Wajibnya Memusuhi Yahudi, Kaum Musyrik, dan Orang-orang Kafir Lainnya

Alih Bahasa: Ustadz Idzki Arrusman حفظه الله

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اهتدى بهداه.

Amma ba’du:

Beberapa surat kabar lokal telah memuat pernyataan dari sebagian orang yang berbunyi: (Sesungguhnya kami tidak menaruh permusuhan terhadap Yahudi dan Yudaisme, dan sesungguhnya kami menghormati semua agama samawi). Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks pembicaraannya mengenai situasi di Timur Tengah setelah agresi Yahudi terhadap bangsa Arab.

Mengingat perkataan mengenai kaum Yahudi dan agama Yahudi ini menyelisihi nash (teks) Al-Qur’an al-Karim dan Sunnah yang suci, serta bertentangan dengan akidah Islam, dan karena pernyataan ini dikhawatirkan dapat mengecoh sebagian orang, maka saya memandang perlu untuk memberikan peringatan atas kesalahan yang terkandung di dalamnya sebagai bentuk nasihat karena Allah dan kepada hamba-hamba-Nya. Maka saya katakana:

Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma (kesepakatan) kaum Muslimin telah menunjukkan bahwa wajib bagi umat Islam untuk memusuhi orang-orang kafir dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan seluruh kaum musyrik lainnya. Umat Islam juga wajib berwaspada agar tidak mencintai mereka atau menjadikan mereka sebagai pemimpin/kekasih (wali).

Sebagaimana yang dikabarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab-Nya yang jelas—yang tidak didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun dari belakang, diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji—bahwa kaum Yahudi dan orang-orang musyrik adalah manusia yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia (wali) yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu…” (QS. Al-Mumtahanah: 1)

Hingga firman-Nya:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ma’idah: 51)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mencintai kekafiran daripada keimanan. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. At-Taubah: 23)

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman mengenai perihal kaum Yahudi:

تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ ۝ وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ ۝ لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, niscaya mereka tidak mengambil orang-orang musyrik itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang fasik. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik…” (QS. Al-Ma’idah: 80-82)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونََ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka…” (QS. Al-Mujadilah: 22)

Ayat-ayat dengan makna serupa sangatlah banyak, dan semuanya memberikan dalil yang tegas (sharih) mengenai kewajiban membenci kaum kafir dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan seluruh kaum musyrik, serta kewajiban memusuhi mereka hingga mereka beriman kepada Allah semata. Ayat-ayat tersebut juga menunjukkan haramnya mencintai dan loyal kepada mereka. Hal itu berarti membenci mereka dan waspada terhadap makar mereka; dan tidaklah demikian itu melainkan karena kekafiran mereka kepada Allah, permusuhan mereka terhadap agama-Nya, kebencian mereka kepada para wali-Nya, serta tipu daya mereka terhadap Islam dan pemeluknya.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ ۝ هَا أَنْتُمْ أُولاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ ۝ إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu (bitanah) orang-orang yang di luar kalanganmu (orang kafir), karena mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran benci bercampur marah terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu ditimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran: 118-120)

Dalam ayat-ayat yang mulia ini, terdapat dorongan bagi orang-orang mukmin untuk membenci orang-orang kafir dan memusuhi mereka karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dari berbagai sisi. Juga peringatan agar tidak menjadikan mereka sebagai bitanah (orang kepercayaan/teman akrab). Ditegaskan pula bahwa mereka tidak pernah lalai dalam mendatangkan keburukan kepada kita; inilah makna dari firman-Nya:

لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا

“mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan”. Khabaal bermakna kerusakan dan penghancuran.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan bahwa mereka menyukai ‘anat kita; ‘anat bermakna kesulitan/penderitaan. Beliau menjelaskan pula bahwa kebencian telah tampak dari mulut mereka melalui perkataan yang mereka ucapkan—bagi siapa yang mau merenung dan memikirkannya. Namun, apa yang disembunyikan dalam dada mereka berupa kedengkian, kebencian, dan niat buruk terhadap kita jauh lebih besar daripada apa yang mereka tampakkan.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa orang-orang kafir ini terkadang menampakkan keislaman secara munafik demi mencapai tujuan busuk mereka. Namun jika mereka kembali kepada setan-setan mereka (kelompok mereka), mereka menggigit ujung jari karena geram terhadap umat Islam. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan bahwa kebaikan yang kita dapatkan berupa kemuliaan, kejayaan, dan kemenangan atas musuh membuat mereka sedih. Sebaliknya, keburukan yang menimpa kita seperti kekalahan, penyakit, dan sejenisnya membuat mereka senang. Hal itu tidak lain kecuali karena besarnya permusuhan dan kebencian mereka kepada kita dan agama kita.

Sikap-sikap Yahudi terhadap Islam, Rasul Islam, dan umat Islam semuanya menjadi saksi atas apa yang ditunjukkan oleh ayat-ayat mulia tersebut tentang kerasnya permusuhan mereka terhadap Muslimin. Realitas dari kaum Yahudi di zaman kita sekarang, di zaman kenabian, dan di masa-masa di antara keduanya adalah bukti terbesar akan hal itu. Demikian pula apa yang terjadi dari kaum Nasrani dan kaum kafir lainnya berupa tipu daya terhadap Islam dan memerangi pemeluknya, serta pengerahan upaya terus-menerus untuk meragukan Islam, menjauhkan orang darinya, dan mengaburkan pemahaman pengikutnya. Termasuk pula pengeluaran dana besar-besaran untuk para misionaris Kristen dan para dai yang menyeru kepadanya. Semua ini menunjukkan apa yang ditunjukkan oleh ayat-ayat mulia di atas tentang kewajiban membenci seluruh orang kafir, waspada terhadap mereka dan makar mereka, serta tidak menjadikan mereka sebagai orang kepercayaan.

Maka wajib bagi pemeluk Islam untuk menyadari perkara-perkara besar ini, serta memusuhi dan membenci siapa pun yang Allah perintahkan untuk dimusuhi dan dibenci, baik dari kalangan Yahudi, Nasrani, maupun seluruh kaum musyrik lainnya, hingga mereka beriman kepada Allah semata dan berkomitmen pada agama-Nya yang dibawa oleh Nabi-Nya, Muhammad ﷺ.

Dengan demikian, mereka benar-benar merealisasikan upaya mengikuti ajaran ayah mereka, Ibrahim, dan agama Nabi mereka, Muhammad ﷺ, sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam ayat sebelumnya, yaitu firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينََ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Dan firman-Nya:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ ۝ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah, kecuali (menyembah) Tuhan yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” (QS. Az-Zukhruf: 26-27)

Serta firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءََ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ma’idah: 57) Dan ayat-ayat dengan makna ini sangatlah banyak.

Adapun firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik…” (QS. Al-Ma’idah: 82)

Ini adalah dalil yang nyata bahwa seluruh orang kafir adalah musuh bagi orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Muhammad ﷺ. Namun, kaum Yahudi dan orang-orang musyrik penyembah berhala adalah yang paling keras permusuhannya. Dalam hal ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mendorong orang-orang beriman untuk memusuhi kaum kafir dan musyrik secara umum, dan mengkhususkan kaum Yahudi serta musyrik dengan permusuhan yang lebih besar sebagai balasan atas kerasnya permusuhan mereka kepada kita. Hal ini mewajibkan kita untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap makar dan permusuhan mereka.

Kemudian, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala—di samping perintah-Nya kepada orang beriman untuk memusuhi orang kafir—juga mewajibkan umat Islam untuk berlaku adil terhadap musuh-musuh mereka. Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk tegak dengan keadilan terhadap semua lawan mereka, dan melarang rasa benci terhadap suatu kaum mendorong mereka untuk meninggalkan keadilan. Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan bahwa adil terhadap musuh maupun kawan adalah yang lebih dekat kepada takwa. Maknanya: berlaku adil kepada seluruh manusia, baik orang yang dicintai (wali) maupun musuh, adalah jalan yang paling dekat untuk bertakwa (menghindari) kemurkaan dan azab Allah.

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil Pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90)

Ayat yang mulia ini adalah salah satu ayat yang paling komprehensif dalam memerintahkan setiap kebaikan dan melarang setiap keburukan. Oleh karena itu, diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ mengutus Abdullah bin Rawahah Al-Anshari ke Khaibar untuk menaksir hasil buah kurma milik Yahudi—saat itu Nabi ﷺ telah melakukan kesepakatan dengan mereka untuk menggarap pohon kurma dan tanahnya dengan bagi hasil setengah dari buah dan tanamannya—maka Abdullah menaksir jumlah buah kurma tersebut. Kaum Yahudi berkata kepadanya, “Taksiran ini mengandung kezaliman.”

Maka Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada mereka:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian adalah makhluk yang paling aku benci melebihi jumlah kera dan babi (di muka bumi). Namun, kebencianku kepada kalian dan kecintaanku kepada Rasulullah ﷺ tidak akan pernah mendorongku untuk menzalimi kalian.”

Mendengar itu, kaum Yahudi berkata: “Karena (prinsip) inilah langit dan bumi bisa tegak.”

Maka, keadilan adalah wajib ditunaikan baik kepada kerabat maupun orang jauh, kepada teman maupun orang yang dibenci. Namun, hal itu tidak menghalangi kita untuk membenci musuh-musuh Allah dan memusuhi mereka, serta mencintai para wali Allah yang beriman dan loyal kepada mereka, sebagai pengamalan terhadap dalil-dalil syar’i dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Adapun perkataan penulis: (Dan sesungguhnya kami menghormati semua agama samawi), maka ini adalah sebuah kebenaran, namun pembaca perlu mengetahui bahwa agama-agama samawi (terdahulu) telah kemasukan penyimpangan (tahrif) dan perubahan yang jumlahnya tidak ada yang sanggup menghitungnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pengecualian hanya berlaku bagi agama Islam yang Allah bawa melalui perantara Nabi, kekasih, dan makhluk pilihan-Nya, yaitu Nabi, Imam, dan junjungan kita, Muhammad bin Abdullah ﷺ. Allah telah menjamin dan menjaga agama ini dari perubahan maupun penggantian, yaitu dengan menjaga Kitab-Nya yang mulia (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya yang terpercaya—semoga selawat dan salam terbaik tercurah kepadanya dari Tuhannya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Dzikr (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Maka Allah telah menjaga agama ini dan melindunginya dari makar para musuh melalui para ulama pakar (jahabidzah) yang kritis lagi amanah. Mereka menepis dari agama ini penyimpangan orang-orang yang ekstrem, pemalsuan orang-orang yang sesat, kebohongan para pendusta, dan penakwilan orang-orang bodoh. Tidak ada seorang pun yang berani melakukan perubahan atau penggantian melainkan Allah akan membongkar kedoknya dan membatalkan tipu dayanya.

Adapun agama-agama lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjamin penjagaannya. Sebaliknya, tugas menjaga itu diserahkan kepada sebagian hamba-Nya, namun mereka tidak mampu menjaganya. Maka masuklah ke dalamnya berbagai perubahan dan penyimpangan yang hanya Allah yang mengetahuinya, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya…” (QS. Al-Ma’idah: 44)

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ وَمِنَ الَّذِينَ هَادُوا سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ

“Wahai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera mementingkan kekafiran, di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar berita-berita bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka mengubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya…” (QS. Al-Ma’idah: 41)

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakan: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 79)

Serta Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونََ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu) datang dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 78) Dan ayat-ayat dengan makna ini sangatlah banyak.

Adapun bagian dari agama-agama samawi terdahulu yang masih selamat dari perubahan dan penggantian, maka Allah telah menghapusnya (nasakh) dengan diutusnya Rasulullah ﷺ dan diturunkannya Al-Qur’an al-Karim. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasul-Nya, Muhammad ﷺ, kepada seluruh manusia dan menghapus seluruh syariat (terdahulu) dengan syariatnya, serta menjadikan Kitab-Nya yang mulia (Al-Qur’an) sebagai saksi sekaligus standar (muhaimin) atas kitab-kitab samawi lainnya.

Maka wajib bagi seluruh penduduk bumi dari kalangan jin dan manusia, baik mereka orang Yahudi, Nasrani, maupun jenis anak cucu Adam lainnya, serta seluruh golongan jin, untuk masuk ke dalam agama Allah yang dibawa oleh penutup para Rasul kepada manusia secara umum. Mereka wajib berkomitmen dan istikamah di atasnya, karena itulah agama Islam yang Allah tidak akan menerima agama apa pun dari seseorang selainnya.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ ۝ فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. Kemudian jika mereka membantah kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: “Apakah kamu (mau) masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran: 19-20)

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيََ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ ۝ فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami berserah diri kepada-Nya”. Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 136-137)

Serta firman-Nya Ta’ala:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنََ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Allah Ta’ala juga berfirman dalam surah Al-Ma’idah, setelah menyebutkan Taurat dan Injil, seraya menyapa Nabi-Nya Muhammad ﷺ:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابََ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ ۝ وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُم وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ ۝ أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan lagi menjadi saksi sekaligus pengawas (muhaimin) terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang… dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu… Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Ma’idah: 48-50)

Dalam ayat-ayat mulia ini terdapat dalil yang nyata dan bukti yang mutlak atas kewajiban memutuskan perkara di antara Yahudi, Nasrani, dan seluruh manusia dengan apa yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya Muhammad ﷺ. Hal ini juga menunjukkan bahwa tidak ada Islam bagi siapa pun dan tidak ada hidayah kecuali dengan mengikuti apa yang beliau bawa. Segala sesuatu yang menyelisihi hal tersebut masuk dalam hukum Jahiliyah, dan tidak ada hukum yang lebih baik daripada hukum Allah.

Allah Ta’ala juga berfirman dalam surah Al-A’raf:

وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali kepada Engkau. Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-A’raf: 156-157)

Dalam ayat yang mulia ini terdapat dalil yang pasti dan hujah yang tak terbantahkan mengenai keumuman risalah Nabi ﷺ bagi kaum Yahudi dan Nasrani. Beliau diutus untuk membawa keringanan bagi mereka, dan sesungguhnya keberuntungan tidak akan didapatkan oleh umat mana pun yang ada di zaman beliau, begitu pula umat setelahnya hingga hari kiamat, kecuali dengan beriman kepada beliau, menolongnya, memuliakannya, serta mengikuti cahaya (Al-Qur’an) yang diturunkan bersamanya.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman setelah itu untuk mempertegas kedudukan ini dan menjelaskan keumuman risalah beliau:

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Katakanlah: ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.’” (QS. Al-A’raf: 158)

Dari ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya, menjadi jelas bagi setiap orang yang berakal bahwa petunjuk, keselamatan, dan kebahagiaan hanyalah diperoleh bagi siapa saja yang beriman kepada Muhammad ﷺ dan mengikuti petunjuk yang beliau bawa. Siapa pun yang menyimpang dari hal tersebut, maka ia berada dalam perselisihan, kesesatan, dan jauh dari hidayah; bahkan ia adalah orang kafir yang sebenarnya dan baginya neraka di hari kiamat.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنْْ يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الْأَحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُه

“…Dan barangsiapa di antara mereka (kaum musyrik dan ahli kitab) yang kafir kepadanya (Al-Qur’an), maka nerakalah tempat diancamkan baginya.” (QS. Hud: 17)

Dan firman-Nya Ta’ala:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan…” (QS. Saba’: 28)

Serta firman-Nya Ta’ala:

وَمَاا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Dan firman-Nya Ta’ala:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1)

Dalam kitab Ash-Shahihain (Bukhari dan Muslim), dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

أعطيت خمسا لم يعطهن أحد من الأنبياء قبلي نصرت بالرعب مسيرة شهر وجعلت لي الأرض مسجدا وطهورا فأيما رجل من أمتي أدركته الصلاة فليصل وأحلت لي الغنائم ولم تحل لأحد من قبلي وأعطيت الشفاعة وكان النبي يبعث إلى قومه خاصة وبعثت إلى الناس عامة

“Aku dianugerahi lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun dari nabi-nabi sebelumku: Aku ditolong dengan rasa takut (yang menghinggapi musuh) dalam jarak perjalanan sebulan; dijadikan bagiku bumi sebagai masjid dan sarana bersuci, maka siapa pun dari umatku yang mendapati waktu salat, hendaklah ia salat; dihalalkan bagiku harta gampangan (ghanimah) yang tidak dihalalkan bagi seorang pun sebelumku; aku diberikan syafaat; dan dahulu para nabi diutus khusus kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia secara umum.”

Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

والذي نفسي بيده لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أهل النار

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini mendengar tentangku, baik ia seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada apa yang aku bawa, melainkan ia termasuk penghuni neraka.”

Ayat-ayat dan hadis-hadis dengan makna ini sangatlah banyak. Saya berharap apa yang telah kami sebutkan ini menjadi petunjuk dan penjelasan yang memuaskan bagi pembaca mengenai wajibnya memusuhi kaum kafir dari kalangan Yahudi dan selainnya, membenci mereka karena Allah, serta haramnya mencintai mereka dan menjadikan mereka sebagai pemimpin/teman setia. Juga mengenai telah terhapusnya (mansukh) seluruh syariat samawi kecuali syariat Islam yang dibawa oleh penutup para nabi, pemimpin para rasul, dan imam bagi orang-orang bertakwa, Nabi kita Muhammad bin Abdullah ﷺ. Semoga selawat dan salam tercurah kepada beliau dan seluruh nabi serta rasul. Semoga Allah menjadikan kita termasuk pengikut mereka dengan baik hingga hari kiamat. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Bukanlah makna dari ‘terhapusnya syariat-syariat terdahulu’ itu berarti syariat tersebut tidak dihormati atau boleh direndahkan. Bukan makna itu yang dimaksud. Akan tetapi, yang dimaksud adalah untuk menghilangkan anggapan keliru dari sebagian orang yang menyangka bahwa masih dibenarkan untuk mengikuti salah satu darinya, atau menganggap bahwa orang yang menisbatkan diri kepadanya (seperti Yahudi atau lainnya) berada di atas petunjuk.

Sebaliknya, itu adalah syariat-syariat yang telah dihapus (mansukh) sehingga tidak boleh diikuti sedikit pun darinya, andaikata pun syariat itu diketahui secara pasti keasliannya dan selamat dari perubahan. Maka, bagaimanakah lagi (dengan kondisi sekarang) di mana banyak darinya yang tidak lagi diketahui kebenarannya akibat penyimpangan yang dilakukan oleh musuh-musuh Allah? Mereka menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahuinya, mendustakan Allah dan agama-Nya demi mengikuti hawa nafsu, serta menulis kitab-kitab dengan tangan mereka sendiri lalu berkata: ‘Ini datangnya dari Allah.’

Dengan demikian, setiap orang yang memiliki sedikit ilmu dan bashirah (mata hati) akan mengetahui bahwa wajib bagi seluruh mukallaf (subjek hukum) dari kalangan jin dan manusia untuk masuk ke dalam agama Allah, yaitu Islam, dan berkomitmen padanya. Tidak dibenarkan bagi siapa pun untuk keluar darinya, baik menuju Yudaisme (Yahudi), Nasrani, maupun lainnya. Bahkan, kewajiban bagi seluruh mukallaf sejak Allah mengutus Nabi dan Rasul-Nya, Muhammad ﷺ, hingga hari kiamat adalah masuk ke dalam Islam dan berpegang teguh padanya.

Barangsiapa yang meyakini bahwa ia dibolehkan keluar dari syariat Muhammad ﷺ—sebagaimana Nabi Khidir dahulu dibolehkan keluar dari syariat Nabi Musa Kalimurrahman ‘alaihis shalatu was salam—maka ia telah kafir menurut kesepakatan (ijma’) para ulama. Ia diminta untuk bertaubat dan dijelaskan dalil-dalil kepadanya; jika ia bertaubat (maka diterima), namun jika tidak, maka ia dihukum bunuh, sebagai pengamalan dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabawi yang telah disebutkan sebelumnya tentang keumuman risalah Muhammad ﷺ kepada seluruh jin dan manusia.

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan, Dialah pencukup bagi kita dan sebaik-baik pelindung. Kita memohon kepada-Nya ‘Azza wa Jalla agar meneguhkan kita di atas agama-Nya, memperbaiki keadaan kaum Muslimin semuanya, serta menganugerahkan hidayah kepada hamba-hamba-Nya untuk masuk ke dalam agama-Nya dan mengingkari segala hal yang menyelisihinya. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Semoga selawat dan salam tercurah kepada hamba dan rasul-Nya, Muhammad, serta kepada seluruh nabi, rasul, dan orang-orang saleh. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.1

  1. Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah karya Syaikh Ibn Baz (2/178) ↩︎

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *