Kebutuhan terhadap nasihat, saling berwasiat dalam kebenaran, dan bersabar di atasnya.

Tidak diragukan lagi bagi orang yang berakal sehat bahwa setiap umat pasti membutuhkan seorang pembimbing yang mengarahkan mereka dan menunjukkan jalan yang benar. Umat Islam adalah umat yang paling berhak untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Kewajiban menuntut setiap Muslim, sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya, untuk bersungguh-sungguh dalam memberi nasihat dan bimbingan agar ia terbebas dari tanggung jawab (di hadapan Allah) dan agar orang lain mendapat petunjuk melaluinya.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Adz-Dzariyat: 55)

Tidak diragukan pula bahwa setiap mukmin, bahkan setiap manusia, sangat membutuhkan peringatan tentang hak Allah dan hak sesama hamba-Nya, serta dorongan untuk menunaikan semua itu. Mereka juga sangat membutuhkan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk bersabar dalam menjalaninya.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah menjelaskan dalam Kitab-Nya yang jelas tentang sifat orang-orang yang beruntung beserta amal-amal baik mereka, dan juga sifat orang-orang yang merugi beserta akhlak mereka yang buruk, dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Di antara ayat yang paling mencakup hal tersebut adalah yang disebutkan Allah dalam Surah Al-‘Ashr, ketika Dia berfirman:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1–3)

Dalam surah yang pendek namun agung ini, Allah memberikan petunjuk kepada hamba-hamba-Nya bahwa sebab-sebab keberuntungan itu terbatas pada empat sifat:

  1. Iman
  2. Amal saleh
  3. Saling menasihati dalam kebenaran
  4. Saling menasihati dalam kesabaran.

Maka barang siapa yang menyempurnakan empat kedudukan (sifat) tersebut, ia akan meraih keuntungan yang paling besar dan berhak mendapatkan kemuliaan dari Rabbnya serta kemenangan berupa kenikmatan yang kekal pada hari kiamat.

Adapun orang yang menyimpang dari sifat-sifat tersebut dan tidak menghiasi dirinya dengannya, maka ia akan kembali dengan kerugian yang sangat besar dan berakhir di neraka Jahim, negeri kehinaan.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah menjelaskan dalam Kitab-Nya yang mulia tentang sifat-sifat orang yang beruntung dan macam-macamnya, serta mengulanginya di banyak tempat dalam Al-Qur’an agar orang yang mencari keselamatan dapat mengenalnya, lalu menghiasi dirinya dengan sifat-sifat itu dan mengajak orang lain kepadanya.

Allah juga menjelaskan sifat-sifat orang yang merugi dalam banyak ayat, agar seorang mukmin mengetahuinya dan menjauhinya.

Barang siapa yang mentadabburi Kitab Allah dan memperbanyak membaca Al-Qur’an, niscaya ia akan mengetahui secara rinci sifat-sifat orang yang beruntung dan sifat-sifat orang yang merugi. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjelaskan hal itu dalam banyak ayat. Di antaranya ayat yang telah disebutkan sebelumnya, dan juga firman-Nya:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka pahala yang besar.” (Al-Isra: 9)

Dan firman-Nya:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (Shad: 29)

Dan firman-Nya:

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan ini adalah Kitab yang Kami turunkan yang diberkahi, maka ikutilah ia dan bertakwalah agar kalian mendapatkan rahmat.” (Al-An‘am: 155)

Telah sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

خيركم من تعلم القرآن وعلمه

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Dan beliau ﷺ bersabda dalam khutbahnya pada Haji Wada’, di hadapan manusia yang sangat banyak pada hari Arafah:

إني تارك فيكم ما لن تضلوا إن اعتصمتم به، كتاب الله

“Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat: yaitu Kitab Allah.”

Maka Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjelaskan dalam ayat-ayat ini bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an agar para hamba mentadabburinya, mengambil pelajaran darinya, mengikutinya, dan mendapatkan petunjuk darinya menuju sebab-sebab kebahagiaan, kemuliaan, dan keselamatan di dunia dan akhirat.

Rasulullah ﷺ juga membimbing umat untuk mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya, serta menjelaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah ahlul Qur’an, yaitu orang-orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain dengan cara mengamalkannya, mengikutinya, berhenti pada batas-batasnya, berhukum dengannya, dan menjadikannya sebagai rujukan hukum.

Beliau ﷺ juga menjelaskan kepada manusia pada pertemuan besar di hari Arafah bahwa mereka tidak akan tersesat selama mereka berpegang teguh kepada Kitab Allah dan berjalan di atas ajaran-ajarannya.

Ketika salafus shalih dan generasi pertama umat ini berjalan di atas ajaran Al-Qur’an dan petunjuk Rasulullah ﷺ, maka Allah memuliakan mereka, meninggikan kedudukan mereka, dan memberikan kekuasaan kepada mereka di muka bumi. Hal itu sebagai realisasi dari janji Allah dalam firman-Nya:

وَعَدََ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ  وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka, serta Dia akan mengganti rasa takut mereka dengan rasa aman. Mereka beribadah kepada-Ku dan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun.”
(An-Nur: 55)

Dan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (Muhammad: 7)

Dan firman-Nya:

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ ۝ الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةََ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“Dan sungguh Allah pasti akan menolong orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang apabila Kami berikan kekuasaan di bumi, mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Al-Hajj: 40–41)

Wahai kaum Muslimin! Renungkanlah Kitab Rabb kalian, perbanyaklah membacanya, laksanakanlah perintah-perintah yang ada di dalamnya, dan jauhilah larangan-larangannya. Ketahuilah akhlak dan amalan yang dipuji oleh Al-Qur’an, maka segeralah menuju kepadanya dan hiasilah diri kalian dengannya. Ketahuilah pula akhlak dan amalan yang dicela oleh Al-Qur’an serta diancam pelakunya, maka berhati-hatilah darinya dan jauhilah ia. Salinglah berwasiat di antara kalian dengan hal itu dan bersabarlah di atasnya hingga kalian berjumpa dengan Rabb kalian. Dengan itulah kalian berhak mendapatkan kemuliaan serta meraih keselamatan, kebahagiaan, dan kemuliaan di dunia dan di akhirat.

Di antara kewajiban terpenting bagi kaum Muslimin adalah memberikan perhatian besar kepada sunnah Rasulullah , memahaminya dengan baik, dan berjalan di atas petunjuknya. Hal itu karena sunnah merupakan wahyu yang kedua, dan ia menjadi penjelas bagi Kitab Allah serta penuntun terhadap makna-makna yang mungkin tersembunyi di dalamnya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala dalam Kitab-Nya yang mulia:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr (Al-Qur’an) agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan agar mereka memikirkan.” (An-Nahl: 44)

Dan firman-Nya:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi kaum Muslimin.” (An-Nahl: 89)

Dan firman-Nya:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Dan firman-Nya:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka ambillah, dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (Al-Hasyr: 7)

Dan firman-Nya:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintahnya takut akan tertimpa fitnah atau tertimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63)

Ayat-ayat yang menunjukkan kewajiban mengikuti Rasulullah ﷺ, memuliakan sunnah beliau, berpegang teguh dengannya, serta peringatan dari menyelisihi atau meremehkannya sangatlah banyak. Hal itu diketahui oleh orang yang mentadabburi Al-Qur’an dan memahami hadis-hadis sahih yang datang dari Rasulullah ﷺ.

Tidak ada kebaikan bagi para hamba, tidak ada kebahagiaan, kemuliaan, kehormatan, dan keselamatan di dunia maupun di akhirat, kecuali dengan mengikuti Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah , mengagungkan keduanya, saling berwasiat untuk berpegang dengannya dalam segala keadaan, serta bersabar di atasnya. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah membatasi antara seseorang dengan hatinya dan kepada-Nya kalian akan dikumpulkan.” (Al-Anfal: 24)

Dan firman-Nya:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)

Dan firman-Nya:

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan milik Allah-lah kemuliaan, begitu pula bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang yang beriman, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.” (Al-Munafiqun: 8)

Maka Allah Subhanahu wa Ta‘ala membimbing para hamba dalam ayat-ayat yang mulia ini bahwa kehidupan yang baik, ketenangan, ketenteraman, dan kemuliaan yang sempurna hanya akan diperoleh oleh orang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya serta istiqamah di atasnya, baik dalam ucapan maupun perbuatan.

Adapun orang yang berpaling dari Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya ﷺ serta menyibukkan diri dengan selain keduanya, maka ia akan senantiasa berada dalam azab, kesengsaraan, kegelisahan, kesedihan, dan kehidupan yang sempit, walaupun ia memiliki seluruh dunia. Kemudian ia akan dipindahkan kepada sesuatu yang lebih berat dan lebih dahsyat, yaitu azab neraka, kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut.

Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ ۝ فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

“Dan tidak ada yang menghalangi agar infak mereka diterima kecuali karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka tidak datang untuk salat kecuali dengan malas, dan mereka tidak berinfak kecuali dengan rasa enggan. Maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya Allah hanya hendak mengazab mereka dengan itu di kehidupan dunia dan agar nyawa mereka melayang dalam keadaan kafir.” (At-Taubah: 54–55)

Dan firman-Nya:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى ۝ وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِِ أَعْمَى

“Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, barang siapa mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha: 123–124)

Dan firman-Nya:

وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan sungguh Kami akan merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar, agar mereka kembali.” (As-Sajdah: 21)

Dan firman-Nya:

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ ۝ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.”
(Al-Infithar: 13–14)

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa ayat ini mencakup keadaan orang-orang yang berbakti dan orang-orang yang durhaka, baik di dunia maupun di akhirat.

Orang mukmin berada dalam kenikmatan di dunia, di alam kuburnya, dan di akhiratnya, meskipun ia tertimpa berbagai musibah di dunia seperti kemiskinan, penyakit, dan semacamnya.

Sedangkan orang yang durhaka berada dalam neraka di dunia, di alam kuburnya, dan di akhiratnya, meskipun ia mendapatkan berbagai kenikmatan dunia.

Hal itu karena kenikmatan yang hakiki adalah kenikmatan hati, ketenangannya, dan ketenteramannya.

Seorang mukmin, dengan keimanannya kepada Allah, ketergantungannya kepada-Nya, kecukupannya dengan-Nya, penunaian hak-hak-Nya, serta keyakinannya terhadap janji-Nya, memiliki hati yang tenang, dada yang lapang, dan jiwa yang tenteram.

Adapun orang yang durhaka (fajir), karena sakitnya hati, kebodohannya, keraguannya, serta berpalingnya dari Allah, dan karena hatinya tercerai-berai dalam mengejar tuntutan dunia dan syahwatnya, maka ia berada dalam azab, kegelisahan, dan keletihan yang terus-menerus. Namun mabuknya hawa nafsu dan syahwat sering membutakan hati dari memikirkan hal itu dan merasakannya.

Maka wahai kaum Muslimin! Perhatikanlah tujuan kalian diciptakan, yaitu untuk beribadah kepada Allah dan menaati-Nya. Pelajarilah hal itu dengan baik dan istiqamahlah di atasnya hingga kalian berjumpa dengan Rabb kalian ‘Azza wa Jalla. Dengan demikian kalian akan meraih kenikmatan yang kekal dan selamat dari azab neraka yang menyala.

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ ۝ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ۝ نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka para malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata): ‘Janganlah kalian takut dan janganlah kalian bersedih hati, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepada kalian. Kami adalah pelindung-pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Di dalamnya kalian memperoleh apa yang diinginkan oleh jiwa kalian dan memperoleh apa yang kalian minta, sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (Fushshilat: 30–32)

Dan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ۝ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَاا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-Ahqaf: 13–14)

Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kami dan kalian termasuk golongan tersebut, serta melindungi kita semua dari kejahatan diri kita dan keburukan amal-amal kita. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.1

  1. Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah karya Syaikh Ibn Baz (2/154) ↩︎

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *