, atau ia sendiri akan mati, atau akan tertimpa musibah. 

Semua ini batil. Al‑Qur’an sendiri—yang merupakan kalam Allah—seandainya seseorang membagikan seratus mushaf atau lebih, ia memang mendapatkan pahala, tetapi tidak akan mendapatkan hal‑hal yang diklaim oleh pendusta itu. Dan tidak ada bahaya apa pun jika ia tidak membagikannya. Seandainya seseorang hidup sepanjang hidupnya tanpa pernah membagikan mushaf, tidak mengapa baginya. Mushaf itu ada yang membagikannya, ada yang menjualnya, ada yang menyebarkannya di tengah masyarakat. Dan seandainya seseorang membeli mushaf dari pasar lalu membacanya tanpa membagikannya, tidak ada masalah. Bahkan jika ia menulis mushaf sendiri lalu membacanya tanpa membagikannya, tidak ada masalah. Maka bagaimana mungkin dengan wasiat palsu yang batil ini, orang yang tidak menyebarkannya justru dikatakan akan mengalami ini dan itu!

Kesimpulannya: wasiat ini batil, dusta, tidak memiliki dasar, tidak boleh mempercayai isinya, tidak boleh menyebarkannya, dan tidak boleh mempublikasikannya di tengah masyarakat. Bahkan wajib memusnahkannya dan memperingatkan orang lain tentang kebatilannya. Semoga Allah menganugerahkan keselamatan dan petunjuk kepada semua.

Pembawa acara: Kenyataannya, wahai Syaikh, sebagai bukti dari apa yang Anda sampaikan, saya ingat bahwa saya pernah melihat surat ini pada masa yang Anda sebutkan—sekitar sepuluh tahun yang lalu. Dan beberapa waktu lalu kami juga membahasnya. Di program ini pun kami memeranginya, apalagi sampai menyebarkannya. Dan alhamdulillah, kami dalam keadaan sehat, pergi dan pulang bekerja, kami, anak‑anak kami, keluarga kami, dan harta kami semuanya baik‑baik saja.

Asy‑Syaikh bin Baz: Alhamdulillah. Dan sebagaimana Anda sebutkan, semuanya benar‑benar terjadi. Kami telah memeranginya sejak puluhan tahun dan tidak pernah melihat kecuali kebaikan. Semua ini hanyalah kebatilan yang tidak pantas dijadikan sandaran. Ya, kita memohon keselamatan kepada Allah. Na’am.

Pembawa Acara: Mungkin sudah saatnya, wahai samahatus Syaikh, Anda berkenan memberikan peringatan mengenai bahaya selebaran/cetakan terhadap akidah, keamanan, dan juga terhadap pemikiran masyarakat?

Asy‑Syaikh bin Baz: Hendaknya bagi siapa pun yang menemukan selebaran yang ditempel di dinding atau dibagikan di antara orang-orang untuk menanyakannya kepada ahli ilmu (ulama) dan tidak bersandar kepadanya kecuali di atas bashirah (ilmu/keyakinan). Jika ia termasuk ahli ilmu, maka alhamdulillah ia akan mengenalinya dan memperingatkan tentang kebatilan yang batil serta kebenaran yang benar. Adapun jika ia termasuk orang awam, maka tidak sepatutnya ia menerima begitu saja segala sesuatu yang disebarkan di antara manusia. Sebaliknya, wajib baginya untuk bertanya kepada para ulama di negerinya maupun di luar negerinya yang ia percayai dan ia ketahui ilmu serta keutamaannya; ia tanyakan kepada mereka tentang apa yang sampai ke tangannya.

​Telah sampai kabar kepadaku bahwa risalah yang disebarkan atas namaku terkait zikir-zikir setelah salat, ada sebagian orang yang menuliskan di atasnya: “Barang siapa menyebarkannya sekian banyak maka baginya pahala sekian, dan barang siapa menyebarkannya sekian banyak maka ia mendapatkan sekian.” Ini semua adalah batil dan tidak ada asalnya. Aku tidak pernah menulis hal ini, yang aku tulis hanyalah penjelasan tentang zikir yang terjaga (shahih) dari Nabi ﷺ setelah salat. Adapun tambahan mengenai “siapa yang melakukan ini” atau “siapa yang menyebarkannya” atau “siapa yang menulisnya sekian banyak” (akan dapat ini dan itu), maka jika hal itu benar-benar ada, itu adalah batil, tidak ada dasarnya, aku tidak pernah menulisnya, dan tidak pernah memerintahkannya. Bahkan, ini termasuk kedustaan para pendusta dan fitnah dari para pelaku kebatilan, kita memohon keselamatan kepada Allah.

​Kesimpulannya, masalah-masalah yang Anda isyaratkan tadi, yaitu poster, selebaran, buku, dan buletin yang dibagikan, wajib untuk diwaspadai. Jangan diterima kecuali apa yang telah tetap kebenarannya dari Rasulullah ﷺ berdasarkan penjelasan para ahli ilmu yang memahami sunnah Rasulullah ﷺ. Allah-lah tempat memohon pertolongan.

​Pembawa Acara: Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.1

  1. https://binbaz.org.sa/fatwas/7018/%D8%A8%D8%B7%D9%84%D8%A7%D9%86-%D8%A7%D9%84%D9%88%D8%B5%D9%8A%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%86%D8%B3%D9%88%D8%A8%D8%A9-%D9%84%D9%84%D8%B4%D9%8A%D8%AE-%D8%A7%D8%AD%D9%85%D8%AF-%D8%AD%D8%A7%D9%85%D9%84-%D9%85%D9%81%D8%A7%D8%AA%D9%8A%D8%AD-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%B1%D9%85-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A8%D9%88%D9%8A ↩︎

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *