Daftar Isi

Disusun Oleh: Ustadz Idzki Arrusman Hafidzhahullah
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد
Pertama: Pendapat Jumhur Fuqaha
Jumhur ulama dari kalangan Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah berpendapat bahwa salah satu syarat sah mengusap kedua khuf ialah mengenakannya dalam keadaan telah bersuci secara sempurna dari hadats kecil.
Dengan demikian, seseorang tidak diperbolehkan mengusap kedua khuf apabila ia mengenakannya sebelum menyempurnakan wudunya, menurut ketentuan yang berlaku dalam masing-masing mazhab.
Landasan pendapat ini ialah hadis al-Mughirah bin Syu’bah رضي الله عنه, beliau berkata:
كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فِي سَفَرٍ، فَأَهْوَيْتُ لِأَنْزِعَ خُفَّيْهِ، فَقَالَ: «دَعْهُمَا، فَإِنِّي أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ»، فَمَسَحَ عَلَيْهِمَا.
“Aku pernah bersama Nabi ﷺ dalam suatu perjalanan. Kemudian aku membungkuk untuk melepaskan kedua khuf beliau. Namun, beliau bersabda, ‘Biarkanlah keduanya, karena sesungguhnya aku memasukkan kedua kakiku ke dalamnya dalam keadaan suci.’ Lalu beliau mengusap kedua khuf tersebut.”
HR. Al-Bukhari no. 206 dan Muslim no. 274.
Sisi Pendalilan
Sabda Nabi ﷺ:
فَإِنِّي أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ
“Karena sesungguhnya aku memasukkan kedua kakiku ke dalamnya dalam keadaan suci.”
Menunjukkan bahwa kesucian sebelum mengenakan khuf merupakan sifat yang diperhitungkan dalam kebolehan mengusapnya.
Dalam tinjauan ushul fikih, penyebutan sifat kesucian tersebut memiliki hubungan dengan hukum yang sedang dijelaskan. Nabi ﷺ memberikan alasan mengapa kedua khuf tidak perlu dilepaskan, yaitu karena keduanya dikenakan dalam keadaan suci.
Dengan demikian, kesucian yang disebutkan dalam hadis bukan sekadar keterangan mengenai keadaan Nabi ﷺ, melainkan mengandung petunjuk terhadap syarat yang harus dipenuhi.
Jumhur fuqaha memahami lafaz طاهرتين sebagai kesucian yang diakui secara syar’i, yakni kesucian dari hadats melalui wudu yang sah, bukan semata-mata kebersihan kedua kaki dari najis.
Kedua: Pendapat Dawud azh-Zhahiri
Berbeda dengan jumhur, Dawud azh-Zhahiri berpendapat bahwa kesucian yang disyaratkan ketika mengenakan khuf cukup berupa kesucian kedua kaki dari najis.
Menurut pendapat yang dinukil darinya, seseorang tetap diperbolehkan mengusap khuf apabila kedua kakinya bersih dari najis ketika dikenakan, meskipun ia belum berada dalam keadaan suci dari hadats.
Perbedaan ini kembali kepada pemahaman terhadap makna lafaz Thaharah yang terdapat dalam hadis.
Jumhur membawanya kepada makna kesucian syar’i, sedangkan Dawud memahami kesucian tersebut sebagai terbebasnya kedua kaki dari najis.
Dengan demikian, letak perselisihan bukan pada pensyariatan mengusap khuf, melainkan pada hakikat kesucian yang menjadi syarat ketika mengenakannya.
Ketiga: Hadis Shafwan bin ‘Assal sebagai Penguat Pendapat Jumhur
Di antara dalil yang memperkuat pendapat jumhur ialah hadis Shafwan bin ‘Assal رضي الله عنه, beliau berkata:
كُنَّا فِي الْجَيْشِ الَّذِينَ بَعَثَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، فَأَمَرَنَا أَنْ نَمْسَحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ، إِذَا نَحْنُ أَدْخَلْنَاهُمَا عَلَى طُهُورٍ، ثَلَاثًا إِذَا سَافَرْنَا، وَلَيْلَةً إِذَا أَقَمْنَا، وَلَا نَخْلَعَهُمَا مِنْ غَائِطٍ وَلَا بَوْلٍ، وَلَا نَخْلَعَهُمَا إِلَّا مِنْ جَنَابَةٍ.
“Kami pernah berada dalam pasukan yang diutus oleh Rasulullah ﷺ. Beliau memerintahkan kami untuk mengusap kedua khuf apabila kami mengenakannya dalam keadaan suci, selama tiga hari ketika bepergian dan sehari semalam ketika bermukim. Kami tidak perlu melepaskannya karena buang air besar maupun buang air kecil, dan kami tidak melepaskannya kecuali karena janabah.”
Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf no. 793, Ibnu Khuzaimah no. 193, dan Ibnu Hibban no. 1325. Hadis ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dan Syaikh Syu’aib al-Arna’uth dalam takhrij Shahih Ibni Hibban.
Adapun al-Baihaqi meriwayatkannya dalam as-Sunan al-Kubra (1/423) dengan lafaz:
إِذَا نَحْنُ أَدْخَلْنَاهُمَا عَلَى طُهْرٍ
“Apabila kami mengenakan keduanya dalam keadaan suci.”
Imam an-Nawawi رحمه الله menilai sanad riwayat ini sebagai sanad yang baik dalam al-Majmu’ (1/512).
Sisi Pendalilan
Hadis Shafwan memiliki kedudukan penting dalam pembahasan ini karena terdapat penyebutan kesucian sebagai syarat ketika mengenakan khuf.
Lafaz:
إِذَا نَحْنُ أَدْخَلْنَاهُمَا عَلَى طُهُورٍ
“Apabila kami mengenakan keduanya dalam keadaan suci.”
Memberikan pengertian bahwa kebolehan mengusap khuf dikaitkan dengan keadaan suci ketika mengenakannya.
Dalam kaidah ushul fikih, pengaitan suatu hukum dengan sifat tertentu dapat menunjukkan bahwa sifat tersebut memiliki pengaruh terhadap hukum, selama terdapat petunjuk yang mendukung pemahaman demikian.
Terlebih lagi, hadis ini berbicara tentang rukhsah dalam persoalan thaharah. Oleh sebab itu, membawa makna kesucian kepada kesucian syar’i lebih sesuai dengan konteks pembicaraan daripada membatasinya pada kebersihan fisik kedua kaki.
Keempat: Penjelasan Imam al-Muzani رحمه الله
Ibnu Khuzaimah رحمه الله menuturkan bahwa beliau pernah menyampaikan hadis yang diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq tersebut kepada Imam al-Muzani, salah seorang murid utama Imam asy-Syafi’i.
Al-Muzani kemudian berkata:
حَدِّثْ بِهَذَا أَصْحَابَنَا؛ فَإِنَّهُ لَيْسَ لِلشَّافِعِيِّ حُجَّةٌ أَقْوَى مِنْ هَذَا.
“Sampaikanlah hadis ini kepada sahabat-sahabat kami, karena tidak ada hujah yang lebih kuat bagi asy-Syafi’i daripada hadis ini.”
Shahih Ibni Khuzaimah, no. 193.
Perkataan al-Muzani ini menunjukkan betapa besar kedudukan hadis Shafwan dalam menguatkan pendapat Imam asy-Syafi’i mengenai disyaratkannya kesucian ketika mengenakan khuf.
Hal ini sekaligus memperlihatkan salah satu metode istidlal para fuqaha terdahulu, yakni mengumpulkan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan suatu permasalahan, kemudian menjadikan sebagian riwayat sebagai penjelas dan penguat bagi riwayat yang lain.
Hadis al-Mughirah menerangkan praktik Nabi ﷺ, sedangkan hadis Shafwan mengandung perintah yang dikaitkan dengan keadaan suci ketika mengenakan khuf.
Kedua hadis tersebut saling menguatkan dalam menetapkan syarat kesucian menurut jumhur.
Kelima: Penjelasan al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani رحمه الله
Al-Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله menjelaskan permasalahan ini dalam Fathul Bari. Beliau berkata:
وَحَدِيثُ صَفْوَانَ وَإِنْ كَانَ صَحِيحًا، لَكِنَّهُ لَيْسَ عَلَى شَرْطِ الْبُخَارِيِّ، لَكِنْ حَدِيثُ الْبَابِ مُوَافِقٌ لَهُ فِي الدَّلَالَةِ عَلَى اشْتِرَاطِ الطَّهَارَةِ عِنْدَ اللُّبْسِ.
“Hadis Shafwan, meskipun sahih, tidak memenuhi persyaratan al-Bukhari. Akan tetapi, hadis dalam bab ini sejalan dengannya dalam menunjukkan disyaratkannya kesucian ketika mengenakan khuf.”
Kemudian beliau melanjutkan:
وَأَشَارَ الْمُزَنِيُّ بِمَا قَالَ إِلَى الْخِلَافِ فِي الْمَسْأَلَةِ، وَمُحَصَّلُهُ أَنَّ الشَّافِعِيَّ وَالْجُمْهُورَ حَمَلُوا الطَّهَارَةَ عَلَى الشَّرْعِيَّةِ فِي الْوُضُوءِ، وَخَالَفَهُمْ دَاوُدُ فَقَالَ: إِذَا لَمْ يَكُنْ عَلَى رِجْلَيْهِ نَجَاسَةٌ عِنْدَ اللُّبْسِ جَازَ لَهُ الْمَسْحُ.
“Al-Muzani melalui perkataannya tersebut mengisyaratkan adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini. Kesimpulannya, asy-Syafi’i dan jumhur memahami kesucian sebagai kesucian syar’i melalui wudu. Sementara Dawud menyelisihi mereka dengan mengatakan bahwa apabila kedua kaki seseorang tidak terdapat najis ketika mengenakan khuf, maka ia diperbolehkan mengusapnya.”
Fathul Bari, 1/309.
Analisis Fikih terhadap Perkataan Ibnu Hajar
Penjelasan Ibnu Hajar di atas memberikan gambaran yang jelas mengenai titik perbedaan pendapat para ulama.
Perselisihan tersebut pada hakikatnya berkisar pada penentuan makna kesucian dalam nash.
Dalam istilah ushul fikih, pembahasan ini berkaitan dengan pemahaman lafaz yang memiliki penggunaan secara bahasa dan secara syariat.
Kesucian secara bahasa dapat mencakup kebersihan dari kotoran atau najis. Adapun kesucian secara syariat dalam pembahasan wudu berkaitan dengan terangkatnya hadats melalui tata cara bersuci yang telah ditetapkan.
Oleh karena itu, ketika lafaz kesucian disebutkan dalam konteks hukum wudu dan mengusap khuf, jumhur memahami bahwa makna yang lebih tepat ialah kesucian syar’i.
Pemahaman ini semakin kuat dengan adanya hadis Shafwan yang secara khusus mengaitkan rukhsah mengusap khuf dengan keadaan suci ketika mengenakannya.
Keenam: Tarjih dan Kesimpulan Hukum
Berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan, pendapat jumhur fuqaha yang mensyaratkan kesucian secara sempurna ketika mengenakan kedua khuf merupakan pendapat yang lebih kuat (ar-rajih).
Hal ini didasarkan pada beberapa pertimbangan.
- Pertama, hadis al-Mughirah bin Syu’bah رضي الله عنه menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengenakan kedua khuf dalam keadaan suci dan menjadikan keadaan tersebut sebagai alasan untuk tidak melepaskannya ketika berwudu.
- Kedua, hadis Shafwan bin ‘Assal رضي الله عنه memperkuat persyaratan tersebut dengan mengaitkan kebolehan mengusap khuf dengan keadaan suci ketika mengenakannya.
- Ketiga, konteks kedua hadis berkaitan dengan ibadah thaharah. Karena itu, memahami kesucian sebagai kesucian syar’i lebih kuat daripada memahaminya sebatas kebersihan kedua kaki dari najis.
- Keempat, pendapat ini merupakan pendapat jumhur fuqaha dan didukung oleh pemahaman para ulama terhadap keseluruhan dalil dalam permasalahan tersebut.
Dengan demikian, seseorang yang hendak memperoleh rukhsah mengusap khuf hendaknya mengenakannya setelah menyempurnakan wudu yang sah, bukan sekadar setelah membersihkan kedua kaki dari najis.
Perlu diperhatikan bahwa rincian mengenai urutan mengenakan khuf setelah membasuh masing-masing kaki merupakan pembahasan tersendiri yang juga diperselisihkan oleh para fuqaha. Karena itu, persoalan tersebut tidak boleh disamakan begitu saja dengan perselisihan antara jumhur dan Dawud azh-Zhahiri mengenai makna kesucian.
Penutup
Persoalan ini mengajarkan bahwa rukhsah dalam syariat bukanlah keringanan yang terlepas dari ketentuan, melainkan kemudahan yang diberikan oleh Allah dengan batasan-batasan yang ditunjukkan oleh dalil.
Seorang muslim tidak cukup hanya mengetahui bahwa mengusap khuf diperbolehkan, tetapi juga perlu memahami syarat-syarat yang menjadikan rukhsah tersebut sah untuk diamalkan.
Sebab, kemudahan dalam beribadah tidak dibangun di atas keinginan manusia semata, melainkan di atas petunjuk Rasulullah ﷺ.
والله تعالى أعلم بالصواب، وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
Referensi:
- Shahih al-Bukhari, no. 206.
- Shahih Muslim, no. 274.
- ‘Abdurrazzaq ash-Shan’ani, al-Mushannaf, no. 793.
- Ibnu Khuzaimah, ash-Shahih, no. 193.
- Ibnu Hibban, ash-Shahih, no. 1325.
- Al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, 1/423.
- An-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, 1/512.
- Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fathul Bari, 1/309.
- Khalid asy-Syallahi, at-Tibyan fi Tabwib wa Takhrij Bulugh al-Maram, 2/47–51.






