Nasihat Umum untuk Seluruh Kaum Muslimin

Dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Untuk siapa saja dari kaum muslimin yang membacanya; semoga Allah menuntunku dan mereka menempuh jalan hamba-hamba-Nya yang beriman, serta melindungiku dan mereka dari jalan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat. آمين.

“Assalāmu ‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh. Amma ba‘du:

Yang mendorong penulisan ini adalah nasihat dan peringatan, sebagai pengamalan firman Allah Ta‘ālā:

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
‘Dan berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.’ (Adz-Dzāriyāt: 55)

Dan firman-Nya:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
‘Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.’ (Al-Mā’idah: 2)

Dan firman-Nya:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ۝ وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
‘Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.’ (Al-‘Ashr: 1–3)

Dan sabda Nabi ﷺ:

الدين النصيحة قيل: لمن يا رسول الله؟ قال: لله ولكتابه ولرسوله، ولأئمة المسلمين وعامتهم


Agama adalah nasihat.“ Para sahabat bertanya: “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Untuk Allah, untuk Kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin, dan untuk seluruh kaum muslimin.” (HR. Muslim)

Dalam ayat-ayat yang muhkam ini dan hadis yang mulia tersebut terdapat penegasan yang jelas tentang disyariatkannya memberi peringatan, saling menasihati, saling mewasiatkan kebenaran, dan mengajak kepadanya. Karena di dalamnya terdapat berbagai manfaat besar: memberi faedah bagi orang-orang beriman, mengajarkan orang yang belum tahu, membimbing orang yang tersesat, menyadarkan yang lalai, mengingatkan yang lupa, mendorong orang berilmu agar mengamalkan ilmunya, serta berbagai maslahat lainnya yang sangat banyak.

Dan Allah Subhānahu wa Ta‘ālā menciptakan makhluk hanyalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan menaati-Nya. Dia mengutus para rasul sebagai pemberi peringatan, pembawa kabar gembira, dan pemberi ancaman. Sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
‘Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.’ (Adz-Dzāriyāt: 56)

Dan firman-Nya:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ
‘Taatilah Allah dan taatilah Rasul. Jika kalian berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan dengan jelas.’ (At-Taghābun: 12)

Dan firman-Nya:

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ
‘(Kami mengutus) para rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah diutusnya para rasul.’ (An-Nisā’: 165)

Dan firman-Nya:

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ
‘Maka berilah peringatan; sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan.’ (Al-Ghāsyiyah: 21)

Maka wajib atas setiap orang yang memiliki ilmu untuk memberikan peringatan, menasihati karena Allah, dan berdakwah kepada-Nya sesuai dengan kemampuan; sebagai pelaksanaan kewajiban menyampaikan dan berdakwah, serta meneladani para rasul yang mulia ‘alaihimush-shalātu was-salām, dan sebagai bentuk kehati-hatian dari dosa menyembunyikan kebenaran yang Allah telah ancam dalam Al-Qur’an yang muhkam. Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
‘Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab, mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat pula oleh para pelaknat.’ (Al-Baqarah: 159)

Dan telah sah dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

من دل على خير فله مثل أجر فاعله

“Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya.”

Dan beliau juga bersabda:

من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثلل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهمم شيئا

“Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka atasnya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” Keduanya diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya.

Apabila telah diketahui apa yang telah disebutkan sebelumnya, maka yang aku wasiatkan kepada kalian dan juga kepada diriku adalah agar bertakwa kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, baik dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, dalam kesempitan maupun kelapangan. Karena takwa adalah wasiat Allah dan wasiat Rasul-Nya ﷺ.

Sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ
‘Sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kalian dan (juga) kepada kalian agar bertakwa kepada Allah.’ (An-Nisā’: 131)

Dan Nabi ﷺ biasa mengatakan dalam khutbah-khutbah beliau:

أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة
“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah serta mendengar dan taat.”

Takwa adalah kalimat yang mencakup seluruh kebaikan. Hakikatnya adalah menunaikan apa yang Allah wajibkan dan menjauhi apa yang Allah haramkan, dengan penuh keikhlasan kepada-Nya, cinta kepada-Nya, mengharap pahala-Nya, dan takut terhadap siksa-Nya.

Allah telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertakwa dan menjanjikan atasnya kemudahan urusan, kelapangan dari kesempitan, kemudahan rezeki, penghapusan dosa, dan kemenangan dengan memperoleh surga-surga. Allah Ta‘ālā berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ
‘Wahai manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian; sesungguhnya guncangan hari Kiamat itu adalah sesuatu yang sangat besar.’ (Al-Ḥajj: 1)

Dan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
‘Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.’ (Al-Ḥasyr: 18)

Dan firman-Nya:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
‘Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.’ (Aṭ-Ṭalāq: 2–3)

Dan firman-Nya:

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ
‘Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa di sisi Rabb mereka ada surga-surga kenikmatan.’ (Al-Qalam: 34)

Dan firman-Nya:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا
‘Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan melipatgandakan pahala baginya.’ (Aṭ-Ṭalāq: 5)

Ayat-ayat dalam makna ini sangat banyak.

Maka wahai kaum muslimin, merasa diawasilah oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, dan bersegeralah menuju takwa dalam seluruh keadaan. Hisablah diri kalian dalam setiap ucapan, perbuatan, dan muamalah. Apa yang dibolehkan oleh syariat, maka tidak mengapa untuk dilakukan. Dan apa yang dilarang oleh syariat, maka jauhilah, meskipun di baliknya terdapat keuntungan besar. Karena apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik dan lebih kekal. Barang siapa meninggalkan sesuatu karena bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.

Apabila para hamba merasa diawasi Rabb mereka dan bertakwa kepada-Nya dengan melaksanakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang, maka Allah akan menganugerahkan kepada mereka apa yang telah Dia janjikan atas takwa: berupa kemuliaan, keberuntungan, rezeki yang luas, jalan keluar dari berbagai kesempitan, kebahagiaan, serta keselamatan di dunia dan di akhirat.

Tidak tersembunyi bagi setiap orang yang berakal dan memiliki sedikit saja ketajaman pandangan, apa yang telah menimpa kebanyakan kaum muslimin berupa kerasnya hati, sikap zuhud terhadap akhirat (yakni berpaling darinya), berpaling dari sebab-sebab keselamatan, dan justru menghadap kepada dunia serta sebab-sebab meraihnya dengan penuh ambisi dan kerakusan tanpa membedakan antara yang halal dan yang haram. Kebanyakan mereka tenggelam dalam syahwat, berbagai bentuk hiburan dan kelalaian.

Semua itu tidak lain disebabkan oleh berpalingnya hati dari akhirat, lalainya dari zikir dan cinta kepada Allah, dari merenungi nikmat-nikmat-Nya, karunia-karunia-Nya, serta tanda-tanda kekuasaan-Nya yang tampak maupun yang tersembunyi; juga karena tidak mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah, tidak mengingat saat berdiri di hadapan-Nya, dan tidak memikirkan bahwa dari perhentian agung itu manusia akan berakhir—entah menuju surga atau menuju neraka.

Maka wahai kaum muslimin, perbaikilah diri kalian dan bertaubatlah kepada Rabb kalian. Pelajarilah agama kalian dengan mendalam, bersegeralah menunaikan apa yang Allah wajibkan atas kalian, dan jauhilah apa yang Dia haramkan, agar kalian memperoleh kemuliaan, keamanan, petunjuk, dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

Jauhilah kecenderungan mencintai dunia dan mengutamakannya di atas akhirat, karena itu adalah sifat musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kalian dari kalangan kafir dan munafik, serta salah satu sebab utama siksa di dunia dan akhirat. Allah Ta‘ālā berfirman tentang sifat musuh-Nya:

إِنَّ هَؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا
‘Sesungguhnya mereka mencintai kehidupan duniawi dan meninggalkan (hari) yang berat di belakang mereka.’ (Al-Insān: 27)

Dan firman-Nya:

فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ
‘Janganlah mempesona kalian harta dan anak-anak mereka; sesungguhnya Allah hanya ingin menyiksa mereka dengan itu di kehidupan dunia, lalu jiwa mereka melayang sementara mereka kafir.’ (At-Tawbah: 55)

Kalian tidak diciptakan untuk dunia, tetapi diciptakan untuk akhirat, dan diperintahkan untuk mempersiapkan bekal bagi-nya. Dunia diciptakan untuk kalian agar kalian dapat memanfaatkannya dalam beribadah kepada Allah yang menciptakan kalian, serta untuk mempersiapkan diri menyambut pertemuan dengan-Nya. Dengan demikian kalian layak memperoleh karunia, kemuliaan, dan dekat dengan-Nya di surga kenikmatan.

Sungguh tercela bagi orang berakal untuk berpaling dari ibadah kepada Penciptanya dan Pengasuhnya, serta dari apa yang telah disiapkan Allah berupa kemuliaan, dan malah sibuk mengejar hawa nafsu hewani serta kerakusan dalam meraih kesenangan dunia yang fana, padahal Allah telah menjamin bagi kalian apa yang lebih baik darinya, dengan akhir yang baik di dunia dan akhirat.

Setiap muslim hendaknya berhati-hati agar tidak terperdaya oleh kebanyakan orang, berpikir: ‘Karena orang banyak melakukannya, maka aku pun ikut.’ Hal ini adalah musibah besar yang telah menimpa kebanyakan orang terdahulu.

Wahai orang berakal, perhatikanlah dirimu, hisablah dirimu, berpeganglah pada kebenaran meskipun ditinggalkan orang lain, dan jauhilah larangan Allah meskipun orang lain melakukannya. Kebenaran lebih berhak untuk diikuti. Allah berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
‘Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi, mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.’ (Al-An‘ām: 116)

Dan firman-Nya:

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ
‘Dan kebanyakan manusia tidak akan menjadi beriman meskipun kamu sangat menginginkannya.’ (Yūsuf: 103)

Sebagaimana ucapan sebagian salaf rahimahumullāh:

لا تزهد في الحق لقلة السالكين ولا تغتر بالباطل لكثرة الهالكين

“Janganlah engkau berpaling dari kebenaran karena sedikit orang yang menempuhnya, dan janganlah engkau terperdaya oleh kebatilan karena banyak orang yang binasa karenanya.””

Inilah yang menyenangkan hatiku untuk menutup nasihatku ini dengan lima perkara yang mencakup seluruh kebaikan:

Pertama: Ikhlas hanya kepada Allah dalam seluruh ibadah, baik yang bersifat ucapan maupun perbuatan, serta menjauhi segala bentuk syirik, baik yang kecil maupun yang besar. Ini adalah kewajiban yang paling pokok dan perkara yang paling penting. Sesungguhnya inilah makna dari syahadat ‘Lā ilāha illā Allah’; tidak sah amal dan ucapan hamba kecuali setelah prinsip ini tegak dan selamat. Allah Ta‘ālā berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
‘Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu: Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan sia-sialah amalmu, dan kamu termasuk orang-orang yang merugi.’ (Az-Zumar: 65)

Kedua: Memahami Al-Qur’an dan sunnah Nabi ﷺ, berpegang teguh kepadanya, serta bertanya kepada ahli ilmu tentang setiap hal yang membingungkan kalian dalam agama. Ini wajib atas setiap muslim; tidak boleh ditinggalkan atau diabaikan, dan tidak boleh mengikuti hawa nafsu dan pendapat sendiri tanpa ilmu dan penglihatan yang benar.

Inilah makna syahadat ‘Muhammad Rasulullah’: menuntut seorang hamba beriman bahwa Muhammad ﷺ benar-benar utusan Allah, berpegang pada apa yang beliau bawa, mempercayai berita yang beliau sampaikan, dan hanya menyembah Allah dengan apa yang Dia syariatkan melalui lisan Rasul-Nya ﷺ. Allah Ta‘ālā berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
‘Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ (Āli ‘Imrān: 31)

Dan Allah Ta‘ālā berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
‘Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah; dan apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah.’ (Al-Ḥashr: 7)

Rasulullah ﷺ bersabda:

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
“Barang siapa mengadakan sesuatu dalam urusan kami yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dan juga beliau ﷺ bersabda:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
“Barang siapa mengerjakan suatu perbuatan yang bukan atas perintah kami, maka tertolak.” (HR. Muslim)

Dan setiap orang yang berpaling dari Al-Qur’an dan Sunnah, maka dia mengikuti hawa nafsunya, durhaka kepada Tuhannya, dan pantas mendapat celaan serta siksa. Allah Ta’ala berfirman:

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ [القصص:50]
“Jika mereka tidak menanggapi (seruanmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah?” [QS. Al-Qashash: 50]

Allah Ta’ala juga berfirman dalam menggambarkan orang-orang kafir:

إِنْ يَتَّبِعُونََ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى [النجم:23]
“Mereka tidak mengikuti selain dugaan belaka dan apa yang diinginkan jiwa mereka, padahal petunjuk telah datang kepada mereka dari Rabb mereka.” [QS. An-Najm: 23]

Mengikuti hawa nafsu—mohon perlindungan Allah—akan menutupi cahaya hati dan menjauhkan dari kebenaran, sebagaimana Allah berfirman:

وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ [ص:26]
“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena itu akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” [QS. Shaad: 26]

Maka berhati-hatilah, semoga Allah merahmati kalian, dari mengikuti hawa nafsu dan berpaling dari petunjuk. Peganglah kebenaran dan ajaklah kepadanya, serta jauhilah orang yang menyimpang darinya, agar kalian memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat.

Ketiga: Menegakkan shalat lima waktu dan menjaganya secara berjamaah. Shalat adalah kewajiban terpenting setelah dua syahadat, menjadi tiang agama dan rukun kedua dari rukun Islam. Shalat adalah amal pertama yang akan diperhitungkan seorang hamba pada hari kiamat; barang siapa menjaganya, ia telah menjaga agamanya, dan barang siapa meninggalkannya, ia telah meninggalkan Islam. Betapa besar penyesalan dan buruknya akibatnya ketika berdiri di hadapan Allah. Maka, wahai kaum muslimin, jagalah shalat, saling menasihati dalam memeliharanya, dan menegur siapa yang meninggalkannya; karena hal ini termasuk tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa. Nabi ﷺ bersabda:

العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر
“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat; barang siapa meninggalkannya, maka ia kafir.” (HR. Ahmad dan ahli sunan dengan sanad sahih)

Dan Nabi ﷺ bersabda:

بين الرجل وبين الكفر والشركك ترك الصلاة
“Antara seseorang dan kekafiran serta syiriknya adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

Beliau ﷺ juga bersabda:

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطعع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان
“Barang siapa melihat kemungkaran di antara kalian, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya—dan itu adalah tingkat iman yang paling lemah.” (HR. Muslim)

Keempat: Memperhatikan zakat dan bersemangat menunaikannya sebagaimana Allah perintahkan. Zakat adalah rukun ketiga Islam. Setiap muslim yang mukallaf wajib menghitung harta zakatnya, mengatur dan menunaikannya setiap kali haul tiba, jika telah mencapai nisab, dengan hati yang lapang dan ikhlas, sebagai wujud syukur atas nikmat Allah dan kebaikan kepada hamba-Nya. Allah akan melipatgandakan pahala bagi yang menunaikannya, mengganti apa yang dikeluarkan, memberkahi sisanya, serta menyucikannya. Allah Ta‘ālā berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا
‘Ambillah dari harta mereka sedekah, untuk membersihkan dan menyucikan mereka dengannya.’ (At-Tawbah: 103)

Sebaliknya, barang siapa pelit atau mengabaikan zakat, Allah murka kepadanya, menghilangkan keberkahan hartanya, menimbulkan kerusakan dan pemborosan di luar yang haq, serta mengazabnya pada hari kiamat. Allah Ta‘ālā berfirman:

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
‘Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, berilah mereka kabar tentang azab yang pedih.’ (At-Tawbah: 34)

Segala harta yang tidak dizakati akan menjadi beban bagi pemiliknya di hari kiamat; semoga Allah melindungi kita dan kalian dari hal ini.

Bagi muslim yang tidak mukallaf, seperti anak kecil atau orang gila, wajib bagi walinya untuk menunaikan zakat atas harta mereka setiap kali haul tiba, sesuai dengan dalil dari Al-Qur’an dan sunnah yang menunjukkan kewajiban zakat atas harta muslim, baik mukallaf maupun tidak mukallaf.

Kelima: Setiap muslim yang mukallaf, baik laki-laki maupun perempuan, wajib menaati Allah dan Rasul-Nya dalam semua yang diperintahkan, seperti berpuasa di bulan Ramadan, menunaikan haji bagi yang mampu, dan seluruh kewajiban lainnya yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan. Mereka juga wajib menghormati larangan-larangan Allah, merenungi apa yang diciptakan Allah dan diperintahkan untuk dilaksanakan, serta selalu menilai diri mereka sendiri.

Jika seorang hamba telah menunaikan kewajiban Allah, maka hendaknya ia bersyukur, memuji Allah, memohon keteguhan, dan menjaga diri dari sifat takabur, sombong, atau membanggakan diri. Namun, jika ia lalai atau melakukan sesuatu yang Allah haramkan, hendaklah segera bertaubat dengan taubat yang tulus, menyesali kesalahan, istiqamah menjalankan perintah Allah, memperbanyak dzikir, istighfar, doa, serta memohon ampunan atas dosa-dosa masa lalu, dan meminta taufik untuk berkata dan beramal yang baik. Barang siapa berhasil melaksanakan perkara agung ini, itulah tanda kebahagiaan dan keselamatannya di dunia dan akhirat. Sebaliknya, siapa yang lalai, mengikuti hawa nafsu dan keinginannya, serta berpaling dari persiapan untuk akhirat, maka itulah tanda kehancurannya dan bukti kerugiannya.

Maka setiap orang hendaknya menoleh kepada dirinya, menilai diri sendiri, dan meneliti kekurangannya; niscaya ia akan menemukan hal-hal yang menyesakkan hati, menyibukkan dirinya dari selain Allah, dan menuntut kerendahan hati, pengakuan kesalahan, serta permohonan ampunan di hadapan-Nya.

Perhitungan diri, kerendahan hati, dan tunduk di hadapan Allah inilah yang menjadi sebab kebahagiaan, keberhasilan, dan kemuliaan di dunia maupun akhirat.

Setiap muslim juga hendaknya menyadari bahwa setiap kesehatan, nikmat, kedudukan mulia, rezeki yang berlimpah, dan kelapangan yang diperoleh adalah dari karunia dan kebaikan Allah semata. Dan setiap penyakit, musibah, kemiskinan, kekeringan, atau penimpaan musuh dan berbagai bencana lainnya adalah akibat dosa dan maksiat. Segala azab dan penderitaan di dunia maupun akhirat bersumber dari pelanggaran perintah Allah, kemaksiatan, dan mengabaikan hak-hak-Nya. Allah Ta‘ālā berfirman:

وَمَا أَصَابَكُم مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
‘Apa pun musibah yang menimpa kalian, adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah mengampuni banyak dosa.’ (Asy-Syūrā: 30)

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضََ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
‘Kerusakan telah tampak di darat dan laut karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari apa yang mereka kerjakan, mudah-mudahan mereka kembali (bertaubat).’ (Ar-Rūm: 41)

Maka bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah, muliakanlah perintah dan larangan-Nya, segera bertaubatlah kepada-Nya dari semua dosa kalian, bertawakkallah hanya kepada-Nya, karena Dialah yang menciptakan makhluk, memberi rezeki kepada mereka, dan segala urusan mereka berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang memiliki kemampuan memberi mudharat atau manfaat, kehidupan atau kematian, kebangkitan atau kehidupan kembali.

Penuhi, wahai kaum muslimin, hak Rabb kalian, hak Rasul-Nya, dan hak sesama kalian, serta taatilah Allah dan Rasul-Nya tanpa membeda-bedakan siapa pun. Tolong-menolonglah dalam kebaikan, cegahlah kemungkaran, berbaik sangkalah kepada Allah, perbanyaklah dzikir dan istighfar, tolong-menolonglah dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Peganglah tangan orang-orang bodoh di jalan Allah dan arahkan mereka kepada apa yang diperintahkan-Nya, serta cegahlah mereka dari larangan-Nya.

Cintailah karena Allah, benci karena Allah, bertemanlah dengan wali Allah, dan bermusuhlah dengan musuh Allah. Bersabarlah dan sabarlah bersama saudara seiman hingga kalian bertemu Rabb kalian, maka kalian akan meraih kebahagiaan tertinggi, kemuliaan, kehormatan, dan kedudukan tinggi di surga kenikmatan.

Allah sajalah yang berkuasa memberikan taufik kepada kita dan kalian untuk hal-hal yang diridhai-Nya, memperbaiki hati-hati kita, memenuhi hati dengan rasa takut, cinta, dan takwa kepada-Nya, serta menasihati-Nya dan hamba-hamba-Nya. Semoga Allah melindungi kita dan kalian dari kejahatan diri kita sendiri dan keburukan amal perbuatan kita. Semoga Dia memberi taufik kepada para pemimpin kita dan seluruh pemimpin kaum muslimin untuk melakukan yang diridhai-Nya, menegakkan kebenaran melalui mereka, dan menyingkirkan kebatilan melalui mereka. Semoga Allah menjauhkan semua dari fitnah yang menyesatkan; Sesungguhnya Dialah Pelindung dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.

wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Dan semoga Allah memberkahi Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarga, dan sahabatnya.1

  1. Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah karya Syaikh Ibn Baz (2/144) ↩︎

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *