
Alih Bahasa: Ustadz Idzki Arrusman حفظه الله
Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga tercurah kepada penghulu para nabi dan rasul, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya seluruhnya. Amma ba’du:
Aku telah membaca sebuah artikel yang diterbitkan di beberapa surat kabar yang memuat pengagungan sebagian amalan jahiliah, berbangga dengannya, dan mengajak kepadanya—seperti ketergantungan pada bintang-bintang, zodiak, keberuntungan, dan ramalan nasib. Maka aku memandang perlu untuk memberikan peringatan terhadap kebatilan yang terkandung dalam artikel tersebut. Aku berkata:
Apa yang disebut sebagai ilmu perbintangan, keberuntungan, dan ramalan nasib termasuk amalan jahiliah yang datang Islam untuk membatalkannya dan menjelaskan bahwa itu termasuk kesyirikan. Sebab di dalamnya terdapat ketergantungan kepada selain Allah Ta‘ala, keyakinan bahwa selain Allah dapat memberi mudarat dan manfaat, serta pembenaran terhadap para peramal dan dukun yang mengaku mengetahui perkara gaib secara dusta dan batil. Mereka mempermainkan akal orang-orang polos dan lemah untuk mengambil harta mereka dan merusak akidah mereka.
Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
مَنْ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ النُّجُومِ فَقَدِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ
“Barang siapa mengambil sebagian dari ilmu bintang, maka ia telah mengambil bagian dari sihir, semakin banyak ia mengambil maka semakin besar bagian sihirnya.” (HR. Abu Dawud dengan sanad sahih)
Dan dalam riwayat an-Nasa’i dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
مَنْ عَقَدَ عُقْدَةً ثُمَّ نَفَثَ فِيهَا فَقَدْ سَحَرَ، وَمَنْ سَحَرَ فَقَدْ أَشْرَكَ، وَمَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ
“Barang siapa membuat simpul lalu meniupnya, maka ia telah melakukan sihir. Dan siapa yang melakukan sihir maka ia telah berbuat syirik. Dan siapa yang bergantung pada sesuatu, maka ia diserahkan kepada sesuatu itu.”
Ini menunjukkan bahwa sihir adalah kesyirikan kepada Allah Ta‘ala, dan bahwa siapa yang bergantung kepada ucapan para dukun atau peramal maka ia diserahkan kepada mereka dan terhalang dari pertolongan Allah.
Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari sebagian istri Nabi ﷺ bahwa Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ يَوْمًا
“Barang siapa mendatangi peramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka salatnya tidak diterima selama empat puluh hari.”
Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ
“Barang siapa mendatangi dukun lalu membenarkan ucapannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.” (HR. Empat Sunan)
Dan dari Imran bin Husain secara marfu’:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ، أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ، أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ، وَمَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang melakukan tathayyur (merasa sial), atau dibuatkan tathayyur untuknya, atau melakukan perdukunan, atau dibuatkan perdukunan untuknya, atau melakukan sihir, atau dibuatkan sihir untuknya. Dan barang siapa mendatangi dukun lalu membenarkan ucapannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.” (Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad yang baik)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Siapa yang terkenal pandai dalam melakukan ramalan di kalangan mereka, mereka menyebutnya ‘a’if atau ‘arraf. Maksudnya adalah bahwa siapa pun yang mengaku mengetahui sesuatu dari perkara gaib, maka ia termasuk dalam nama ‘kahin’ (dukun) atau memiliki makna yang sama sehingga dihukumi seperti mereka. Sebab terkadang seseorang benar dalam mengabarkan sebagian perkara gaib melalui penyingkapan, dan sebagian lainnya berasal dari setan. Hal itu bisa melalui firasat, ramalan, tathayyur, melempar kerikil, menggambar di tanah, astrologi, perdukunan, sihir, dan semisalnya dari ilmu-ilmu jahiliah. Yang dimaksud dengan jahiliah adalah segala sesuatu yang tidak mengikuti para rasul, seperti para filosof, dukun, ahli nujum, dan kaum dahriyyah Arab sebelum diutusnya Nabi ﷺ. Semua itu adalah ilmu bagi kaum yang tidak memiliki pengetahuan tentang apa yang dibawa para rasul. Semua pelakunya disebut kahin atau ‘arraf atau yang semakna. Maka siapa yang mendatangi mereka atau membenarkan ucapan mereka, ia terkena ancaman tersebut. Dan telah mewarisi ilmu-ilmu ini dari mereka (orang-orang jahiliah) sebagian kaum, lalu mereka mengklaim dengan ilmu tersebut bahwa mereka mengetahui perkara gaib yang hanya Allah semata mengetahuinya. Mereka juga mengaku sebagai wali Allah dan bahwa hal itu merupakan karamah.“ Selesai kutipan dari perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah.
Telah tampak dari sabda Nabi ﷺ dan dari penjelasan para imam ulama serta fuqaha umat ini bahwa ilmu perbintangan, apa yang disebut ramalan zodiak, membaca telapak tangan, membaca cangkir kopi, dan mengetahui keberuntungan semuanya termasuk ilmu jahiliah. Itu adalah kemungkaran yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan termasuk amalan jahiliah serta ilmu mereka yang batil, yang datang Islam untuk membatalkannya dan memperingatkan dari melakukannya, mendatangi pelakunya, bertanya kepada mereka, atau membenarkan apa yang mereka kabarkan. Sebab semua itu termasuk perkara gaib yang hanya Allah mengetahuinya.
Allah Ta‘ala berfirman:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib selain Allah.” (QS. An-Naml: 65)
Nasihatku bagi siapa saja yang masih bergantung pada hal-hal seperti ini adalah agar ia bertobat kepada Allah dan memohon ampunan-Nya. Hendaknya ia hanya bergantung kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya dalam segala urusan, sambil tetap mengambil sebab-sebab yang syar’i dan sebab-sebab duniawi yang dibolehkan. Hendaknya ia meninggalkan perkara-perkara jahiliah ini, menjauhinya, serta berhati-hati dari bertanya kepada para pelakunya atau membenarkan mereka—sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ serta demi menjaga agama dan akidahnya.
Kita memohon kepada Allah agar menganugerahkan kepada kita dan kaum muslimin pemahaman yang benar dalam agama-Nya, mengamalkan syariat-Nya, dan agar tidak membelokkan hati kita setelah Dia memberi kita petunjuk. Semoga salawat, salam, dan berkah tercurah kepada Nabi-Nya dan penutup para rasul, Muhammad, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat.1
- Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah karya Syaikh Ibn Baz (2/123) ↩︎





