Faktor Kemenangan dan Kemuliaan Kaum Muslimin: Pidato Syaikh Bin Baz  yang disampaikan terkait pertemuan para pemimpin dunia Islam

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اهتدى بهداه

Amma ba’du,

Sesungguhnya siapa saja yang merenungkan Al-Qur’an yang mulia, yang Allah turunkan sebagai penjelasan bagi segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi kaum muslimin, niscaya ia akan menemukan di dalamnya penjelasan yang jelas mengenai faktor-faktor kemenangan, sebab-sebab tegaknya kekuasaan di muka bumi, serta cara mengalahkan musuh betapapun besar kekuatannya.

Akan tampak baginya bahwa sebab-sebab dan faktor-faktor tersebut semuanya kembali kepada dua perkara pokok, yaitu: iman yang benar kepada Allah dan Rasul-Nya, serta jihad yang tulus di jalan-Nya.

Telah diketahui bahwa iman yang syar‘i—yang dengannya Allah menggantungkan kemenangan dan kesudahan yang baik—mencakup keikhlasan kepada Allah dalam beramal, melaksanakan perintah-Nya, dan meninggalkan larangan-Nya. Ia juga mencakup kewajiban menjadikan syariat sebagai hukum dalam seluruh urusan masyarakat, melakukan amar ma‘ruf dan nahi mungkar, serta mengembalikan setiap perselisihan kepada Kitab Allah عز وجل dan Sunnah Rasul-Nya .

Iman juga mencakup kewajiban mempersiapkan kekuatan semampunya untuk membela agama dan wilayah kaum muslimin, serta berjihad melawan orang yang menyimpang dari kebenaran hingga kembali kepadanya.

Adapun faktor kedua, yaitu jihad yang tulus, maka ia juga termasuk konsekuensi iman. Namun Allah سبحانه menegaskannya secara khusus dan menyebutkannya secara tersendiri di banyak tempat dalam Al-Qur’an. Demikian pula Rasulullah ﷺ memerintahkan umat untuk melakukannya dan mendorong mereka kepadanya, karena besarnya kedudukannya dan besarnya kebutuhan terhadapnya.

Hal itu karena kebanyakan manusia tidak cukup dicegah dari kebatilan hanya dengan janji pahala dan ancaman siksa semata. Mereka memerlukan kekuasaan yang memaksa yang menegakkan kebenaran dan menahan mereka dari kebatilan.

Apabila dua faktor pokok ini terpenuhi—yaitu iman kepada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya—pada suatu umat atau negara, maka kemenangan akan menjadi sekutu mereka. Allah akan menetapkan bagi mereka kekuasaan di bumi dan menjadikan mereka sebagai pemimpin di dalamnya. Itu adalah janji Allah yang tidak pernah diingkari dan sunnah-Nya yang tidak berubah.

Hal ini telah terjadi pada generasi awal umat ini: mereka memperoleh kemuliaan, kekuasaan, dan kemenangan atas musuh-musuh mereka. Semua itu menunjukkan kebenaran apa yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan yang dibawa oleh Sunnah Rasul yang terpercaya عليه الصلاة والسلام.

Setiap orang yang memiliki sedikit pengetahuan tentang sejarah Islam mengetahui kebenaran hal ini, bahwa itu adalah kenyataan yang tidak dapat diingkari. Tidak ada sebabnya selain apa yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu ketulusan generasi pertama itu dalam iman kepada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya, baik dengan perkataan, perbuatan, maupun keyakinan.

Wahai saudaraku yang mulia, berikut beberapa ayat yang menunjukkan hal tersebut, agar engkau berada di atas pengetahuan dan keyakinan, serta agar engkau dapat melakukan semampumu dalam berdakwah di jalan Tuhanmu, mengingatkan saudara-saudaramu kaum muslimin tentang sebab-sebab kemenangan dan sebab-sebab kehinaan.

Karena sungguh, jika Allah memberi hidayah kepada satu orang melalui dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah yang sangat berharga, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang sahih dari Rasulullah ﷺ.

Allah عز وجل berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (Muhammad: 7)

Para ahli tafsir telah bersepakat bahwa menolong Allah berarti menolong agama-Nya dengan mengamalkannya, berdakwah kepadanya, dan berjihad melawan orang yang menyelisihinya.

Makna ini juga ditunjukkan oleh ayat lain dalam Surah Al-Hajj:

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ ۝ الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ

“Dan sungguh Allah pasti akan menolong orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka menegakkan salat, menunaikan zakat, menyuruh kepada yang ma‘ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (Al-Hajj: 40–41)

Allah juga berfirman:

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan adalah hak bagi Kami menolong orang-orang yang beriman.” (Ar-Rum: 47)

Tidak diragukan lagi bahwa orang beriman adalah orang yang menegakkan perintah Allah, membenarkan berita-berita-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta berhukum dengan syariat-Nya.

Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian furqan (pembeda antara yang benar dan yang salah), menghapus kesalahan-kesalahan kalian, dan mengampuni kalian.” (Al-Anfal: 29)

Allah juga menjelaskan sifat-sifat orang beriman dan bertakwa:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan adalah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab, dan para nabi; serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, orang yang meminta-minta, dan untuk memerdekakan budak; mendirikan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; serta bersabar dalam kesempitan, penderitaan, dan pada saat peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 177)

Maka renungkanlah wahai saudaraku sifat-sifat yang mulia dan akhlak yang agung ini. Kemudian hisablah dirimu dengan menerapkannya agar engkau termasuk orang-orang beriman yang jujur dan orang-orang bertakwa yang beruntung.

Tidak diragukan bahwa setiap orang yang mengaku sebagai muslim, baik raja, pemimpin, amir, maupun selain mereka, wajib mengoreksi dirinya dan berjihad melawan dirinya agar berakhlak dengan akhlak-akhlak mulia ini serta mengamalkan amal-amal saleh tersebut.

Ia juga wajib mewajibkan rakyat yang berada di bawah kepemimpinannya untuk menjalankan akhlak dan amal yang diwajibkan Allah kepada kaum muslimin, bersungguh-sungguh dalam hal itu, memohon pertolongan kepada Allah, serta mengangkat orang-orang saleh yang membantunya menegakkan perintah Allah dan Rasul-Nya sesuai kemampuan.

Ia juga harus bekerja sama dengan para raja, pemimpin, dan tokoh lainnya dalam urusan besar ini yang menjadi sebab kemuliaan, kemenangan, dan kekuasaan mereka di bumi.

Sebagaimana firman Allah عز وجل:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dia juga akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka dan akan mengganti keadaan mereka setelah rasa takut menjadi aman. Mereka menyembah-Ku dan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun. Barang siapa yang kafir setelah itu maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)

Allah juga berfirman dalam Surah Al-Anfal, memerintahkan hamba-Nya untuk mempersiapkan kekuatan:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian mampu dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang, yang dengan itu kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian serta orang-orang lain selain mereka yang kalian tidak mengetahuinya, tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kalian infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan sempurna kepada kalian dan kalian tidak akan dizalimi.” (Al-Anfal: 60)

Allah juga memerintahkan mereka untuk berhati-hati terhadap musuh dan tipu daya mereka. Allah berfirman dalam Surah An-Nisa:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersiap-siagalah kalian, lalu berangkatlah (ke medan perang) secara berkelompok-kelompok atau berangkatlah bersama-sama.” (An-Nisa: 71)

Allah سبحانه juga berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ:

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُمْ مَيْلَةً وَاحِدَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ كَانَ بِكُمْ أَذًى مِنْ مَطَرٍ أَوْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَنْ تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

“Dan apabila engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka lalu engkau hendak mendirikan salat bersama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) bersamamu dan mereka harus membawa senjata mereka. Apabila mereka telah sujud, maka hendaklah mereka berada di belakang kalian (untuk berjaga). Kemudian hendaklah datang golongan yang lain yang belum salat, lalu mereka salat bersamamu dan hendaklah mereka mengambil kewaspadaan mereka serta senjata mereka. Orang-orang kafir sangat ingin agar kalian lengah terhadap senjata dan barang-barang kalian sehingga mereka dapat menyerang kalian dengan satu serangan sekaligus. Tidak ada dosa atas kalian jika kalian mendapat kesusahan karena hujan atau karena sakit untuk meletakkan senjata kalian, tetapi tetaplah kalian waspada. Sesungguhnya Allah telah menyediakan bagi orang-orang kafir azab yang menghinakan.” (An-Nisa: 102)

Maka perhatikanlah wahai saudaraku ajaran yang agung dan arahan yang sangat jelas ini dari Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dan yang rahasia, yang di tangan-Nya pengaturan hati seluruh makhluk dan di tangan-Nya pula kendali segala urusan.

Dari ayat ini tampak jelas perhatian Islam terhadap sebab-sebab (usaha), dorongan untuk mengambilnya, serta peringatan agar tidak mengabaikan atau lalai darinya.

Dari ayat tersebut juga jelas bahwa seorang muslim tidak boleh berpaling dari sebab-sebab atau meremehkannya. Namun pada saat yang sama tidak boleh pula bergantung kepada sebab-sebab itu. Yang wajib adalah bergantung hanya kepada Allah, dengan keyakinan bahwa kemenangan berada di tangan-Nya.

Inilah hakikat tawakal yang syar‘i, yaitu:
mengambil sebab-sebab dan memperhatikannya, sekaligus bersandar kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya.

Allah سبحانه telah menegaskan makna ini dalam beberapa ayat, di antaranya firman-Nya:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya.” (At-Talaq: 2–3)

Dalam ayat ini Allah menyebutkan takwa terlebih dahulu, karena takwa adalah sebab yang paling besar. Hakikat takwa adalah menaati Allah dan Rasul-Nya dalam segala hal, termasuk mengambil sebab-sebab yang bersifat fisik, maknawi, politik, dan militer.

Kemudian Allah menyebutkan tawakal, dengan firman-Nya:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya.” (At-Talaq: 3)

Artinya: Allah akan menjadi penolong dan pencukup baginya.

Allah juga berfirman:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ ۝ وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَى وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“(Ingatlah) ketika kalian memohon pertolongan kepada Tuhan kalian, lalu Dia mengabulkan kalian: ‘Sesungguhnya Aku akan membantu kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.’ Dan Allah tidak menjadikannya melainkan sebagai kabar gembira dan agar hati kalian menjadi tenang karenanya. Dan kemenangan itu tidak datang kecuali dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Al-Anfal: 9–10)

Adapun jihad yang tulus, maka Allah سبحانه telah menyebutkannya dalam banyak ayat, serta menjelaskan apa yang dihasilkan darinya berupa kemenangan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Allah juga menjelaskan sifat-sifat para mujahid yang tulus agar mereka dapat dibedakan dari selain mereka.

Allah Ta‘ala berfirman:

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwa kalian di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” (At-Taubah: 41)

Allah juga berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ۝ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ۝ وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَاللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian bertemu dengan suatu pasukan, maka tetaplah teguh dan banyaklah mengingat Allah agar kalian beruntung. Taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berselisih sehingga kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian. Bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka dengan rasa angkuh dan ingin dilihat manusia serta menghalangi dari jalan Allah. Dan Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan.” (Al-Anfal: 45–47)

Maka renungkanlah wahai orang yang beriman sifat-sifat agung dari mujahid yang tulus ini, agar menjadi jelas bagimu keadaan kaum muslimin pada masa sekarang dan keadaan para mujahid terdahulu. Dengan demikian engkau mengetahui rahasia keberhasilan mereka dan sebab kegagalan orang-orang setelah mereka.

Tidak ada jalan untuk meraih kemenangan di dunia dan kebahagiaan di akhirat kecuali dengan berakhlak dengan akhlak yang Allah perintahkan dan serukan, yang dengannya Allah menggantungkan kemenangan. Allah telah menjelaskannya dalam Kitab-Nya yang nyata melalui ayat-ayat yang telah disebutkan ini dan ayat-ayat lainnya.

Allah عز وجل juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ ۝ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ ۝ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ۝ وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Maukah Aku tunjukkan kepada kalian suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang pedih? (Yaitu) kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, serta tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang besar. Dan (ada pula) karunia lain yang kalian cintai, yaitu pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.” (As-Saff: 10–13)

Allah سبحانه telah mengumpulkan dalam ayat-ayat ini sebab-sebab kemenangan dan mengembalikannya kepada dua faktor utama, yaitu:

  1. Iman kepada Allah dan Rasul-Nya
  2. Jihad di jalan-Nya

Allah menjanjikan atas hal tersebut ampunan dosa, kemenangan surga di akhirat, serta kemenangan dan penaklukan di dunia. Allah juga memberitakan bahwa kaum muslimin menyukai kemenangan dan penaklukan, karena itu Dia berfirman:

وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ

“Dan (karunia lain) yang kalian cintai: pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat.” (As-Saff: 13)

Apabila para raja dan pemimpin kita dalam konferensi ini benar-benar menginginkan kemenangan, penaklukan yang dekat, serta kebahagiaan di dunia dan akhirat, maka Allah telah menjelaskan kepada mereka jalannya serta menerangkan faktor-faktor dan sebab-sebab yang mengantarkan kepadanya.

Maka yang harus mereka lakukan adalah:

  • Bertobat kepada Allah dengan tobat yang tulus dari kelalaian dan kekurangan mereka sebelumnya dalam menunaikan hak Allah dan hak para hamba-Nya.
  • Berjanji dengan sungguh-sungguh untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
  • Menjadikan syariat Allah sebagai hukum dan berpegang teguh kepada agama-Nya.
  • Bersatu dalam berjihad melawan musuh dengan seluruh kekuatan yang Allah berikan kepada mereka.
  • Meninggalkan prinsip-prinsip yang bertentangan dengan syariat Allah dan hakikat agama-Nya.
  • Bersandar kepada Allah semata, bukan kepada blok timur ataupun blok barat.
  • Mengambil sebab-sebab dan mempersiapkan kekuatan dengan segala sarana yang dibolehkan oleh syariat.
  • Bersikap mandiri dan tidak memihak kepada blok-blok kekufuran, baik dari timur maupun barat, dengan tetap menonjolkan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya serta berpegang teguh pada agama dan syariat-Nya.

Adapun senjata dan berbagai perlengkapan militer, maka tidak mengapa memperolehnya dari berbagai jalan dan sarana selama tidak bertentangan dengan syariat yang suci.

Kami memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi agar menjadikan konferensi ini penuh keberkahan, memberi manfaat melalui konferensi ini kepada para hamba-Nya, menyatukan kaum muslimin dengannya, memperbaiki para pemimpin mereka, serta memberi taufik kepada orang-orang yang berkumpul di dalamnya untuk melakukan hal yang diridai-Nya, yang mengangkat kemuliaan agama-Nya dan merendahkan musuh-musuh-Nya, mengembalikan kebenaran yang dirampas kepada yang berhak menerimanya, serta menolak segala prinsip dan akhlak yang bertentangan dengan agama Islam.

Sesungguhnya Dia adalah Pelindung hal tersebut dan Maha Kuasa atasnya.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi kita Muhammad, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.1

  1. Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah karya Syaikh Ibn Baz (2/166)  ↩︎

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *